
GERIATRI.CO.ID - Seiring bertambahnya usia, sistem pencernaan juga mengalami perubahan. Lanjut usia (lansia) lebih sering mengalami keluhan seperti sembelit, perut kembung, atau gangguan pencernaan lainnya. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari perubahan fungsi saluran cerna, pola makan, aktivitas fisik yang berkurang, hingga penggunaan obat-obatan tertentu.
Untuk membantu menjaga kesehatan saluran cerna, salah satu pilihan yang dapat dimasukkan ke dalam pola makan adalah makanan fermentasi. Makanan ini mengandung mikroorganisme yang berperan dalam proses fermentasi, dan beberapa di antaranya dapat mengandung bakteri baik yang mendukung keseimbangan mikrobiota usus.
Menurut Harvard T.H. Chan School of Public Health, makanan fermentasi merupakan makanan atau minuman yang diproses dengan bantuan mikroorganisme seperti bakteri atau ragi. Proses fermentasi tidak hanya membantu mengawetkan makanan, tetapi juga dapat meningkatkan cita rasa dan menghasilkan senyawa yang bermanfaat bagi kesehatan.
Saluran cerna memiliki peran penting dalam mencerna makanan, menyerap nutrisi, serta mendukung fungsi sistem kekebalan tubuh. Di dalam usus terdapat triliunan mikroorganisme yang membentuk mikrobiota usus. Keseimbangan mikrobiota ini penting untuk menjaga kesehatan pencernaan.
International Scientific Association for Probiotics and Prebiotics (ISAPP) menjelaskan bahwa probiotik adalah mikroorganisme hidup yang, jika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup, dapat memberikan manfaat kesehatan bagi tubuh. Namun, tidak semua makanan fermentasi otomatis mengandung probiotik hidup, karena proses pemanasan atau pengolahan setelah fermentasi dapat mengurangi jumlah mikroorganisme tersebut.
Terdapat beberapa makanan fermentasi yang umum dikonsumsi antara lain:
Yogurt
Yogurt dibuat melalui fermentasi susu menggunakan bakteri tertentu. Selain mengandung protein dan kalsium, beberapa jenis yogurt juga mengandung kultur hidup yang dapat membantu menjaga keseimbangan bakteri di usus. Pilih yogurt tanpa tambahan gula berlebih agar lebih sesuai sebagai bagian dari pola makan sehat.
Tempe
Tempe merupakan makanan fermentasi khas Indonesia yang dibuat dari kedelai. Selain menjadi sumber protein nabati, tempe juga mengandung serat, vitamin, dan mineral. Proses fermentasi membuat tempe lebih mudah dicerna dibandingkan kedelai yang belum difermentasi.
Kimchi
Salah satu makanan khas Korea yang dibuat melalui fermentasi sayuran ini mengandung serat dan dapat menjadi sumber bakteri hasil fermentasi. Namun, karena umumnya memiliki kandungan garam yang cukup tinggi, konsumsi perlu dibatasi terutama bagi lansia dengan hipertensi atau penyakit ginjal.
Para ahli menekankan bahwa manfaat makanan fermentasi akan lebih optimal jika dikombinasikan dengan pola makan bergizi seimbang. Selain mengonsumsi makanan fermentasi, lansia juga dianjurkan memperbanyak asupan sayur, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh yang mengandung prebiotik, yaitu serat yang menjadi sumber makanan bagi bakteri baik di usus.
National Institute on Aging (NIA) juga menyarankan agar lansia menjaga pola makan yang bervariasi, mencukupi kebutuhan cairan, dan tetap aktif secara fisik untuk membantu menjaga fungsi pencernaan.
Makanan fermentasi bukanlah obat untuk mengatasi gangguan pencernaan. Jika lansia mengalami sembelit berkepanjangan, diare, nyeri perut, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau keluhan pencernaan lainnya, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.
Dengan memilih makanan yang tepat dan menerapkan pola hidup sehat, kesehatan pencernaan dapat tetap terjaga sehingga lansia dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman. (lia)
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri