Risiko Osteoporosis pada Lansia


Lansia sangat rentan karena massa tulang menurun seiring usia, terutama pada wanita setelah menopause (karena turunnya hormon estrogen).

2025-10-18T11:00

Osteoporosis adalah kondisi tulang menjadi rapuh, tipis, dan mudah patah akibat berkurangnya kepadatan mineral tulang. Lansia sangat rentan karena massa tulang menurun seiring usia, terutama pada wanita setelah menopause (karena turunnya hormon estrogen).

Mengapa Lansia Berisiko Tinggi?

Beberapa faktor utama yang menyebabkan lansia berisiko tinggi terkena osteoporosis adalah proses penuaan alami di mana sel pembentuk tulang bekerja lebih lambat dibanding sel perusak tulang. Perubahan hormonal seperti penurunan estrogen pada wanita dan testosteron pada pria juga berperan. Kurangnya aktivitas fisik atau gaya hidup banyak duduk dapat mempercepat pengeroposan tulang. Asupan gizi yang kurang, khususnya rendah kalsium dan vitamin D, juga menjadi penyebab. Selain itu, penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit ginjal, atau tiroid, serta penggunaan obat-obatan tertentu (misalnya kortikosteroid jangka panjang) dapat meningkatkan risiko.

Dampak pada Lansia

Dampak osteoporosis pada lansia meliputi mudahnya terjadi patah tulang, terutama pada pergelangan tangan, panggul, dan tulang belakang. Hal ini dapat menyebabkan nyeri kronis akibat patah kompresi tulang belakang dan perubahan postur menjadi bungkuk (kyphosis). Lebih jauh, osteoporosis dapat menurunkan kemandirian lansia, membuat mereka sulit bergerak, rawan jatuh, bahkan berujung pada depresi.

Pencegahan & Pengelolaan

Pencegahan dan pengelolaan osteoporosis melibatkan beberapa langkah penting. Asupan gizi yang cukup, tinggi kalsium (seperti susu rendah lemak, ikan, tahu/tempe, dan sayur hijau) serta vitamin D (dari ikan laut dan sinar matahari pagi) sangat dianjurkan. Aktivitas fisik yang teratur seperti senam osteoporosis, jalan pagi, tai chi, yoga ringan, atau latihan beban ringan juga penting. Menghindari faktor risiko seperti merokok, konsumsi alkohol, dan minuman bersoda berlebihan juga krusial. Pemeriksaan dini seperti BMD (Bone Mineral Density) dapat mendeteksi kepadatan tulang. Apabila sudah didiagnosis osteoporosis, terapi medis yang diberikan dokter bisa berupa obat-obatan seperti bisfosfonat, suplemen kalsium dan vitamin D, atau terapi hormon pada kondisi tertentu.

Data terakhir menunjukkan 75% lansia Indonesia berisiko osteoporosis — artinya 3 dari 4 lansia mungkin mengalami pengeroposan tulang jika tidak dicegah sejak dini.

Geriatri,Lansia Indonesia,Geriatri Sehat,Menua Bahagia ,Osteoporosis

ARTIKEL LAINNYA

Indonesia Semakin “Menua”, Keuangan Belum “Siap”

Makanan Kaya Kalsium yang Baik untuk Kesehatan Tulang

Memahami Hipertensi (10): Panduan dalam Menghadapi Kegawatan Hipertensi

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026