Dari Hati Seorang Perawat: Pelatihan Caregiver Kenapa Begitu Krusial?


"Banyak keluarga merasa kewalahan karena tidak memiliki keterampilan merawat secara tepat di rumah, sehingga sering terjadi kekambuhan dan penurunan kualitas hidup lansia."

2026-08-25T16:25

GERIATRI.CO.ID - Menyaksikan lansia berjuang dengan penurunan kondisi kesehatan tentu menjadi tantangan tersendiri, tak hanya bagi keluarga tetapi juga bagi para tenaga medis di lapangan. Dalam lanskap pelayanan kesehatan hari ini, kebutuhan akan perawatan lansia yang komprehensif terasa kian mendesak.

Kondisi inilah yang dirasakan langsung oleh Rahma Anggun Hairani (27 thn), seorang perawat di Rehabilitasi Global Mental Care, Jakarta. Dalam satu tahun terakhir, Rahma mencatat adanya lonjakan signifikan pada jumlah pasien lansia yang mengalami masalah kesehatan jiwa.

"Saya melihat peningkatan jumlah pasien lansia dengan gangguan mental seperti demensia, depresi, dan gangguan perilaku. Kendalanya, banyak keluarga merasa kewalahan karena tidak memiliki keterampilan merawat secara tepat di rumah, sehingga sering terjadi kekambuhan dan penurunan kualitas hidup lansia," ungkap Rahma.

Fenomena ini menunjukkan bahwa penanganan lansia tidak berhenti di ruang perawatan Rumah Sakit. Saat kembali ke rumah, peran caregiver—baik dari unsur keluarga maupun pendamping profesional—menjadi benteng utama dalam menjaga stabilitas fisik dan emosional lansia.

Melihat besarnya tantangan tersebut, kehadiran kegiatan "PAPDI Peduli Panti" yang menggelar Pelatihan Caregiver dan Kegawatdaruratan pada Lansia menjadi angin segar. Program ini hadir untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan mendasar mengenai penanganan lansia, mulai dari pemantauan kondisi harian hingga penanganan situasi darurat yang kerap terjadi mendadak.

Bagi Rahma, kesempatan mengikuti pelatihan ini melalui jalur beasiswa bukan sekadar penambah resume, melainkan amunisi penting untuk memperluas jangkauan manfaat bagi masyarakat.

"Melalui beasiswa pelatihan caregiver lansia, saya ingin memperkuat kompetensi saya dalam aspek fisik, psikologis, dan sosial pada perawatan lansia. Ilmu yang saya dapatkan akan saya gunakan untuk menjadi jembatan antara tim medis dan keluarga, serta untuk membuat program edukasi sederhana bagi keluarga pasien di tempat saya bekerja," lanjutnya penuh optimisme.

Menghadapi proses penuaan populasi, memiliki keterampilan caregiving dan pemahaman kegawatdaruratan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan dasar. Sinergi antara tenaga medis yang kompeten dan keluarga yang teredukasi menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan penyembuhan yang aman.

Langkah kecil yang dimulai dari pelatihan ini membawa harapan besar: mendampingi para senior kita agar tidak hanya berumur panjang, tetapi juga menjalani masa tuanya dengan bahagia dan sejahtera. Seperti yang diutarakan Rahma menutup perbincangan:

"Komitmen saya adalah membantu mewujudkan penuaan yang sehat dan bermartabat," ujarnya. (a2s)

***

 

panti jompo,panti werdha,caregiver,caregiver lansia

ARTIKEL LAINNYA

Menjaga Tubuh Tetap Terhidrasi di Tengah Cuaca Panas Ekstrem

Jangan Asal Pilih, Ini Hal yang Perlu Dicek Sebelum Memilih Home Care Lansia

Sayur Mentah atau Matang, Mana yang Lebih Baik untuk Lansia?

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026