
GERIATRI.CO.ID - Mendengar istilah pesantren lansia, sebagian orang mungkin langsung membayangkan para orang tua yang tinggal dan belajar di pesantren seperti santri pada umumnya. Padahal, konsep pesantren lansia tidak selalu demikian. Istilah ini lebih sering digunakan untuk menggambarkan kegiatan pembinaan keagamaan yang dirancang khusus bagi orang lanjut usia.
Kegiatannya dapat berupa pengajian, membaca Al-Qur’an, belajar atau memperdalam pemahaman agama, beribadah bersama, hingga berbagai aktivitas sosial. Bentuknya pun tidak harus selalu menginap. Ada pesantren lansia yang dilaksanakan secara rutin beberapa jam dalam satu hari atau pada waktu-waktu tertentu.
Yang membuat konsep ini menarik adalah pendekatannya yang tidak hanya berbicara tentang agama. Pada usia lanjut, seseorang juga membutuhkan kesempatan untuk tetap bersosialisasi, beraktivitas, berbagi cerita, dan merasa dirinya masih memiliki lingkungan yang menerima.
Karena itu, kegiatan pesantren lansia idealnya dibuat dengan mempertimbangkan kondisi fisik peserta. Aktivitas tidak perlu terlalu padat atau melelahkan. Waktu istirahat yang cukup, tempat duduk yang nyaman, akses toilet yang mudah, serta lingkungan yang aman menjadi bagian penting dalam penyelenggaraannya.
Dari sisi sosial, kegiatan seperti ini dapat menjadi ruang bertemu bagi lansia. Mereka bisa bertemu teman sebaya, berbincang, saling mengenal, dan mengikuti kegiatan bersama. Hal sederhana seperti duduk bersama setelah pengajian dan menikmati teh hangat pun dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Aspek spiritual juga memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan banyak lansia. Memasuki usia senja sering kali membuat seseorang lebih banyak melakukan refleksi mengenai kehidupan. Kegiatan keagamaan dapat menjadi ruang untuk mencari ketenangan, memperkuat hubungan spiritual, sekaligus menjalani masa tua dengan lebih bermakna.
Namun, pesantren lansia sebaiknya tidak diposisikan sebagai tempat untuk “mengisi waktu” bagi orang tua. Justru sebaliknya, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana agar lansia tetap aktif, memiliki rutinitas, mempunyai lingkungan sosial, dan merasa dihargai.
Konsep seperti ini juga sejalan dengan pendekatan geriatri yang memandang lansia secara menyeluruh. Kesehatan seseorang pada usia lanjut bukan hanya persoalan penyakit atau obat-obatan, tetapi juga menyangkut kemampuan beraktivitas, kondisi psikologis, hubungan sosial, lingkungan, serta kualitas hidup.
Pada akhirnya, pesantren lansia bukan sekadar tempat mengaji. Jika dikelola dengan baik, ia dapat menjadi ruang yang mempertemukan agama, kesehatan, persahabatan, dan kebahagiaan di usia senja. Sebuah tempat di mana lansia tidak hanya datang untuk belajar, tetapi juga untuk bertemu orang lain, berbagi cerita, dan menjalani hari tua dengan lebih tenang dan bermakna. (a2s)
***
Foto: Suasana pesantren lansia di Darul Na'im di Desa Sukajaya, Jonggol, Kabupaten Bogor. (Google map)
.
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri