Tingkat Harapan Hidup dan Perasaan Bahagia Lansia Malah Meningkat di Masa Pandemi COVID-19.


Berita Lansia - Pandemi COVID-19 dikhawatirkan tidak hanya mengganggu kesehatan fisik, tetapi juga mempengaruhi kesehatan mental kelompok lanjut usia (lansia).

2022-10-10 21:12:20

Geriatri.id - Pandemi COVID-19 dikhawatirkan tidak hanya mengganggu kesehatan fisik, tetapi juga mempengaruhi kesehatan mental kelompok lanjut usia (lansia).

Namun, survei pada sebagian besar penduduk dunia dan beberapa daerah di Indonesia menunjukkan kondisi kesehatan lansia tidak terkena dampak terlalu besar.

Tingkat harapan hidup dan perasaan bahagia lansia malah meningkat semasa pandemi COVID-19.

Lansia yang tinggal bersama anak dan cucunya pada masa pandemi cenderung memiliki tingkat harapan hidup lebih besar dibandingkan sebelum pandemi. Meski demikian, perlu riset lebih lanjut untuk membuat kebijakan penanganan krisis pandemi ke depannya.

Direktur Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian PPN/Bappenas Maliki mengatakan perubahan kesehatan mental lansia akibat COVID-19 tidak terlalu signifikan.

Baca Juga: Ancaman NAFLD dan Difesiensi Vitamin D Masih Menjadi Masalah Besar Bagi Lansia

Mneurut dia justru penduduk usia muda berusia 18–34 tahun yang mengalami stres di mana pengaruhnya cukup moderat. Sementara lansia 65 tahun ke atas lebih rendah.

"Namun kita akan mencoba melihat dari sisi kebijakan yang bisa kita tetapkan untuk menangani hal-hal seperti ini,” ujar Maliki pada Webinar The Well-Being of Older People During the Covid-19 Pandemic in Indonesia, beberapa waktu lalu.

Tingkat kesehatan mental lansia di Indonesia juga bergantung dengan siapa lansia tinggal.

“Adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa kota membuat terjadinya social distancing. Yang menarik ternyata untuk orang tua, social distancing itu bagian normal, di mana banyak orang tua yang tidak memiliki visitor, tidak ada pengharapan lain,” kata Maliki.

Sebanyak 12 persen lansia perempuan tinggal bersama pasangan. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan 27 persen lansia laki-laki.

Selain itu, 16,2 persen lansia perempuan tinggal sendiri jauh lebih tinggi dibandingkan lansia laki-laki sebanyak 5,7 persen.

Kelompok itu mengkhawatirkan apabila dibanding kelompok yang tinggal bersama pasangan atau dengan anggota keluarga lainnya.

Dari hasil riset, 9,7 persen penduduk lansia yang tidak puas dengan hidupnya mayoritas laki-laki. Angka ini sedikit meningkat dibandingkan sebelum pandemi.

Sebaliknya, 27 persen lansia yang merasa bosan selama pandemi adalah mayoritas perempuan. Tingkat kebosanan berbeda tergantung dengan siapa para lansia tersebut tinggal.

“Yang tinggal dengan anak-anak lebih banyak penurunan kebosanan dibandingkan dengan yang tinggal dengan pasangan,” katanya.

Maliki menambahkan perlu analisis lebih lanjut dalam membuat kebijakan terkait kesehatan lansia.

Pengumpulan data dengan dukungan komunitas dan teknologi yang mempererat komunikasi dengan keluarga diperlukan untuk meningkatkan kesehatan lansia.***

Foto: Lansia berolahraga. (Pixabay/dominic_winkel)

Video Lansia Terbaru:

lansia,geriatri,lansia sehat,lansia bahagia,lansia online,merawat lansia,berita lansia,pandemi covid-19

ARTIKEL LAINNYA

Ini Tips Saat Merawat Hipertensi di Rumah

Ajaklah Orangtua ‘Keliling Dunia'

Berkebun Yuk, Guna Usir Kejenuhan

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026