Ilmuwan Temukan Protein Pencegah Pembentukan Sel Zombie Pemicu Alzheimer


Berita Lansia - Ilmuwan telah menemukan sebuah protein yang dapat mencegah pembentukan sel zombie (sel dalam tubuh yang rusak dan tidak mau mati) dan memperlambat proses penuaan.

2024-01-12 09:05:43

Geriatri.id - Ilmuwan telah menemukan sebuah protein yang dapat mencegah pembentukan sel zombie (sel dalam tubuh yang rusak dan tidak mau mati) dan memperlambat proses penuaan.

Seiring bertambahnya usia, beberapa sel hidup lebih lama dari seharusnya dan, alih-alih dibersihkan, bertahan dalam tubuh menyebabkan penumpukan sampah seluler.

Sel-sel zombie ini meningkatkan risiko penyakit terkait usia, termasuk Alzheimer, gagal jantung, dan beberapa jenis kanker.

Sekarang, para peneliti di Jepang telah menemukan bahwa sebuah protein yang disebut HKDC1 sangat penting untuk membersihkan mitokondria yang rusak dan memperbaiki lisosom, yang diperlukan untuk mengurai dan membersihkan bagian sel yang sudah usang.

Baca Juga: 5 Pertanyaan Mengenai Hipertensi

Ketika mitokondria dan lisosom tidak berfungsi sebagaimana mestinya, sel-sel tidak berfungsi dengan baik dan menjadi zombie.

"Sel yang bersih tampaknya mampu menghentikan penuaan," yang berarti obat yang mengincar HKDC1 dapat mengobati penyakit terkait usia, menurut para ilmuwan.

Ilmuwan dari Universitas Osaka menemukan bahwa HKDC1 sangat penting untuk membantu meningkatkan tingkat TFEB, menjaga tingkat dua organel ini agar seimbang dan 'mencegah senescence sel' ketika sel hidup lebih lama dari seharusnya.

Dilansir dari dailymail, dalam penulisan jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, para peneliti mengatakan bahwa tingkat rendah HKDC1 menyebabkan 'dysfunction mitokondria' dan 'akumulasi lisosom rusak'.

Pada tingkat yang memadai, dengan menghentikan sel-sel yang bertahan terlalu lama, protein ini secara efektif membantu mengeluarkan sampah mitokondria dan membantu lisosom pulih dari kerusakan.


Penulis senior, Shuhei Nakamura, seorang asisten profesor di departemen genetika, mengatakan bahwa lisosom dan mitokondria berkontak satu sama lain melalui protein yang disebut VDACs.

Secara khusus, HKDC1 bertanggung jawab untuk berinteraksi dengan VDACs. Protein ini penting untuk kontak mitokondria-lisosom, dan dengan demikian, perbaikan lisosom.

Para peneliti sekarang berharap temuan ini dapat membuka jalan bagi pengembangan perawatan baru untuk melawan kondisi terkait penuaan.

Obat-obatan yang meningkatkan tingkat HKDC1 dapat meningkatkan kesehatan sel dan menangkal penuaan, demikian saran studi ini.

Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia

Sejauh ini, para peneliti belum sepenuhnya memahami bagaimana mitokondria dan lisosom diatur. Namun, mereka tahu bahwa sebuah protein yang disebut faktor transkripsi EB (TFEB) terlibat.***

Ilustrasi - Lansia penderita alzheimer.(Pixabay)

Video Lansia Online

lansia kanker,lansia alzheimer,lansia,lansia sehat,lansia bahagia,merawat lansia,berita lansia,lansia online,geriatri

ARTIKEL LAINNYA

Apa yang Harus Dilaksanakan Sebelum Caregiver Memulai Tugasnya

Renta Itu Apa? Ketika “Sudah Tua” Bukan Lagi Penjelasan yang Cukup

Singapura Putar Otak Wujudkan Negara Ramah Lansia

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026