
GERIATRI.CO.ID - Menghadapi orang tua atau kakek-nenek yang sedang marah, tersinggung, atau berbicara dengan nada tinggi memang tidak selalu mudah. Respons spontan yang sering muncul adalah membantah atau menjelaskan bahwa mereka salah.
Namun, ketika lansia sedang emosional, membalas dengan nada tinggi atau terus berusaha membuktikan bahwa mereka salah justru dapat membuat situasi semakin panas. Karena itu, keluarga perlu mencoba memahami terlebih dahulu apa yang sebenarnya berada di balik emosi tersebut. Lansia yang mudah marah belum tentu sekadar "sensitif karena usia". Perubahan kesehatan, rasa kehilangan, kesepian, keterbatasan fisik, rasa tidak berdaya, hingga masalah kesehatan mental dapat memengaruhi kondisi emosional mereka.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa kesehatan mental lansia dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kehilangan orang terdekat, berkurangnya kemampuan fungsional, masalah kesehatan, kesepian, dan isolasi sosial.
Ketika lansia mengatakan sesuatu yang menurut keluarga tidak benar, keinginan untuk langsung mengoreksi memang wajar. Namun, tidak semua situasi harus segera dimenangkan dengan argumen.
Jika emosi sedang tinggi, cobalah memberi waktu agar lansia lebih tenang. Dengarkan terlebih dahulu apa yang ingin disampaikan sebelum memberikan penjelasan.
Kemarahan terkadang hanya merupakan bagian yang terlihat dari masalah lain.
Lansia mungkin marah karena merasa tidak didengarkan, kesulitan melakukan aktivitas yang sebelumnya mudah dilakukan, merasa terlalu banyak dibantu, mengalami nyeri, kurang tidur, atau merasa kesepian.
Pada lansia dengan demensia, misalnya, perubahan perilaku dapat dipicu oleh rasa sakit atau ketidaknyamanan yang sulit mereka ungkapkan. Alzheimer's Society menyarankan keluarga mencari kemungkinan pemicu perilaku agresif, mencoba memahami sudut pandang lansia, dan menghindari berdebat ketika kemampuan mereka memahami logika sudah terganggu.
WHO menekankan bahwa sikap negatif terhadap penuaan atau ageism dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental lansia. Perasaan bahwa dirinya menjadi beban juga dapat berkaitan dengan risiko depresi dan isolasi sosial. Karena itu, perasaan lansia sebaiknya tidak langsung dianggap berlebihan hanya karena mereka sudah lanjut usia.
Mudah marah atau tersinggung sesekali tidak selalu menunjukkan masalah kesehatan mental. Namun, keluarga perlu lebih waspada jika perubahan emosi berlangsung terus-menerus, semakin berat, atau disertai perubahan perilaku lainnya. Misalnya, lansia mulai:
WHO menegaskan bahwa masalah kesehatan mental pada lansia sering kali kurang dikenali dan kurang mendapatkan penanganan. Depresi juga bukan bagian normal dari proses penuaan. Jika perubahan tersebut menetap atau mengganggu aktivitas sehari-hari, keluarga sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan. (lia)
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri