
Geriatri.id - Sarkopenia atau kehilangan otot yang berkaitan dengan usia mempengaruhi sistem muskuloskeletal dengan mempercepat penipisan dan hilangnya serat otot.
Penyembuhan luka penderita sarkopenia lebih buruk, mobilitas lebih rendah dan penyakit kronis.
Selain itu penderita sarkopenia juga mengalami penurunan kemampuan dalam menangani aktivitas normal sehari-hari.
Dilansir healthnews, penderita sarkopenia dua kali lebih mungkin dirawat di rumah sakit karena peningkatan kecacatan fisik dan penurunan fungsi.
Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia
Tidak ada tes pasti untuk mendiagnosa sarkopenia sehingga sering didiagnosis hanya sebatas gejala yang dilaporkan.
Pasien sering mengeluhkan sulit melakukan hal-hal kecil seperti membuka stoples atau menenteng tas belanjaan karena kekuatan tangan menurun. Selain itu, berjalan lebih lambat dan mudah lelah.
SARC-F atau tes skrining cepat dan kuesioner hanya dapat membantu mendiagnosis sarkopenia melalui kuesioner yang berhubungan dengan beberapa kategori.
1. Seberapa besar kesulitan saat mengangkat dan membawa 10 pound.
2. Seberapa besar kesulitan berjalan melintasi ruangan.
3. Tingkat kesulitan naik dari kursi atau tempat tidur.
4. Seberapa sulit menaiki 10 anak tangga.
5. Seberapa sering jatuh.
Tes lain yang disebut dalam penelitian dapat membantu mendiagnosis sarcopenia.
1. Dinamometer dapat menguji kekuatan genggaman tangan. Ini digunakan untuk menentukan apakah seseorang kehilangan fungsi di tangan yang merupakan gejala umum sarcopenia.
2. Absorptiometri sinar-X energi ganda (DXA) DIGUNAKAN UNTUK mengukur massa kerangka dan jaringan lunak.
Tes ini dapat membantu dalam membuat diagnosis saat digunakan bersamaan dengan tes kecepatan berjalan.
Sarkopenia juga dikaitkan dengan perkembangan kondisi kronis seperti gangguan menelan (disfagia), hipertensi, gagal jantung, kekakuan arteri, penyakit hati berlemak non-alkohol dan resistensi insulin.
Ini dapat menyulitkan penyembuhan luka dan penurunan respon imun, meningkatkan lama perawatan di rumah sakit atau rehabilitasi.
Tingkat kematian pasien sarkopenia 41 persen lebih tinggi.
Risiko lainnya, kehilangan kemandirian fisik yang signifikan.
Apakah sarkopenia bisa diobati?
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (AS) tidak menyetujui satu pun obat untuk Sarcopenia.
Namun, para peneliti berteori penggunaan hormon seperti testosteron atau hormon pertumbuhan manusia dapat meningkatkan massa otot tanpa lemak.
Selain itu, protein nabati atau hewani disarankan untuk pembentukan otot rangka, terutama pada lansia.
Protein dalam jumlah sedang dapat dikonsumsi saat sarapan, makan siang dan makan malam.
Rata-rata individu membutuhkan 60 g protein per hari untuk merangsang sintesis otot rangka.
Beberapa peneliti menyarankan rencana makan dengan 25g 30g protein hewani atau nabati berkualitas setiap kali makan.
Beberapa penelitian lainnya menyinggung peran nutrisi lain seperti vitamin D, magnesium, selenium, asam lemak omega-3, vitamin C, vitamin B6, vitamin B12, vitamin A dan karotenoid dalam mencegah hilangnya massa otot.
Namun nutrisi itu masih memerlukan penelitian lebih lanjut tentang dosis, frekuensi, dan durasi pengobatannya.
Baca Juga: 5 Pertanyaan Mengenai Hipertensi
Diet Mediterania
Beberapa peneliti mengaitkan diet Mediterania dengan protein sehat serta mengonsumsi buah dan sayuran dengan perlindungan terhadap kehilangan otot.
Namun, tidak ada studi aktual yang menunjukkan secara definitif bahwa diet Mediterania menurunkan kasus sarcopenia.
Perubahan gaya hidup lainnya untuk meningkatkan ukuran dan kekuatan otot, termasuk latihan kekuatan atau ketahanan.
Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki juga dapat membantu mencegah sarkopenia.
Meski hilangnya massa otot seiring bertambahnya usia tidak dapat dihindari, orang dapat mengurangi risiko sarkopenia yang melemahkan.***
Ilustrasi - Lansia.(Pixabay)
Video Lansia Terbaru:
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri