Hoaks Seputar Vaksin Covid-19 di Indonesia


Berita Lansia - Hingga kini progam vaksinasi dosis lanjutan (booster) COVID-19 seperti kurang diminati oleh masyarakat Indonesia. Hoaks disebut-sebut sebagai salah satu faktor penyebab hal tersebut.

2022-03-04 17:55:26

Penulis: Husna Sabila

Geriatri.id - Hingga kini progam vaksinasi dosis lanjutan (booster) COVID-19 seperti kurang diminati oleh masyarakat Indonesia. Hoaks disebut-sebut sebagai salah satu faktor penyebab hal tersebut.

Persebaran mengenai hoaks -- informasi yang salah bahkan sesat-- vaksinasi Covid-19 ini umumnya berbedar melalui pesan aplikasi online seperti whatsapp. Untuk mencegah beredarnya informasi yang salah, kementerian kesehatan RI melalui laman Covid19.go.id telah memaparkan fakta-fakta terkait hoaks yang beredar di masyarakat.

Hoaks

:

Vaksin COVID-19 tidak berguna, sebab akan bermutasi menjadi banyak varian baru

Faktanya

:

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Lembaga Eijkman, Prof. Amin Soebandrio menjelaskan bahwa mutase virus Covid-19 tidak akan mempengaruhi kinerja vaksin Covid-19. 

Hoaks

:

Penerima vaksin booster COVID-19 harus melakukan uji HIV karena Vaksin booster mengandung protein virus HIV

Faktanya 

:

Ahli Imunologi, Vineeta Bal menjelaskan bahwa vaksin Covid-19 tidak dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap virus HIV. Lebih lanjut Dr. Bnar Talabani menegaskan bahwa tidak ada kemungkinan vaksin covid-19 dapat menularkan dan menyebarkan HIV maupun Aids. 

Hoaks

:

Melakukan swab PCR sama dengan melakukan vaksinasi Covid-19

Faktanya 

:

Berdasarkan berita yang dirujuk, ketika ditelusuri ternyata terdapat penyalahartian informasi. Tidak ada penyebutan bahwa tes PCR dapat menggantikan vaksinasi Covid-19 karena memang faktanya kedua hal tersebut berbeda.

Hoaks 

:

Vaksin Covid-19 mengandung MSG, formalin, Alumunium, dan zat berbahaya lainnya.

Faktanya 

Pernyataan tersebut tidak benar. Vaksin COVID-19 berisikan fragmen materi genetic dari virus Covid-19 dan tidak mengandung alumunium, formalin, boraks, atau zat berbahaya lainnya.

Merujuk pada data vaksinasi dari situs kementerian kesehatan RI, hingga artikel ini diturunkan, tingkat vaksinasi dosis booster baru mencapai 5,50% atau 11.457.714 orang. Dari angka itu, baru sekitar 1,5 juta lansia yang sudah divaksin booster.

Saling bergotong-royong dalam memberikan edukasi memang baik, namun sebelum menyebarkan suatu informasi ada baiknya kita meninjau ulang keabsahan berita dan informasi yang kita terima tersebut. Pastikan bahwa informasi yang kita terima kredibel sumbernya dan benar isi beritanya, sehingga kita terhindar dari mempercayai dan menyebarkan berita salah yang merugikan. 

 

Baca juga:

Keluarga Diminta Lebih Terlibat dalam Vaksinasi Lansia

Ompong pada Lansia Ternyata Berpengaruh pada Fungsi Otak Kognitif

Agar Aman, Yuk Dampingi Lansia dalam Menjelajahi Internet

 

Video Lansia:

 

covid-19,covid 19, lansia sehat,geriatri, lansia bahagia, vaksinasi lansia, vaksin lansia,lansia,lansia online,merawat lansia,berita lansia

ARTIKEL LAINNYA

Asia Menua Cepat, Alarm bagi Krisis Tenaga Kerja dan Kesehatan Lansia

Cegah Ompong? Gampang Kok Asal Rajin

Pengalaman Saya di Tanah Suci

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026