Risiko Perjalanan Udara Bagi Lansia


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi kesehatan, khususnya lansia selama penerbangan

2019-10-01 21:23:54

Oleh: dr. M. Sedijono, SpPD, KGer, SpKP, FINASIM

geriatri.id - Bepergian dengan menggunakan pesawat udara baik jarak dekat maupun jarak jauh saat ini sudah merupakan pilihan banyak orang karena dianggap paling nyaman, aman, cepat dan terjangkau.

Setiap tahun lebih dari 1 miliar orang melakukan perjalanan dengan penerbangan domestik maupun internasional dan di masa mendatang jumlahnya makin banyak.

Dengan meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut, penumpang usia lanjut juga akan meningkat.

Demikian pula dengan penumpang yang mengidap berbagai penyakit. Tua, muda, sehat, sakit, memilih penerbangan sebagai alat transportasi, tanpa disadari dalam keadaan tertentu penerbangan dapat memberi pengaruh pada kesehatannya.

Pada waktu terbang dengan pesawat komersial, tanpa disadari sesungguhnya penumpang berada dalam lingkungan yang secara fisiologis berbeda dengan yang biasa dialami sehari-hari di daratan.

Bagi yang memiliki gangguan kesehatan tertentu, penerbangan serta atmosfer dalam kabin pesawat dapat menimbulkan masalah bahkan bisa mencetuskan serangan akut penyakitnya.

Kodrat manusia adalah hidup di daratan, di Khatulistiwa, permukaan laut tekanan udaranya sebesar 760 mmHg atau 1 atmosfer.

Sementara, pesawat terbang komersial saat ini terbang di ketinggian 30.000-40.000 kaki atau sekira 10 ribu-12 ribu meter di atas permukaan laut dimana tekanan udaranya hanya 300-150 mmHg dengan suhu antara -40 sampai -60 derajat Celcius.

Pada ketinggian tersebut sebenarnya manusia tidak mungkin bisa bertahan hidup kecuali dilengkapi dengan peralatan khusus.

Karena itu, agar aman, maka diciptakan ruangan khusus yang disebut pressurized cabin, dimana penumpat tetap dapat melakukan aktivitasnya dengan aman dan nyaman.


Namun para ahli menyadari walaupun sudah dilengkapi dengan kabin bertekanan, dalam keadaan tertentu bagi penumpang, khususnya lansia dapat terpengaruh kesehatannya.

Sebab tekanan di kabin bertekanan sebenarnya tetap kurang dari 1 atmosfer sehingga bisa berpengaruh pada manusia.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi kesehatan, khususnya lansia selama penerbangan. Pertama, faktor fisiologis. Kedua, faktor fisik. Ketiga, faktor psikologis.

Perubahan fisiologis dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara atau disbarisme, tekanan parsial yaitu berupa penurunan kadar oksigen (hipoksia), dan perubahan waktu atau jet lag.

Pada lansia, dengan kemampuan fisiknya yang berkurang, terlebih memiliki berbagai penyakit, kondisi di dalam pesawat ini bisa lebih berat lagi dampaknya, pada kesehatan mereka.

Kondisi penurunan tekanan udara seperti dalam kabin pesawat, mengakibatkan terjadinya tekanan parsial oksigen atau O2 yang mengakibatkan organ tubuh yang memiliki udara akan mengembang.

Kondisi ini bisa mempengaruhi kesehatan lansia dengan gangguan pada paru-paru.

Demikian juga dengan lambung, dimana lambung yang mengembang bisa menyebabkan rasa sakit.

Karena itu, disarankan, sebelum terbang, tidak mengkonsumsi minuman yang mengandung gas, seperti soda.

Kemudian, lansia dengan gangguan pada sistem pernapasan seperti asma, sebaiknya menggunakan obat pereda asma sebelum naik pesawat. 

Berkurangnya kadar oksigen di kabin pesawat juga bisa membawa pengaruh bagi kesehatan lansia.


Sawar Darah Otak (membran pemisahan sirkulasi darah dari cairan ekstraselular otak) pada lansia umumnya sudah melemah, sehingga peka terhadap kondisi perubahan tekanan udara.

Jika oksigen berkurang, efeknya bisa terjadi kekurangan oksigen pada otak.

Pada taraf yang ringan hal ini bisa berpengaruh pada perilaku lansia, seperti mudah marah dan mengamuk, atau tertidur.

Pada taraf yang berat, kondisi kekurangan oksigen pada otak bisa mengakibatkan terjadinya kehilangan kesadaran.

Jadi semua kondisi ini harus diwaspadai bagi lansia yang bepergian dengan moda transportasi udara, terlebih jika terbang selama lebih dari 4 jam.***

lansia,rawat lansia,merawat lansia,geriatri,risiko penerbangan lansia,dr sedijono

ARTIKEL LAINNYA

Jepang Rekrut Atlet dan Binaragawan untuk Merawat Lansia

Memahami "Keributan" Suami-Istri di Usia Lansia

Semangka Juga Jadi "Penyelamat" Dehidrasi Tersembunyi pada Lansia

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026