Protokol Kesehatan Terintegrasi bagi Lansia Cegah Covid-19


Berita Lansia - dr. Ni Ketut Rai Purnami, SpPD K-Ger dalam webinar Menjaga Kesehatan Lansia di Masa Pandemi memberikan pemaparan pentingnya menjaga 5+1M secara simultan atau terintegrasi.

2021-07-01 15:44:36

Geriatri.id--Pandemi Covid-19 saat ini sedang memasuki yang disebut dengan gelombang kedua. Di masa seperti ini, kelompok lanjut usia mendapatkan perhatian khusus. Kenapa lansia? Karena lansia kelompok yang lebih rentan terkena covid 19.

Pada populasi lansia kejadian yang meninggal paling tinggi dan belum lagi yang dirawat. dr. Ni Ketut Rai Purnami, SpPD K-Ger dalam webinar Menjaga Kesehatan Lansia di Masa Pandemi memberikan pemaparan pentingnya menjaga 5+1M secara simultan atau terintegrasi.

Manusia selama masih hidup akan terpapar oleh inflamasi yang berkesinambungan dan dalam jumlah kecil. Jika terjadi dalam jangka panjang maka akan mengubah semua apakah itu sistem imun yang alami atau secara fisik kulit. ”Sel-sel tidak akan sama lagi,” ujar dr. Rai.

Kelompok lanjut usia atau lansia adalah manusia dengan usia lebih besar sama dengan 60 tahun.  Lansia rentan terserang berbagai penyakit, termasuk penyakit infeksi seperi infeksi pneumonia, influenza dan covid-19. Oleh karena itu, penting untuk tetap taat pada 5+1M demi mencegah Covid-19 semakin meluas.

Berita Lansia:

LANSIA ONLINE, Kelas Kesehatan dari Rumah

Bila Lansia Sakit, Begini Cara Tepat Merawatnya

3 Kunci Sukses Agar Lansia Sehat, Apa Saja?

Menjadi Lansia Sehat dan Bahagia Tanpa Kerentaan

5M adalah memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menjauhi kerumunan dan mengurangi aktifitas. Pemerintah baru-baru ini menambahkan 1M lagi yaitu menghindari makan bersama di luar. 

Menurut dr. Rai pencegahan dengan menerapkan 5+1M ini harus dilakukan secara terintegrasi. Sehingga bisa menjadi strategi pencegahan infeksi covid-19 dengan hasil yang baik. Kenapa 5+1M harus dilakukan secara simultan? Karena selain Covid-19 adalah penyakit baru, dari kajian yang terus dikembangkan, terbukti pencegahan adalah hal yang paling efektif.

Covid-19 ini adalah infeksi yg disebabkan oleh virus. Tidak seperti bakteri yang bisa dilakukan  tes suseptibilitas sehingga dapat ditentukan antibiotik mana yang cocok. Atau bisa dilakukan juga pengobatan langsung. Tidak demikian dengan infeksi, harus melakukan upaya maksimal sebelum menjadi parah.

Sampai saat ini, tipe penularan virus covid masih terus dipelajari. Jika itu melalui udara atau aerosol, maka pemakaian masker harus benar. Tidak lupa untuk membersihkan tangan sebelum memakai masker, juga sebelum dan sesudah melepasnya. Pastikan masker menutupi hidung, mulut dan dagu. Saat melepas masker, simpan dalam wadah yang bersih dan setiap hari cuci jika itu adalah masker kain atau buang masker medis ke tempat sampah. “Jangan gunakan masker dengan katup,” ujar dr. Rai.

Menjaga jarak sejauh 1-2 meter dapat mencegah penularan langsung melalui aerosol atau udara. Droplet yang keluar dari bersin atau berbicara, kemudian bisa menyebar. Jika tidak menjaga jarak maka bisa mencapai saluran nafas orang yg belum terinfeksi.

Menjaga jarak atau menjaga ruang aman antara anda dengan orang lain yang tidak serumah. Penyebaran bisa terjadi ketika orang yang terinfeksi batuk bersin atau berbicara dan tetesan dari mulut dan hidung mereka diluncurkan ke udara. Jarak sosial ini sangat penting bagi orang-orang yang beresiko lebih tinggi seperti lansia.

Mencuci tangan juga efektif mencegah virus secara langsung kontak dengan hidung dan mata. Dengan nencuci tangan, bisa menghilangkan virus yang mungkin menempel di permukaan yang disentuh. Virus bisa hidup berjam-jam tergantung sinar matahari dan kelembaban.

Hal lain lagi adalah menghindari kerumunan dan hindari ruangan yang tertutup. Jikapun harus bertemu, usahakan di tempat ramai dengan ventilasi yang memadai. Mengurangi mobilitas dan menghindari makan bersama di tempat umum. “Karena pada saat makan otomatis harus membuka masker,” ujar dr. Rai.

Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan social distancing bagi lansia. Karena, social distancing bisa menimbulkan perasaan bosan dan kesepian pada lansia. Oleh sebab itu, melakukan aktifitas fisik yang aman seperti senam, yoga, masak dan berkebun bisa membantu mengurangi kebosanan pada lansia. 

dr. Rai kembali menegaskan tidak ada 1 metodepun yang 100% bisa mencegahCovid-19. Oleh sebab itu yang bisa kita lakukan adalah berusaha melakukan pencegahan. Salah satunya dengan penerapan 5+1M yang harus dilakukan secara terintegrasi. Pencegahan harus dilakukan dengan efektif dan benar. (Dewi Retno untuk Geriatri.id | Foto Pixabay)

Lansia,Covid-19,Vaksinasi,Ni Ketut Rai Purnami,Geriatri Bali,lansia sehat,lansia bahagia,lansia online,berita lansia,merawat lansia,geriatri

ARTIKEL LAINNYA

Ini Tips Saat Merawat Hipertensi di Rumah

Ajaklah Orangtua ‘Keliling Dunia'

Berkebun Yuk, Guna Usir Kejenuhan

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026