
Geriatri.id - Ada kecenderungan para lansia (lanjut usia) lebih berisiko terjatuh. Terkait hal ini, sebuah riset yang dilakukan di Jerman mengungkapkan ada beberapa tempat atau lokasi dimana orang yang sudah tua sering mengalami jatuh. Dimana saja?
1. Kamar Tidur
Kamar tidur biasanya area yang palng nyaman. Tapi ketahui bahwa ternyata kamar tidur juga menjadi tempat berisiko lansia terjatuh.
Karena itu, pastikan lingkungan di kamar tidur aman. Misalnya, periksa karpet apakah terbuat dari material yang licin atau ada tumpahan air di atasnya.
Atau, mungkin juga karpet sudah bolong-bolong, sehingga kaki lansia bisa saja tersangkut sehingga jatuh.
Selain itu, pastikan juga tidak ada kabel apapun di area lantai kamar tidur. Ini juga bisa menyebabkan lansia terjatuh.
2. Kamar Mandi
Kamar mandi boleh dibilang memiliki poteni bahaya bagi lansia.
Selain karena lantai licin juga pengaruh desain ruangan kamar mandi juga ternyata menimbulkan risiko jatuh bagi lansia.
Jadi, pastikan kamar mandi di rumah Anda tetap aman dan nyaman bagi lansia, ya.
3. Tangga
Nah, ini juga paling berisiko bagi lansia terjatuh. Tentunya naik atau turun tangga bagi sebagian usia lanjut sungguh merepotkan.
Apalagi bila kemudian pegangan tanggga juga tidak kokoh atau goyang. Pastikan juga penerangan di sekitar tangga karena bila malam tak begitu tampak jelas melihat anak tangga.
Lalu, bagaimana bila lansia mengalami jatuh di rumah? Berikut tips yang bisa dilakukan:
1. Hindari melakukan pijatan
Biasanya bila mendapati seseorang terjatuh, sebagian orang berinisiatif untuk memijat atau memanggil ahli pijat.
Padahal, pijatan apalagi bila keliru, justru bisa mengakibatkan cedera yang dialami lansia lebih parah.
Langkah terbaik adalah lakukan kompres di area yang skait dengan es batu setidaknya selama 2-3 menit untuk meredakan nyeri dan mengatasi bengkak.
2. Lakukan pemindaian tulang
Bawa lansia untuk dilakukan pemeriksaan oleh tenaga medis. Bila orang tua terjatuh dengan benturan yang keras dan merasa nyeri yang hebat, sebaiknya dilakukan pemeriksaan intensif.
Hal ini bertujuan untuk memastikan apakah ada indikasi cedera yang lebih parah, misalnya retak tulang, pergeseran sendi atau patah tulang.
Jadi, lakukan pemeriksaan komprehensif misalnya seperti X-ray, CT Scan, MRI atau Bone Scan.
Tujuannya untuk melihat seberapa tingkat keparahan cedera yang dialami lansia. Dengan begitu, bisa segera juga dilakukan tindakan. Atau pengobatan yang tepat.
3. Lakukan Fisioterapi
Nah, setelah dilakukan penanganan atau pengobatan atas cedera yang terjadi, lakukan juga upaya pemulihan yaitu dengan cara fisioterapi.
Adapun jenis fisioterapi yang diterapkan tergantung dari jenis dan tingkat keparahan cedera yang dialami.
Ada berbagai program fisioterapi yang bisa dijalani, misalnya memperkuat otot, latihan kardiovaskular, memperbaiki postur tubuh dan sebagainya.
Selain itu, ada juga teknik elektoterapi yang menggunakan daya listrik. Kemudian, fisioterapi manual oleh ahlinya seperti pemijatan, peregangan atau pelatihan resistensi tubuh.
Fisioterapi ini bisa dilakukan di rumah sakit atau pusat rehabilitasi bisa juga di rumah tergantung dari jenis cedera yang dialami lansia.
4. Perawatan sendi
Selanjutnya adalah perawatan atau pengobatan sendi.
Upaya ini dilakkuan untuk menormalkan sistem pergerakan tubuh dan meredakan nyeri.***(hil)
Foto: freepik.com
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri