
Geriatri.id - Sebuah penelitian yang dilakukan Gero, sebuah perusahaan bioteknologi yang berbasis di Singapura mengungkapkan, manusia sebenarnya bisa hidup hingga usia antara 120-150 tahun.
Riset tersebut menjelaskan, ketahanan tubuh manusia benar-benar hilang pada usia antara 120 dan 150 tahun. Pada usia tersebut, tubuh kehilangan semua kemampuan untuk pulih dari hampir semua pemicu stres.
Mulanya para peneliti ingin mengetahui seberapa baik tubuh manusia bangkit kembali dari penyakit, kecelakaan, atau apa saja yang memberi tekanan pada sistemnya. Hasilnya diketahui, kemampuan manusia bangkit dari berbagai masalah tersebut, menurun seiring bertambahnya usia.
Di usia 80 tahun, manusia membutuhkan waktu tiga kali lebih lama untuk pulih dari stres dibandingkan rata-rata berusia 40 tahun. Namun bukan berarti, manusia tidak bisa hidup melebihi usia tersebut.
Karena, ada titik-titik tertentu dimana tubuh kehilangan semua kemampuan untuk pulih dari hampir semua pemicu stres. Dan hal itu bisa terjadi di usia di atas 100 tahun.
Para peneliti sampai pada kesimpulan ini dengan melihat data kesehatan untuk kelompok besar dari AS, Inggris dan Rusia. Mereka melihat jumlah sel darah serta jumlah langkah yang dicatat oleh perangkat yang dapat dikenakan.
Ketika orang mengalami stres yang berbeda, fluktuasi sel darah dan jumlah langkah menunjukkan bahwa waktu pemulihan bertambah lama seiring bertambahnya usia seseorang.
"Penuaan pada manusia menunjukkan fitur universal yang umum untuk sistem kompleks yang beroperasi di ambang kehancuran," kata Peter Fedichev, salah satu pendiri dan CEO Gero, seperti dikutip dari CnetScience.com.
Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications itu, para peneliti menyimpulkan, tubuh kehilangan semua kemampuan untuk mengatasi--atau setidaknya untuk pulih-- dari stres sebelum usia 150 tahun. Pada penelitian lain disebutkan, manusia semaksimal mungkin dapat hidup hingga usia 138 tahun.
"Pekerjaan ini ... menjelaskan mengapa pencegahan dan pengobatan paling efektif untuk penyakit yang berkaitan dengan usia hanya dapat meningkatkan rata-rata tetapi tidak mencapai umur maksimal kecuali terapi antipenuaan yang benar telah dikembangkan," tambah rekan penulis Andrei Gudkov, dari Roswell Park Comprehensive, Pusat Kanker di Buffalo, New York.
Ini adalah harapan para peneliti --bahwa hal itu mungkin menerangi tidak hanya untuk memaksimalkan rentang hidup, tetapi juga kualitas hidup yang lebih tinggi dalam rentang itu.
"Penyelidikan menunjukkan bahwa tingkat pemulihan merupakan tanda penting penuaan yang dapat memandu pengembangan obat untuk memperlambat proses dan memperpanjang rentang kesehatan," kata David Sinclair, profesor genetika dari Harvard Medical School.
Geriatri.id
foto: lansia bersosialisasi (shutterstock)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri