Jangan Tunggu Sampai Tua, Kesehatan Otak Bisa Dijaga Sejak Dini


Berita lansia - Seiring usia otak akan mengalami penyusutan baik dari segi volume maupun kemampuan fungsi kognitifnya. Namun, kabar baiknya, kemungkinan risiko yang muncul akibat penurunan tersebut dapat dicegah atau diminimalisir.

2022-04-02 07:15:17

Penulis: Husna Sabila

Geriatri.id - Seiring usia otak akan mengalami penyusutan baik dari segi volume maupun kemampuan fungsi kognitifnya.

Namun, kabar baiknya, kemungkinan risiko yang muncul akibat penurunan tersebut dapat dicegah atau diminimalisir.

Demikian antara lain yang penjelasan dr. Fasihah Irfani Fitri, MKed (Neu)., Sp.S(K)., dari Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) / RSU USU dan RSUP Haji Adam Malik, Medan, saat menjadi narasumber program Lansia Online (LOL) yang ditayangkan Geriatri TV pekan lalu.

Ia mengatakan, otak manusia memiliki kemampuan yang disebut Cognitive Reserve, yaitu kemampuan memunculkan stimulus (rangsangan) untuk memberikan kompensasi dari fungsi-fungsi kognitif otak yang hilang atau menurun.

Faktor-faktor pendukung yang dapat memunculkan stimulus tersebut di antaranya:

1. Stimulus otak dan mental

Stimulus otak dan mental dapat dilakukan dengan berbagai macam kegiatan seperti:

  • Membaca dan menulis
  • Bermain puzzle
  • Traveling. Membuat perencanaan perjalanan akan menstimulus salah satu fungsi kognitif otak yaitu fungsi perencanaan
  • Mengisi TTS (Teka Teki Silang), berpikir, dan bermain catur.
  • Merajut. Faktanya, kegiatan merajut dapat mengaktifkan kedua belahan otak. 
  • Belajar bahasa asing—yang berguna untuk meningkatkan sinaps/sambungan-sambungan di otak serta meningkatkan cognitive reserve
  • Mengaji 

2. Gaya hidup aktif


Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan lansia untuk mendukung gaya hidup aktif yaitu:

  • Berkebun atau aktivitas luar ruangan lain yang menyenangkan bagi lansia
  • Berolahraga dengan mempertimbangkan kemampuan dan kondisi kesehatan lansia. Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau terapis yang mendampingi lansia. 

3. Stimulus kehidupan sosial, yaitu dengan kegiatan-kegiatan yang menghadirkan perasaan bahwa lansia merupakan bagian dari suatu lingkungan sosial.

Hal ini dapat dilakukan dengan bergabung dengan suatu komunitas, mengobrol dan berinteraksi dengan tetangga, dan aktivitas lain yang memungkinkan lansia memiliki keterikatan sosial dengan sekitarnya.

4. Aktivitas fisik yang dapat disesuaikan dengan kemampuan mobilitas lansia. 

Lebih lanjut, dr. Fasihah, yang juga Koordinator Wilayah (Korwil) Medan Yayasan Alzheimer Indonesia (ALZI) ,  menjelaskan hal-hal yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan otak, termasuk untuk mencegah terjadinya demensia-alzheimer, yaitu dengan mengendalikan faktor risiko yang bisa kita modifikasi dan ubah.

Hal ini bahkan bisa mengurangi risiko demensia hingga 40%. Faktor-faktor yang bisa kita ubah dan modifikasi yaitu

1. Fase awal kehidupan—usia muda

  • Dengan mengupayakan pendidikan yang tinggi

2. Fase pertengahan

  • Mencegah dan mengatasi permasalahan yang berhubungan dengan gangguan pendengaran
  • Mencegah cedera kepala
  • Mengupayakan hidup sehat dan menghindari hipertensi
  • Tidak mengkonsumsi alkohol diluar batas 
  • Pola hidup sehat dan mencegah obesitas

3. Fase akhir/fase tua

  • Berhenti merokok
  • Mengupayakan bahagia, mindful dan menghindari depresi
  • Terlibat dalam hubungan sosial—mencegah diri dari isolasi sosial
  • Gaya hidup aktif
  • Sebisa mungkin menghindari polusi udara 
  • Sebisa mungkin terbebas dari risiko diabetes

Penjelasan dr. Fasihah memberikan pandangan bahwa proses menjaga kesehatan otak lansia bahkan dapat dimulai sejak usia dini dan terus berlangsung sepanjang fase kehidupan manusia.

Selain itu, upaya yang dapat dilakukan pun tidak terbatas pada hal serius yang perlu penanganan ahli, namun bisa dilakukan dari rumah oleh orang terdekat atau bahkan oleh lansia sendiri. 

Saksikan tayangan lengkap Lansia Online (LOL) bertema “Otak Sehat Sepanjang Usia” pada video di bawah ini:

 

penyakit lansia, lansia sehat, geriatri, merawat lansia, demensia,dementia, alzheimer,lansia,lansia bahagia,lansia online,berita lansia,demensia

ARTIKEL LAINNYA

Ajaklah Orangtua ‘Keliling Dunia'

Berkebun Yuk, Guna Usir Kejenuhan

'Apakah Boleh Kita Meminta dan Memilih Pulang?'

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026