Prevalensi Polifarmasi pada Lansia dengan Penyakit Kronis di Negara Berkembang


Berita Lansia - Penyakit kronis yang umum terjadi pada populasi lansia diantaranya penyakit kardiovaskular, kanker, diabetes melitus, demensia. 

2024-06-30 13:03:33

Geriatri.id - Dalam beberapa dekade terakhir, seiring dengan meningkatnya pertumbuhan populasi penduduk lansia, jumlah lansia dengan penyakit kronis juga meningkat secara drastis di berbagai negara. 

Penyakit kronis yang umum terjadi pada populasi lansia diantaranya penyakit kardiovaskular, kanker, diabetes melitus, demensia. 

Hal ini tentu selain menyebabkan gangguan pada fungsi fisik, juga dapat menimbulkan ketergantungan pada obat, biaya perawatan kesehatan yang tinggi, hingga memicu timbulnya risiko kematian. 

Sebuah penelitian menemukan sekitar 92% lansia cenderung memiliki sedikitnya satu kondisi kronis, seperti penyakit jantung, diabetes melitus, stroke, dan kanker. 

Kondisi kronis ini menyebabkan lebih dari dua pertiga kematian setiap tahun. 

Meningkatnya penyakit kronis di kalangan lansia, menimbulkan kerentanan untuk mengonsumsi banyak obat yang mengakibatkan polifarmasi.  

Polifarmasi didefinisikan sebagai konsumsi lima atau lebih obat setiap hari.

Hal ini dapat mempengaruhi berbagai aspek keamanan dalam pengobatan, termasuk peningkatan risiko obat yang berpotensi tidak tepat, ketidakpatuhan, reaksi obat merugikan, interaksi obat-obat, dan hasil kesehatan yang lebih buruk. 

Prevalensi polifarmasi dilaporkan tinggi di negara-negara berkembang, penelitian di Mesir dan Vietnam menyebutkan prevalensinya masing-masing 85,3% dan 59,2%. 

Karena itu, pemahaman komprehensif tentang prevalensi polifarmasi pada lansia menjadi perhatian utama, khususnya di negara-negara berkembang dengan jumlah populasi lansia dan penyakit kronis yang terus meningkat, termasuk Indonesia. 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan faktor risiko terjadinya polifarmasi pada pasien geriatri rawat inap saat keluar dari rumah sakit di Indonesia. 


Studi ini merupakan penelitian kohort retrospektif menggunakan rekam medis pasien rawat inap usia ≥ 60 tahun pada bulan Juli 2018 - Oktober 2019. 

Hubungan antara karakteristik demografi, karakteristik klinis, dan penyakit klinis dengan kondisi polifarmasi atau penggunaan lima obat atau lebih dinilai dengan menggunakan tiga model regresi logistik. 

Sebanyak 1.533 pasien diikutsertakan dalam penelitian ini. Sebagian besar pasien (78,21%) berusia antara 60 dan 74 tahun. 

Rasio pasien laki-laki dan perempuan hampir sama 49,83% dan 50,16%. Prevalensi polifarmasi pada pasien geriatri rawat inap pada saat pulang dari rumah sakit tergolong tinggi, yaitu 52.15%. 

Tingginya prevalensi polifarmasi berkaitan dengan 96,3% pasien yang dirawat di rumah sakit memiliki kondisi kronis dan 59,23% pasien memiliki penyakit penyerta yang dapat mengakibatkan peningkatan jumlah resep obat saat pulang. 

Hasil analisis regresi I menghasilkan bahwa pasien yang memiliki kondisi kronis dan komorbiditas memiliki risiko yang jauh lebih untuk mengalami polifarmasi pada saat keluar rumah sakit. 

Hasil penelitian juga menunjukkan pasien yang dirawat di rumah sakit selama lebih dari 7 hari memiliki skor Charlson Comorbidity Index (CCI) 3-4 atau moderate dan mendapat polifarmasi saat masuk rumah sakit; mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kemungkinan mengalami atau mendapatkan polifarmasi. 

Selain itu hasil dari analisis regresi II menunjukkan pasien yang mengalami infark miokard, gagal jantung kongestif, penyakit pembuluh darah perifer, penyakit serebrovaskular, penyakit paru obstruktif kronik, diabetes melitus, diabetes dengan komplikasi, penyakit ginjal, dan tekanan darah tinggi merupakan prediktor yang signifikan untuk polifarmasi. 

Dari hasil analisis regresi model III menemukan bahwa faktor risiko dari terjadinya polifarmasi adalah komorbiditas, lama rawat inap di rumah sakit (7 hari atau lebih), penggunaan polifarmasi saat masuk rumah sakit, infark mikoard dan Coronary Heart Disease. 

Polifarmasi adalah hal yang umum di Indonesia dan berkaitan dengan kondisi kronis tertentu dan faktor klinis lainnya. Upaya kolaborasi dari dokter dan apoteker diperlukan untuk meningkatkan keamanan penggunaan obat dan meminimalkan polifarmasi yang tidak tepat.(Penulis: Elida Zairina di unair.ac.id).*** 

Sumber: unair.ac.id

Ilustrasi - 

Ilustrasi - 

Baca Juga: 5 Pertanyaan Mengenai Hipertensi

Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia


ARTIKEL LAINNYA

Ajaklah Orangtua ‘Keliling Dunia'

Berkebun Yuk, Guna Usir Kejenuhan

'Apakah Boleh Kita Meminta dan Memilih Pulang?'

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026