Mencegah Pneumonia pada Lansia, Bukan Hanya Soal Menjaga Kebersihan


WHO menyebut orang berusia 65 tahun ke atas termasuk kelompok yang lebih berisiko mengalami pneumonia, terlebih bila memiliki penyakit penyerta.

2026-09-17T08:07

GERIATRI.CO.ID - Pneumonia pada lansia bukan penyakit yang bisa dianggap sepele. Batuk atau sesak yang awalnya tampak ringan dapat berkembang menjadi kondisi serius, terutama karena daya tahan tubuh cenderung menurun seiring bertambahnya usia.

World Health Organization (WHO) menyebut orang berusia 65 tahun ke atas termasuk kelompok yang lebih berisiko mengalami pneumonia, terlebih bila memiliki penyakit penyerta. Pada lansia, pneumonia juga tidak selalu muncul dengan gejala khas. Kebingungan atau perubahan kondisi mental dapat menjadi salah satu tandanya. 

Karena itu, mencegah pneumonia tidak cukup hanya dengan rajin mencuci tangan atau menjaga kebersihan rumah. Ada beberapa langkah lain yang tak kalah penting.

1. Jangan lupakan vaksinasi

Vaksinasi merupakan salah satu cara penting untuk menurunkan risiko infeksi yang dapat menyebabkan pneumonia.

WHO menyebut vaksin dapat membantu mencegah pneumonia, sementara Centers for Disease Control (CDC) memasukkan vaksin pneumokokus, influenza, COVID-19, dan RSV sebagai bagian dari strategi pencegahan infeksi saluran pernapasan tertentu.

Untuk lansia, vaksin influenza juga penting karena kelompok usia 65 tahun ke atas memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi serius akibat influenza. Infeksi influenza sendiri dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit pneumokokus.

Jenis dan jadwal vaksin sebaiknya disesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, riwayat vaksinasi, serta rekomendasi dokter.

2. Perhatikan penyakit penyerta

Lansia dengan penyakit kronis tertentu dapat memiliki risiko lebih tinggi mengalami pneumonia berat. Karena itu, mengendalikan penyakit seperti diabetes, penyakit jantung, atau penyakit paru bukan hanya bertujuan menjaga penyakit tersebut tetap stabil, tetapi juga bagian dari upaya mencegah komplikasi infeksi.

CDC menegaskan bahwa usia, penyakit penyerta, dan faktor perilaku tertentu dapat meningkatkan risiko pneumonia.

3. Jangan abaikan kebersihan mulut

Kesehatan mulut juga tidak boleh dilewatkan. Pada lansia, kebersihan gigi dan mulut perlu menjadi bagian dari perawatan sehari-hari.

Terlebih pada lansia yang mengalami gangguan menelan atau mudah tersedak, keluarga dan caregiver perlu memperhatikan risiko makanan, minuman, atau cairan masuk ke saluran pernapasan.

4. Bergerak dan tetap aktif

Menjaga tubuh tetap aktif sesuai kemampuan membantu lansia mempertahankan kebugaran dan kemandirian.

Aktivitas fisik tidak harus berat. Jalan kaki, latihan keseimbangan, latihan kekuatan ringan, atau aktivitas sehari-hari yang dilakukan secara rutin dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing lansia.

5. Hindari asap rokok dan jaga kualitas udara

WHO memasukkan pengurangan polusi udara dalam ruangan dan berhenti merokok sebagai bagian dari upaya menurunkan risiko pneumonia.

Karena itu, rumah lansia sebaiknya memiliki sirkulasi udara yang baik dan sebisa mungkin bebas dari asap rokok.

6. Kenali perubahan kondisi lansia

Salah satu hal yang sering membuat pneumonia pada lansia terlambat dikenali adalah gejalanya yang tidak selalu khas.

Selain batuk, demam, sesak, dan nyeri dada, lansia dapat mengalami kelelahan atau bahkan kebingungan. WHO secara khusus mencatat kebingungan sebagai salah satu gejala yang dapat muncul pada lansia dengan pneumonia.

Jika lansia tiba-tiba lebih lemas, bingung, mengalami sesak napas, demam, atau kondisi kesehatannya berubah drastis, sebaiknya jangan menunggu terlalu lama untuk mencari pertolongan medis. (lia)

***

Foto: Ilustrasi (pexels.com/id-id/@dikasan)
 

pneunomia,pneunomia lansia,vaksinasi,kebersihan mulut,penyakit penyerta

ARTIKEL LAINNYA

Hadapi Lonjakan Populasi Lansia, Pemerintah Siapkan Strategi Ketahanan Keluarga

Hari Keamanan Pasien Internasional: Lansia Berobat, Jangan Sampai Pulang Membawa Masalah Baru

Saat Para Lansia Disambangi Tangan-Tangan Mungil Siswa TK Assalam

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026