Mayoritas Caregiver adalah Keluarga, Tanpa Pelatihan — Apa Maksudnya?


Masalah utamanya bukan keluarga tidak mau merawat, tetapi Keluarga menjadi caregiver karena kebutuhan, bukan karena kesiapan.

2026-01-03T08:00

Di Indonesia, sebagian besar lansia dirawat oleh anggota keluarga, bukan oleh perawat profesional. Biasanya yang merawat adalah anak perempuan, menantu perempuan, pasangan lansia, atau bahkan cucu. Ini terjadi karena budaya ngopeni, gotong royong, dan kewajiban moral merawat orang tua.

Namun, masalah muncul ketika caregiving dilakukan tanpa pelatihan sama sekali.

Keluarga seringkali tidak memiliki pengetahuan perawatan dasar. Banyak keluarga tidak tahu cara menangani hal-hal seperti memandikan lansia dengan aman, memindahkan dari tempat tidur ke kursi roda tanpa melukai punggung, mencegah luka tekan, menjaga nutrisi pada lansia yang sulit makan, atau menangani lansia dengan demensia yang sering bingung, lupa, atau marah. Akibatnya, risiko kecelakaan meningkat, lansia tidak nyaman, dan caregiver menjadi stres.

Selain itu, keluarga tidak terlatih mengatasi perilaku lansia dengan gangguan kognitif. Lansia dengan demensia atau Alzheimer dapat berkeliaran, berhalusinasi, menolak mandi atau makan, atau menjadi mudah marah. Tanpa pelatihan, keluarga sering frustrasi dan kelelahan, yang merupakan salah satu penyebab tertinggi caregiver burnout.

Karena kurang terlatih, kesalahan perawatan bisa menjadi berbahaya. Risiko yang sering terjadi antara lain memberi obat yang salah, waktu obat tidak teratur, cara memandikan tidak aman sehingga lansia terpeleset, salah cara mengangkat tubuh yang bisa menyebabkan cedera pada lansia atau caregiver, atau tidak menyadari tanda awal stroke atau infeksi. Padahal, hal dasar seperti bagaimana memeriksa tanda vital, hidrasi, dan posisi tidur sangat menentukan kesehatan lansia.

Keluarga yang menjadi caregiver sering juga memiliki peran ganda; mereka masih harus bekerja penuh waktu, mengurus rumah dan anak, serta mengelola keuangan. Tanpa pelatihan, perawatan menjadi tidak efisien dan penuh tekanan mental.

Terakhir, minimnya dukungan emosional dan sistem. Karena caregiving dianggap "kewajiban keluarga", banyak caregiver merasa bersalah jika butuh bantuan, tidak tahu bahwa teknik perawatan bisa dipelajari, tidak punya tempat konsultasi, dan tidak mendapat pelatihan dari puskesmas atau pemerintah. Padahal negara seperti Singapura, Jepang, dan Korea punya program pelatihan caregiver keluarga sebagai standar.

Kesimpulan

Masalah utamanya bukan keluarga tidak mau merawat, tetapi Keluarga menjadi caregiver karena kebutuhan, bukan karena kesiapan. Mereka memikul beban besar tanpa pelatihan, tanpa instruksi, dan sering tanpa dukungan. Akibatnya, kualitas hidup lansia dan caregiver sama-sama terpengaruh.

Geriatri,Lansia Indonesia,Geriatri Sehat,Menua Bahagia,Caregiver

ARTIKEL LAINNYA

Ajaklah Orangtua ‘Keliling Dunia'

Berkebun Yuk, Guna Usir Kejenuhan

'Apakah Boleh Kita Meminta dan Memilih Pulang?'

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026