Bolehkah Susu Jadi Pengganti Makanan Harian Lansia?


Berita Lansia - Susu merupakan sumber protein, kalsium, vitamin D, dan beberapa nutrisi penting lainnya yang sangat diperlukan oleh lansia. 

2024-09-08 20:27:47

Geriatri.id - Pertanyaan tentang apakah susu dapat menjadi pengganti makanan utama bagi lansia sering muncul, terutama ketika lansia menghadapi kesulitan makan akibat masalah kesehatan, penurunan nafsu makan, atau masalah pencernaan. 

Sementara susu memang menyediakan nutrisi penting, para ahli gizi memperingatkan bahwa menggantikan makanan dengan susu secara eksklusif mungkin bukan solusi yang ideal untuk memenuhi kebutuhan gizi harian lansia.

Susu merupakan sumber protein, kalsium, vitamin D, dan beberapa nutrisi penting lainnya yang sangat diperlukan oleh lansia. 

Harvard Health Publishing menegaskan bahwa protein dalam susu membantu menjaga massa otot, yang sering mengalami penurunan seiring bertambahnya usia. 

Baca juga: Kalender Kesehatan September 2024, Ada Peringatan Apa Saja?

Kalsium dan vitamin D juga sangat penting untuk menjaga kesehatan tulang dan mencegah osteoporosis, yang umum terjadi pada lansia.

Selain itu, susu mengandung lemak dan karbohidrat yang dapat menyediakan energi bagi tubuh. Namun, meskipun susu mengandung nutrisi penting, National Institute on Aging menyarankan bahwa kebutuhan gizi lansia tidak dapat dipenuhi hanya dengan mengonsumsi susu. 

Lansia membutuhkan asupan serat, vitamin, dan mineral lain yang ditemukan dalam berbagai jenis makanan, seperti sayur, buah, biji-bijian, dan protein lain seperti ikan atau daging.

Keterbatasan Susu sebagai Pengganti Makanan

Mengonsumsi susu sebagai pengganti makanan utama dalam jangka panjang dapat menyebabkan kekurangan gizi pada lansia. Meskipun susu menyediakan protein dan lemak, susu tidak mengandung cukup serat untuk mendukung kesehatan pencernaan. 

Kekurangan serat dalam pola makan dapat menyebabkan sembelit, yang sering dialami oleh lansia.

Selain itu, susu juga tidak menyediakan beragam mikronutrien yang dibutuhkan oleh tubuh. Vitamin C, vitamin A, magnesium, dan antioksidan penting lainnya tidak cukup banyak terkandung dalam susu. 


Jika lansia hanya mengandalkan susu, mereka berisiko mengalami kekurangan gizi yang dapat mempengaruhi kesehatan secara keseluruhan.

Jika lansia memiliki masalah makan karena kehilangan nafsu makan atau kondisi medis tertentu, penting untuk mencari alternatif yang dapat memenuhi kebutuhan gizi mereka. 

Selain susu, ada produk-produk suplemen gizi yang dirancang khusus untuk lansia, seperti minuman protein tinggi dan makanan pengganti yang lebih seimbang secara nutrisi. 

Minuman ini sering diperkaya dengan vitamin dan mineral yang dapat membantu melengkapi kekurangan dari pola makan yang tidak memadai.

Baca juga: Cara Turunkan Kolesterol Secara Alami dan Cegah Naik Lagi

Namun, yang terbaik adalah tetap mendorong lansia untuk mengonsumsi makanan padat yang kaya akan nutrisi. Misalnya, makanan lunak seperti pure buah, oatmeal, atau sup dapat menjadi alternatif yang lebih baik bagi lansia yang kesulitan mengunyah. 

Pendekatan terbaik adalah dengan mengombinasikan susu sebagai tambahan nutrisi, bukan sebagai pengganti makanan utama.

Makanan seimbang yang mencakup berbagai kelompok pangan masih menjadi pilihan terbaik untuk memenuhi kebutuhan gizi lansia.***

*Foto: Lansia sedang mengonsumsi susu. (Pixabay)

Video Lansia Inspiratif

 


ARTIKEL LAINNYA

Yoga Adalah Pilihan Olahraga Cerdas yang Bagi Lansia

1 dari 5 Lansia Indonesia Masih Merokok Setiap Hari, Ini Bahayanya!

Ini Manfaat bagi Si Pendonor

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026