
Geriatri.id - Semakin banyaknya ditemukan jumlah kasus Covid-19 akibat varian baru, menimbulkan pertanyaan mengenai efektifitas dari vaksin yang ada. Saat ini varian baru yang masuk dalam daftar varian of concern adalah varian B1117, B1351, B11281 atau P1 dan B1617.
Berdasarkan penemuan ilmiah, varian-varian ini terbukti mengalami perubahan karakteristik baik satu atau lebih. Sifatnya lebih menular, menimbulkan gejala yang lebih parah dan menurunkan efikasi vaksin.
“Selain itu juga menurunkan keandalan pengobatan serta akurasi alat uji yang sudah ada,” papar Juru Bicara Satgas Covid-19, Profesor Wiku Adi Sasmito, dalam keterangan pers, 01/06/2021.
Menurut Prof Wiku, berdasarkan temuan ini, maka telah dilakukan penelitian oleh WHO untuk menguji efiktifitas vaksin. Dari hasil penelitian didapati beberapa varian memiliki besaran pengaruh dengan skala sedikit hingga sedang terhadap angka efikasi tiap vaksin. Berikut hasil penelitian yang didapat oleh WHO mengenai pengaruh varian baru terhadap efikasi vaksin:
Varian B1117, memengaruhi efikasi vaksin Astra Zeneca
Varian B1351, memengaruhi efikasi vaksin Moderna, Pfizer, Astra Zeneca dan Novavax
Varian B11281 atau P1, memegaruhi efikasi vaksin Moderna, Pfizer
Varian B1617, memengarui Moderna dan Pfizer
Prof Wiku menjelaskan pengaruh varian terahadap efikasi vaksin ini masih bersifat sementara dan masih bisa berubah. “Tergantung hasil studi lanjutan yang sedang dilakukan,” ujarnya.
Perubahan efikasi vaksin ini terjadi karena seluruh vaksin yang dikembangkan dan digunakan saat ini masih menggunakan virus yang belum bermutasi atau original dari Wuhan. Di mana virus pertama kali ditemukan dan kejadian infeksi pertama terjadi.
Sebagai tambahan, perubahan efikasi vaksin atau kemampuan vaksin dalam mencegah penyakit pada penerima vaksin tidak membuat besar efikasinya turun di bawah 50%. Angka tersebut merupakan ambang batas minimal efikasi yang ditolerir oleh WHO untuk sebuah produk vaksin yang layak. “Bahkan beberapa diantaranya masih memiliki efikasi 90%,” tambah Prof Wiku.
Lebih lanjut Prof Wiku menekankan, fakta ini patut menjadi pengetahuan banyak pihak dan menjadi dasar untuk semakin siaga. Khususnya terhadap kasus penularan karena importasi atau akibat dari para pelaku perjalanan internasional. Sehingga perlu lebih mengefektifkan testing dan karantina pelaku perjalanan internasional.
“Demi menekan bertambahnya varian yang masuk, karena saat ini yang terdeteksi berdasarkan Whole Genome Sequencing (WGS) 4 dari 8 varian akibat mutasi Covid-19,” ujarnya.
Selain itu perlu digiatkan WGS secara komplit untuk mengetahui distribusi secara tepat. Hasilnya bisa menjadi dasar kebijakan pengendalian yang spesifik sesuai resiko per daerah. Penegakkan prokes juga harus terus dilakukan, demi mencegah kemunculan varian baru atau gabungan.
Juga demi menurunkan peluang kemunculan varian baru. Karena mutasi akan menjadi lebih masif saat penularan di masyarakat tinggi. Hal lainnya adalah melanjutkan vaksinasi, karena vaksin masih efektif untuk mencegah penyakit dan menghindari gejala parah pada kasus positif.
Prof Wiku kembali menegaskan fungsi dari vaksin Covid-19 adalah untuk melakukan pencegahan terhadap Covid-19. Selain itu vaksin juga untuk mencegah gejala keparahan jika terinfeksi positif. Ia juga mengingatkan vaksin Covid-19 ini bukan diperuntukkan untuk melakukan pengobatan. “Pengobatan masih dalam pengembangan. Upaya terbaik adalah disiplin prokes dan melakukan kegiatan vaksin,” katanya. (Dewi Retno untuk Geriatri.id | Foto Pixabay)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri