
Geriatri.id - Gangguan tidur merupakan suatu hal yang sangat mengganggu bagi kesehatan yang seringkali dialami orang dewasa maupun lansia.
Namun gangguan tidur paling sering terjadi pada lansia. Ini terjadi karena banyak perubahan fisiologi yang normal pada lansia.
Meski tidak bersifat patologis, tetapi perubahan ini dapat membuat lansia lebih rentan terhadap beberapa penyakit.
Perubahan spesifik pada lansia dipengaruhi kondisi kesehatan, gaya hidup, stressor dan lingkungan.
Anggota keluarga perlu mengetahui proses perubahan normal itu sehingga dapat membantu adaptasi lansia terhadap perubahan, salah satunya perubahan neurologis.
Dalam sebuah tulisan disampaikan akibat penurunan jumlah neuron fungsi neurotransmitter juga berkurang.
Lansia sering mengeluh kesulitan tidur, kesulitan tetap terjaga, kesulitan tidur kembali setelah terbangun di malam hari, terjaga terlalu cepat, dan tidur siang berlebihan.
Baca Juga: 5 Pertanyaan Mengenai Hipertensi
Masalah ini diakibatkan perubahan usia dalam siklus tidur-terjaga.
Susah tidur pada lansia merupakan keadaan dimana individu mengalami suatu perubahan dalam kuantitas dan kualitas pola istirahatnya sehingga menyebabkan rasa tidak nyaman atau mengganggu gaya hidup yang di inginkan.
Gangguan tidur pada lansia jika tidak segera ditangani akan berdampak serius dan menjadi gangguan tidur kronis.
Dalam sebuah ulasan di sampaikan secara fisiologis, jika seseorang tidak mendapatkan tidur cukup untuk mempertahankan kesehatan tubuh dapat terjadi efek seperti pelupa, konfusi dan disorientasi.
Dalam sebuah penelitian disampaikan gangguan tidur pada lansia disebabkan beberapa faktor, yaitu kesehatan, penggunaan obat-obatan, kondisi lingkungan, stres psikologis, diet/nutrisi, gaya hidup.
Insomnia pada usia lanjut dihubungkan dengan penurunan memori, konsentrasi terganggu dan perubahan kinerja fungsional.
Perubahan yang sangat menonjol yaitu terjadi pengurangan pada gelombang lambat, terutama stadium empat, gelombang alfa menurun dan meningkatnya frekuensi terbangun di malam hari atau meningkatnya fragmentasi tidur karena seringnya terbangun.
Gangguan juga terjadi pada dalamnya tidur sehingga lansia sangat sensitif terhadap stimulus lingkungan.
Seorang dewasa muda normal akan terbangun sekitar 2-4 kali, tetapi lansia lebih sering terbangun.
Seringnya terbangun pada malam hari menyebabkan keletihan, mengantuk dan mudah tidur pada siang hari.
Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia
Artinya bertambahnya umur juga dikaitkan dengan kecenderungan tidur dan bangun lebih awal.
Dalam sebuah ulasan disampaikan adanya gangguan ritmik sirkadian tidur juga berpengaruh terhadap kadar hormon yaitu terjadi penurunan sekresi hormon pertumbuhan, prolaktin, tiroid, dan kortisol pada lansia.
Hormon-hormon ini dikeluarkan selama tidur dalam. Sekresi melatonin juga berkurang. Melatonin berfungsi mengontrol sirkadian tidur.
Sekresinya terutama pada malam hari. Apabila terpajan dengan cahaya terang, sekresi melatonin akan berkurang.
Dalam sebuah penelitian disampaikan dampak insomnia pada lansia antara lain mengantuk berlebihan di siang hari, gangguan atensi dan memori, mood depresi, sering terjatuh, penggunaan hipnotik yang tidak semestinya dan penurunan kualitas hidup.
Beberapa gangguan tidur dapat mengancam jiwa baik secara langsung (misalnya insomnia yang bersifat keturunan dan fatal dan apnea tidur obstruktif) atau secara tidak langsung misalnya kecelakaan akibat gangguan tidur.
Penelitian itu sesuai dengan data WHO yang menyebutkan di Amerika Serikat, lansia mengalami kecelakaan akibat gangguan tidur per tahun sekitar 80 juta orang, biaya kecelakaan yang berhubungan dengan gangguan tidur per tahun sekitar 100 juta dolar.
Faktor gaya hidup seperti kebiasaan merokok merupakan faktor terjadinya insomnia karena nikotin dalam asap rokok bekerja sebagai stimulan yang membuat penghisapnya tetap terbangun dan waspada.
Efek stimulan nikotin juga bisa menyebabkan individu mengalami “nicotine withdrawal” setiap malam. Akibatnya individu mengalami gangguan tidur atau insomnia.
Masalah lain dari kebiasaan merokok adalah batuk dan masalah yang berhubungan dengan kesulitan bernafas di malam hari yang akhirnya membuat gangguan tidur.
Faktor gaya hidup lainnya konsumsi kopi. Di dalam tubuh, kafein yang terkandung dalam kopi bisa diserap dengan cepat dan hampir sempurna.
Efek perilaku dari kafein meliputi perasaan meningkatnya energi, tetap waspada, menurunnya tingkat fatique dan rasa kantuk.
Mekanisme aksi kafein berhubungan dengan kemampuannya dalam menghambat pengeluaran adenosine.
Kafein menyebabkan peningkatan pengeluaran norepinefrin, epinefrin, dopamine dan serotonin, sehingga dapat membuat orang tetap waspada.
Setiap penyakit yang menyebabkan ketidaknyamanan (seperti nyeri, kesulitan bernafas), penyakit pernafasan seringkali mempengaruhi tidur, klien yang berpenyakit paru kronik, penyakit jantung koroner, hipertensi, nokturia atau berkemih pada malam hari, mengganggu tidur dan siklus tidur.
Lansia yang mempunyai sindrom kaki tak berdaya yang terjadi pada saat sebelum tidur mereka mengalami berulang kali kambuh gerakan berirama pada kaki dan tungkai.
Kunci mengatasi susah tidur malam adalah menjalani pola hidup sehat dan menerapkan kebiasaan tidur yang baik.
Selain itu menghindari aktivitas selain tidur di tempat tidur, termasuk makan karena dapat menurunkan kualitas tidur yang baik.***
Sumber: Yankes Kemkes
Ilustrasi: Gangguan tidur pada lansia.(Pixabay)
Video Lansia Online
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri