dr Lazuardhi : Pentingnya Pelayanan Terintegrasi Untuk Pasien Geriatri 


asien lansia tidak semestinya bepergian mengunjungi beberapa poli yang berjauhan dan berlainan waktu dan lain sebagainya. Seharusnya ada loket khusus contoh antrian pengambilan darah, rontgen hingga obat harusnya dikhususkan untuk lansia.

2025-09-15 11:12:08

Edukasi berkelanjutan dari para dokter terutama untuk dokter spesialis penyakit dalam, dokter umum dan para tenaga kesehatan yang melakukan pelayanan pada lansia adalah tujuan dari Simposium Bandung Geriatric update  ke-sembilan tahun 2025 yang diadakan di Hotel Aryaduta Bandung, Sabtu (13/9). Hal ini disampaikan dr. Lazuardhi Dwipa SpPD KGer dalam wawancara dengan Geriatri-ID. 

Ia mengakui kesadaran akan pelayanan kesehatan untuk lansia meningkat. “Tapi kami mengalami tantangan, situasi sosial politik yang tidak mendukung sehingga membuat orang ragu untuk bepergian. “ katanya menyikapi situasi terakhir Indonesia. 

Dokter Lazuardhi juga mengungkapkan bahwa masih ada ketidakpahaman tentang bagaimana mengerti para warga senior dalam memberikan pelayanan kesehatan yang memang mereka butuhkan. Itulah kenapa tema terkait ageism diangkat dalam simposium ini. 

“Banyak kesalahan konsep, kesalahan pemahaman hingga salah kebijakan, “ katanya. Ia mencontohkan yang sangat disayangkan Program Nasional Lansia yang seharusnya masuk ke program nasional kesehatan dihilangkan. “Tadinya sudah ada prognas khusus lansia tapi itu dihilangkan dan sudah empat tahun ini, “ ujarnya. 

Sehingga tadinya semua fasilitas kesehatan dari puskesmas hingga rumah sakit menyediakan pelayanan khusus lansia yang terintegrasi. Pasien lansia tidak semestinya bepergian mengunjungi beberapa poli yang berjauhan dan berlainan waktu dan lain sebagainya. Seharusnya ada loket khusus contoh antrian pengambilan darah, rontgen hingga obat harusnya dikhususkan untuk lansia. Tapi saat ini justru dihilangkan dari program nasional. Dampaknya perhatian para pemberi pelayanan kesehatan khusus lansia menjadi kurang diperhatikan. 

Dokter Lazuardhi menekankan pentingnya mengangkat isu ini. Ia menambahkan bahwa Indonesia oleh WHO dianjurkan untuk segera melakukan pelayanan yang terintegrasi. 

Ia juga menjelaskan bahwa hingga saat ini pelayanan medis sudah diberikan pada lansia tapi belum secara khusus juga tidak melihat aspek-aspek secara komprehensif. Ia menguraikan jika pasien lansia penyakitnya tidak hanya  terdiri dari jantung, paru, tulang rawan tapi harus secara utuh dimana kualitas hidup juga harus diperhatikan. “Pada titik itulah yang belum tersentuh sebenarnya hingga sekarang, “ tekan dokter yang juga menjadi Ketua PERGEMI cabang Kota Bandung. 

Ia menjelaskan jika selama ini pelayanan sudah diberikan selain jantung, diabetes dan hipertensi hanya pada masalah khusus sindrom geriatri yang paling sering adalah masalah nutrisi belum menjadi perhatian sehingga terjadi malnutrisi. 

“Banyak lansia belum mendapatkan nutrisi secara adekuat, “ katanya. 

Hal itu ditemukan di pelayanan komunitas di Kota Bandung. Di Puskesmas banyak pasien yang sudah ditangani organnya seperti diabetes, hipertensi atau jantungnya.  Tapi masalah nutrisinya belum ditangani. Ternyata pada nutrisi ini yang berpengaruh adalah masalah gigi geligi, depresi, isolasi, tinggal sendiri, tidak ada pendamping, kepikiran atau pengaruh masalah sosial. “Hal itu yang belum disentuh,” sebutnya prihatin. 

Laporan yang ada selama ini sudah ditangani pada permasalahan lansia  seperti jantung, stroke, diabetes, infeksi, TBC. Hanya ia mencontohkan ada dua orang lansia usia 70 tahun. Keduanya diabetes juga hipertensi dan keduanya sudah diberi obat. Ternyata satu pasien mengalami kepikunan dan yang lainnya menderita depresi, yang mana masalah sosial. Itu tidak tampak sebagai permasalahan karena pendekatannya belum secara keseluruhan. 

Ia menjabarkan sebenarnya jika sejak dua tahun yang lalu Kemenkes sudah melakukan hal itu masuk dalam standar pelayanan minimal di Puskesmas yaitu identifikasi masalah kesehatan khusus lansia. “Misal adakah lansia mengalami gangguan ingatan kognitif, sudah pikun atau belum. Pernah diidentifikasi atau tidak oleh Poswindu, di-screening hingga ke Puskesmas, “ lanjutnya. 

Ia menguraikan enam masalah yang perlu diteliti sejak di Poswindu dan Puskesmas. Masalah nutrisi, pendengaran, penglihatan, masalah bergerak atau mobilisasi dan kesehatan mental. “Masalahnya adalah setelah diidentifikasi tantangannya apakah ketika sampai di rumah sakit jika perlu dirujuk sudah siap belum? Sayangnya di rumah sakit programnya dihilangkan. “ lanjut dr. Lazuardi. 

“Bahkan  kami mengetahui sebanyak 24 layanan untuk lansia tidak masuk secara eksplisit. Artinya dianggap tidak ada itu sangat kami sayangkan, “ sesalnya. 

Hal itulah yang perlu diperjuangkan. Ia berharap melalui simposium ini dengan keterlibatan dimulai nakes, dokter umum, pegiat lansia sudah mulai memiliki kesadaran untuk selanjutnya diikuti para pemangku kebijakan. 

Ketika ditanya kaitannya dengan keluarga lansia sendiri. Dr. Lazuardhi mengatakan itu pasti menjadi perhatian tapi juga dari pemberi pelayanan. Puskesmas melalui kader apakah diidentifikasi masalah nutrisi secara aktif, jika tidak ditanya maka kemungkinan tidak akan terdata karena yang terlihat hanya masalah gula, jantung,  tekanan darah. “Kenapa fungsi-fungsi itu harus bagus, ujung-ujungnya supaya si lansia mandiri.”

Kualitas hidup yang baik dari lansia itu yang diharapkan. Pihaknya memiliki konsep SMART yaitu Sehat Mandiri Aktif dan bermartabat bagi para lansia. “Itu penekanan dalam simposium ini meningkatkan kehidupan yang lebih baik bagi pasien geriatri, “ kata dr. Lazuardhi menutup wawancara. 

Tulisan oleh Imas Nurhayati.

Geriatri,Lansia Indonesia,Menua Bahagia,Geriatri Sehat,Layanan Medis Lansia

ARTIKEL LAINNYA

Ajaklah Orangtua ‘Keliling Dunia'

Berkebun Yuk, Guna Usir Kejenuhan

'Apakah Boleh Kita Meminta dan Memilih Pulang?'

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026