
Lanjut usia atau lansia adalah hal alami dan tidak terbantahkan. Sayangnya menghadapi situasi lansia bagi kebanyakan orang justeru dianggap beban.
Orang tua dianggap renta lemah bahkan dianggap tidak mampu untuk mempelajari hal baru. Ini dikemukakan oleh Prof. Dr. Dr. Czeresna Heriawan Soejono, SpPD. KGer. MEpid MPH dalam kuliah pleno berjudul Ageism in Clinical Practice : The Hidden Enemy in Older Adult Healthcare (Ageisme dalam Praktek Klinis: Musuh Tersembunyi dalam Pelayanan Kesehatan Lansia) dalam acara Bandung Geriatric Update, Sabtu (13/9), di Bandung
Simposium yang digelar hybrid satu hari penuh membedah isu pelayanan geriatri di Indonesia yang melibatkan kolaborasi interdisiplin untuk solusi lansia yang komprehensif.
Ageism adalah sikap atau perlakuan yang mendiskriminasi berdasarkan usia. Dianggap jompo, pikun diabaikan karena dianggap wajar sudah tua adalah perilaku yang seharusnya tidak dialami lansia.
Sepanjang literatur yang dibaca oleh Prof. Heriawan mengenai pola asuh itu tidak ada kaitan secara langsung ketika dia masih kecil diperlakukan oleh orang tuanya dan ketika si anak sudah dewasa memperlakukan orang tuanya yang sudah lansia.
“Yang paling penting adalah jika anda menjadi tua apakah anda mau diperlukan seperti itu? Pasti jawabannya tidak! Lalu mengapa sekarang anda melakukan itu? “ Tegasnya menyikapi ageism.
Banyak ditemukan pasien dengan geriatri penampilannya tidak menarik, bau pesing, rewel, banyak permintaan, banyak menuntut. Padahal sebenarnya apa yang terjadi pada mereka saat itu seperti banyak mengompol bukan karena normal lansia tapi memang ada infeksi. Orang yang merawat tidak tahu jika itu infeksi dianggap itu bagian proses normal padahal itu salah dan penyakit infeksi saluran kencing bisa diobati. Jika infeksinya selesai maka mengompolnya selesai.
Prof. Heriawan yang telah menekuni bidang geriatri awal tahun 2000 ini menekankan perlunya edukasi dan kampanye positif untuk mengubah perilaku ageism. 23 tahun bergelut di bidang ini ia masih menemukan kendala luar biasa dari sisi kebijakan. Dihapusnya program nasional untuk program kesehatan lansia menunjukkan ketidakberpihakan pemerintah.
Di usianya yang sudah mencapai 65 yang juga berarti lansia ia bersyukur tidak mendapat perlakuan ageism. Profesinya sebagai dokter menjadi pelindung. Orang hormat dengan profesi dokter juga dengan para lansia yang masih produktif.
Secara umum lansia yang tidak bekerja mengalami ageism. Apa yang bisa dilakukan? “Tidak ada cara kecuali meningkatkan kesadaran lewat kampanye, aktivasi dan edukasi, “ kata mantan Direktur Utama RSCM Jakarta ini.
Tulisan oleh Imas Nurhayati
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri