
Penulis: Husna Sabila
Geriatri.id - Mengompol, atau dalam bahasa medis dikenal sebagai enuresis, adalah kondisi ketika seseorang tidak mampu untuk menahan keluarnya air seni.
Menurut ketua Perkumpulan Kontinensia Indonesia, Prof. dr. Harrina Erlianti Rahardjo, Sp.U(K), Ph.D., mengompol dapat terjadi baik saat sadar, terbangun maupun ketika tidur.
Kondisi ini tidak terbatas terjadi pada usia anak-anak, tapi juga di usia dewasa sampai lansia.
Enuresis erat kaitannya dengan inkontinensia urin, yaitu kondisi hilangnya kontrol pada kandung kemih, sehingga tidak bisa menahan keluarnya urin/pipis.
Gangguan ini dapat menimbulkan beberapa masalah seperti adanya beban tambahan yang harus dikeluarkan untuk pengobatan, rasa malu yang harus ditanggung akibat ‘mengompol’ di tempat yang tidak seharusnya, atau perasaan-perasaan lain dari ketidaknyamanan tersebut.
Permasalahan gangguan berkemih ini banyak ditemukan pada kelompok usia lanjut. Umumnya, pada kondisi normal saraf parasimpatik akan memberikan stimulus yang menyebabkan otot-otot detrusor di kandung kemih berkontraksi.
Pengaturan atau kontrol pada kandung kemih dilakukan atas koordinasi dari otak, sistem saraf, dan organ yang terletak di pelvis atau panggul.
Pada lansia, efek penuaan akan berdampak terhadap peningkatan aktivitas otot detrusor kandung kemih dan penurunan rasa ingin berkemih.
Selain efek penuaan, gangguan berkemih juga dapat disebabkan oleh beberapa kondisi kesehatan lainnya seperti infeksi saluran kemih, polyuria nocturnal, gangguan prostat, serta permasalahan lainnya yang perlu pemeriksaan medis terlebih dahulu.
Permasalahan gangguan berkemih pada lansia dapat diantisipasi dan diatasi dengan beberapa cara.
Umumnya, cara-cara yang ditempuh untuk mengatasi masalah gangguan berkemih ini yaitu mulai dari mengenakan popok, lebih memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi—kalau perlu diet, menjaga berat badan dalam rentang ideal dan sehat.
Cara lain adalah menghindari dehidrasi, atau dengan melakukan tindakan pijat uretra untuk mengurangi perasaan tidak tuntas setelah pipis.
Selain itu, lansia dan keluarga Indonesia juga dapat mengunjungi dan berkonsultasi dengan dokter yang menangani lansia agar mengetahui dengan benar diagnosa dari gangguan berkemih yang dirasakan lansia, dan dapat memperoleh obat atau terapi lain yang disarankan oleh dokter.***
Baca juga
Beda Lupa (Biasa) dengan PIkun
Musik Bantu Kembalikan Ingatan Penderita Demesia
5 Pertanyaan Mengenai Hipertensi
Video Lansia Online soal "Gangguan Berkemih pada Lansia"
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri