Hati-hati Penggunaan Antibiotik yang Tidak Bijak Picu Resistensi Bakteri 


Berita Lansia - Penggunaan antibiotik yang tidak bijak menjadi penyebab utama munculnya bakteri yang kebal terhadap pengobatan, sebuah fenomena yang dikenal sebagai resistensi antimikroba (AMR). 

2024-09-27 08:59:51

Geriatri.id - Penggunaan antibiotik yang tidak bijak menjadi penyebab utama munculnya bakteri yang kebal terhadap pengobatan, sebuah fenomena yang dikenal sebagai resistensi antimikroba (AMR). 

Masalah ini berpotensi membuat pengobatan dan perawatan pasien semakin sulit.

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, dr. Azhar Jaya, SH, SKM, MARS, menyampaikan data AMR di Indonesia yang diperoleh dari laporan rumah sakit sentinel. 

"Pada tahun 2022, hasil pengukuran Extended-spectrum Beta-Lactamase (ESBL) menunjukkan angka 68% di 20 rumah sakit. Angka ini meningkat menjadi 70,75% pada tahun 2023 dari 24 rumah sakit yang sama," ujar Azhar dalam konpers di Jakarta, Selasa, 17 September 2024. 

Kenaikan ini menunjukkan tingginya resistensi pada bakteri Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae, yang berpotensi menyebabkan kematian dan menyerang berbagai sistem organ.

Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia

Untuk mendapatkan gambaran lebih akurat, Kemenkes berencana melakukan pengukuran di 56 rumah sakit sentinel pada akhir tahun 2024. 

Data dari WHO Global Antimicrobial Resistance and Use Surveillance System (GLASS) menunjukkan resistensi pada kedua bakteri tersebut terdeteksi melalui pemeriksaan spesimen darah dan urine pasien yang terinfeksi.

Dampak dari AMR sangat serius. Penanganan pasien dengan infeksi ini membutuhkan usaha ekstra. 

"Pengobatan untuk infeksi AMR sulit dilakukan karena terbatasnya pilihan obat, yang sering kali mahal atau tidak tersedia. Selain itu, diagnosis yang tepat juga memakan waktu," jelas Azhar. 

Ia menambahkan penggunaan antibiotik untuk infeksi AMR bisa menyebabkan efek samping serius dan berisiko tinggi.


Di sisi lain, penyebaran infeksi AMR dapat terjadi dengan cepat, terutama di rumah sakit sehingga diperlukan langkah-langkah pengendalian infeksi yang ketat. 

Biaya perawatan yang tinggi menjadi masalah lainnya, dengan waktu perawatan lebih lama dan dampak pada produktivitas pasien dan keluarga.

Menyadari dampak besar AMR, Kemenkes mendorong masyarakat lebih bijak dalam mengonsumsi antibiotik. 

Azhar memberikan beberapa imbauan penting yaitu menggunakan antibiotik hanya sesuai resep dokter, tidak menggunakan sisa obat, dan mempertanyakan penggunaan antibiotik untuk infeksi ringan. 

Ia juga menyarankan untuk menjaga kebersihan dan melakukan vaksinasi yang diperlukan.

Strategi Nasional Antimicrobial Resistance 2025-2029 bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dan kompetensi tenaga medis dalam pengelolaan antibiotik. 

Baca Juga: Tanya Jawab Masalah Kesehatan Jantung

"Pengawasan terhadap penggunaan antibiotik perlu dilakukan dengan baik, termasuk pencatatan dalam Rekam Medis Elektronik," tambahnya.

Dengan upaya ini, diharapkan Indonesia dapat mengatasi tantangan resistensi antimikroba dan melindungi kesehatan masyarakat secara lebih efektif.***

Sumber: Kemenkes

*Ilustrasi - Bakteri Escherichia coli.(Pixabay)

Video Senior Podcast

 


ARTIKEL LAINNYA

Kapan Lansia Membutuhkan Pendamping di Rumah?

Orangtua 'Wajib' Ikut Posyandu Lansia

10 Negara Tertua di Dunia: Usia Boleh Tua, tapi Tetap Eksis

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026