Geriatri.id - Berjalan kaki merupakan salah satu aktivitas yang menyehatkan bagi orang lanjut usia (lansia). Mungkin belum banyak orang tahu, kecepatan berjalan dengan risiko demensia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut demensia atau penurunan daya ingat dan cara berpikir menjadi salah satu dari tujuh penyebab kematian utama dan salah satu dari penyebab utama disabilitas dan ketergantungan lansia secara global.
Dikutip dari CNN, sebuah studi baru menemukan hampir 17.000 lansia berusia di atas 65 tahun yang berjalan lima persen lebih lambat berisiko demensia. Studi itu dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open.
Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia
"Hasil (studi) ini menunjukkan pentingnya gaya berjalan dalam penilaian risiko demensia," tulis Taya Collyer.
Taya Collyer adalah peneliti Peninsula Clinical School di Monash University, Victoria, Australia.
Studi ini melibatkan sekelompok responden dari Amerika Serikat berusia di atas 65 tahun dan Australia berusia di atas 70 tahun. Peneliti mengikuti mereka dalam kurun waktu selama tujuh tahun.
Setiap tahun, mereka diminta melakukan tes kognitif. Tujuannya untuk mengukur penurunan kognitif secara keseluruhan, memori, kecepatan pemrosesan dan kelancaran verbal.
Dua kali dalam setahun, subjek juga diminta berjalan tiga meter, atau sekitar 10 kaki.
Dari dua hasil itu dirata-rata untuk menentukan gaya berjalan responden.
Di akhir penelitian, peneliti menemukan risiko demensia tertinggi terjadi pada mereka yang berjalan lebih lamban dan menunjukkan beberapa tanda penurunan kognitif.
"Selanjutnya, risiko orang dengan penurunan ganda memiliki risiko demensia lebih tinggi daripada mereka yang memiliki gaya berjalan atau penurunan kognitif saja," tulis Dr. Joe Verghese dalam editorial yang diterbitkan dalam jurnal JAMA.
Baca Juga: 5 Pertanyaan Mengenai Hipertensi
Dr. Joe Verghese merupakan profesor geriatri dan neurologi, di Albert Einstein College of Medicine di Bronx, New York.
Hubungan ganda antara kecepatan berjalan dan penurunan memori adalah prediksi demensia di kemudian hari.
"Gaya berjalan lebih lambat seiring bertambahnya usia mungkin merupakan gejala demensia di masa depan," kata peneliti.***
Ilustrasi - Lansia berjalan kaki.(Pixabay)
Video Lansia Online: