
Geriatri.id - Umumnya lansia identik dengan kondisi fisik yang menurun dan tidak produktif secara ekonomi. Usia yang semakin menua tanpa kemandirian finansial berpotensi menciptakan generasi sandwich.
Generasi sandwich adalah generasi dengan tanggung jawab ganda terhadap generasi di atasnya (orang tua atau mertua) sekaligus generasi di bawahnya (anak-anaknya) secara bersamaan.
BPS mengelompokkan lansia menjadi tiga kelompok umur yaitu lansia muda (kelompok umur 60-69 tahun), lansia madya (kelompok umur 70-79 tahun), dan lansia tua (kelompok umur 80 tahun ke atas).
BPS mencatat persentase penduduk lansia di Indonesia 10,82 persen dan di Provinsi Jambi 9,57 persen.
Penduduk lansia terkonsentrasi pada lansia muda 68,83 persen, sisanya 23,74 persen kelompok lansia madya dan 7,43 persen pada kelompok lansia tua.
Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia
Dikutip dari BPS Jambi, dibandingkan tahun 2020 dimana jumlah lansia Provinsi Jambi 7,90 persen, terjadi kenaikan jumlah penduduk lansia 2,92 persen.
Meningkatnya jumlah lansia seyogyanya menunjukkan peningkatan kualitas hidup.
Semakin sehatnya penduduk lansia sebanding dengan menurunnya jumlah kematian dan semakin panjangnya harapan untuk hidup.
Torehan catatan kependudukan yang menggembirakan ini tentu saja harus menghapus isu sosial ekonomi.
Lansia yang ada harus berdaya dan merdeka secara finansial dan bukan menjadi beban bagi negara.
Data menunjukkan 33,62 persen lansia di Provinsi Jambi tinggal bersama keluarga inti dan di urutan kedua atau 29,80 persen tinggal dalam keluarga besar bersama anak menantu dan cucunya (tiga generasi).
Peran lansia dalam rumah tangga juga sangat besar dimana 61,37 persen lansia berstatus sebagai KRT.
Sebagai KRT tentu saja lansia harus bertanggung jawab secara ekonomi dan kepemimpinan meskipun berada dalam satu rumah dengan anak yang telah berkeluarga.
Peran lansia dalam perekonomian dapat dilihat dari Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Pada 2021, peran lansia cukup besar mencapai 50,32 persen yang berarti dari 100 lansia terdapat 50 orang masih aktif melakukan kegiatan ekonomi (49,48 persen bekerja dan 0,83 persen belum mendapatkan pekerjaan dan menjadi pengangguran).
Baca Juga: 5 Pertanyaan Mengenai Hipertensi
Mengutip dari beberapa kajian ilmiah, motivasi lansia terlibat dalam aktivitas ekonomi diantaranya masih kuatnya kondisi fisik dan psikis sehingga masih bisa aktif bekerja atau mencari pekerjaan, kekhawatiran terjadi kemunduran fisik dan psikis jika tidak beraktivitas.
Selanjutnya, motif ekonomi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan masih memiliki tanggungan serta tidak ingin menjadi beban anak-anak, dan aktualisasi diri.
Lansia Jambi mayoritas bekerja pada sektor pertanian (66,95 persen), 24,84 persen bekerja pada sektor jasa, dan hanya 8,21 persen yang bekerja di sektor manufaktur.
Karakteristik pekerja lansia menurut pendidikan menunjukkan sebanyak 88,50 persen lansia tidak/belum pernah bersekolah, 74,89 persen tidak/belum tamat SD, dan 71,52 persen pendidikan SD/sederajat mayoritas bekerja pada sektor pertanian.
Kenyataannya, penduduk lansia Jambi memang masih terserap pada sektor yang tidak menuntut adanya kualifikasi pendidikan tertentu.
Sektor pertanian, pada umumnya hanya membutuhkan kekuatan fisik tanpa melihat ijazah yang dimiliki.
Ini berimbas pada pendapatan yang diterima dimana secara rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan sektor lainnya.
Lansia ternyata tidak menjadi penonton dalam pembangunan.
Mereka turut berkontribusi nyata meski dengan keterbatasan fisik dan pendidikan yang dimiliki.***
Ilustrasi - jambi.bps.go.id
Video Lansia Terbaru:
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri