
Geriatri.id - Seorang profesor di Fakultas Keperawatan UCF Victoria Loerzel telah meneliti orang lanjut usia (lansia) penderita kanker selama lebih dari satu dekade.
Dia bersama tim peneliti mengembangkan permainan edukasi inovatif untuk lansia penderita kanker.
Permainan rancangannya baru-baru ini menerima hibah 2,5 juta dolar AS untuk uji coba skala besar. Hibah itu dari Institut Kesehatan Nasional, Institut Penelitian Keperawatan Nasional.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Drugs & Aging menemukan dibanding orang berusia lebih muda, risiko lansia berusia 65 tahun ke atas lebih tinggi mengalami efek samping kemoterapi.
Mual dan muntah dapat menyebabkan dehidrasi, keracunan, dan rawat inap tambahan. Semua itu berdampak negatif pada aktivitas sehari-hari dan kualitas hidup.
Baca Juga: 5 Pertanyaan Mengenai Hipertensi
“Orang lanjut usia cenderung berpikir tindakan mereka untuk mengatur diri sendiri di rumah tidak akan berhasil, sehingga mengembangkan strategi 'tunggu dan lihat' yang dapat menimbulkan efek samping dan hasil negatif,” ujar Loerzel dikutip dari laman ucf.edu.
Game berbasis edukasi ini mensimulasikan kehidupan di rumah bagi lansia setelah pengobatan kemoterapi dan berlaku untuk penyakit kanker apa pun.
“Tidak masalah jenis kanker apa yang Anda derita. Keyakinan Anda tentang cara mengelolanya, dan cara Anda mengelolanya adalah konsisten,” kata Loerzel.
Pasien membuat keputusan untuk mencegah mual dan muntah serta memutuskan apa yang harus dilakukan jika hal itu terjadi.
“Mereka menempatkan diri mereka pada posisi avatar, membuat keputusan untuk dan melihat hasil dari keputusan tersebut,” jelasnya.
Game berbasis tablet yang hanya membutuhkan waktu 10 menit hingga 15 menit untuk diselesaikan, mensimulasikan periode tiga hari dengan waktu dan acara berbeda.
Dengan kemoterapi, pasien mengonsumsi obat, minum banyak cairan, dan menghindari makanan tertentu, termasuk makanan pedas, untuk meminimalkan efek samping mual dan muntah. Ini adalah pelajaran yang diperkuat permainan tersebut.
Sebuah studi pendahuluan dalam ruang lingkup kecil menunjukkan orang lansia yang menggunakan intervensi ini menggunakan strategi pencegahan dua kali lebih banyak.
“Mereka yang memainkan permainan ini bersikap proaktif dan tidak merasa mual, sementara kelompok kontrol menunggu sampai mereka mulai merasa sakit sebelum melakukan apa pun,” kata Loerzel.
Umpan balik dari pasien awal juga positif. Sementara orang dewasa yang lebih tua mengatakan game ini mudah digunakan dan bermanfaat.
Pendanaan penelitian baru ini akan mendukung studi multi-situs selama lima tahun untuk menguji permainan tersebut pada 500 orang lansia.
Studi ini akan memantau peserta hingga enam bulan untuk menentukan efektivitasnya dalam mengurangi keparahan gejala, rawat inap di rumah sakit, dan meningkatkan kualitas hidup.
Penelitian ini menjawab kebutuhan nasional yang penting untuk mengembangkan strategi baru guna meningkatkan hasil kesehatan bagi orang lansia penderita kanker.
Bagi Loerzel, kebutuhan akan game ini menjadi lebih jelas dan bersifat pribadi pada tahun lalu. Ketika itu ibunya didiagnosis menderita kanker payudara dan memainkan game tersebut.
Pengalaman bersama ibunya, yang sedang dalam masa remisi, memberi Loerzel pemahaman lebih baik tentang kehidupan di rumah bagi pasien dan keluarga mereka.
“Pendidikan bisa banyak membantu, tapi Anda tidak akan tahu apa yang akan dilakukan seseorang sampai mereka menyelesaikannya. Itu sebabnya saya ingin mempersiapkan orang-orang sebaik mungkin.”
Wawasan Kanker dan Penuaan
Sebagai perawat onkologi selama lebih dari dua dekade, Loerzel mulai memfokuskan penelitiannya pada lansia penderita kanker selama disertasi doktoralnya di UCF.
Pada saat itu, sebagian besar penelitian yang mengamati kualitas hidup penderita kanker didasarkan pada usia rata-rata 50 tahun.
“Tetapi usia 50 tahun sangat berbeda dengan usia 70 atau 80 tahun,” katanya berdasarkan pengalaman langsungnya sebagai perawat.
“Hal itulah yang memulai ketertarikan saya pada kelompok usia (lansia) ini dan bagaimana mereka menangani gejalanya, yang seringkali tidak sama sekali.”
Menurut National Cancer Institute, setengah dari kasus kanker terjadi pada orang berusia 66 tahun ke atas, yang populasinya terus bertambah di AS dan Negara Bagian Florida.
rawat Loerzel adalah perawat peneliti pertama yang mengidentifikasi kesalahan persepsi tentang cara lansia menangani gejala di rumah.
Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia
Dengan intervensi inovatif ini, dia menciptakan model permainan serius pada lansia yang menunjukkan manfaat penggunaan teknologi dalam pendidikan pasien.
“Saya ingin membuat pengalaman lansia pengidap kanker sedikit lebih baik,” katanya.
“Saya ingin mereka merasa baik dan menjalani kehidupan senormal mungkin selama menjalani pengobatan kanker,” pungkasnya.***
Foto: Permainan edukasi inovatif untuk lansia penderita kanker. (ucf.edu)
Video Lansia Online
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri