
Geriatri - Bagi komunitas geriatri, merawat lansia di rumah dengan fasilitas lengkap saja sudah membutuhkan kesabaran ekstra. Kini, bayangkan tantangan tersebut dilipatgandakan: merawat ribuan lansia di tengah cuaca terik Arab Saudi, di tengah jutaan manusia, dan dalam momentum ibadah suci yang menguras fisik.
Kisah inspiratif datang dari Tim Layanan Lansia dan Disabilitas (Landis) Sektor 5 Daker Makkah pada Musim Haji 2026. Lebih dari sekadar menjalankan tugas logistik, para petugas seperti Abdul Aziz dan Muhammad Rosi menunjukkan esensi sejati dari caregiving: merawat dengan hati.
Selama hampir dua bulan, tim ini mendampingi sekitar 3.800 jemaah lansia. Luar biasanya, 800 di antaranya berada dalam kondisi kritis yang membutuhkan pengawalan intensif 24 jam.
Manajemen Istirahat: Pendekatan Medis-Geriatri yang Tepat
Salah satu langkah preventif menarik yang dilakukan Tim Sektor 5 adalah kebijakan jeda waktu bagi lansia. Berbeda dengan jemaah usia muda yang langsung melaksanakan umrah wajib beberapa jam setelah tiba, jemaah lansia diwajibkan beristirahat penuh selama 1 hari.
Dari kacamata geriatri, ini adalah keputusan yang sangat krusial untuk:
Menembus Batas Rasa Canggung melalui Sentuhan Personal
Bukan perkara mudah bagi seorang lansia untuk menerima bantuan fisik dari orang asing. Pada awalnya, banyak jemaah yang merasa malu atau sungkan saat harus dibantu.
Namun, petugas Landis menggunakan pendekatan persuasif yang tulus. Mulai dari menyuapi makan, memandikan, mengganti popok, hingga membersihkan kotoran di kamar mandi dilakukan sembari mengajak mereka mengobrol hangat tentang anak cucu di kampung halaman. Sentuhan psikologis inilah yang meruntuhkan dinding kecanggungan, hingga para jemaah merasa memiliki "anak kandung" sendiri di Tanah Suci.
"Banyak jemaah nangis haru begitu lihat Ka’bah. Mereka genggam tangan kami, ucapkan terima kasih. Rasanya plong dan lunas semua capek," kenang Abdul Aziz saat mendampingi jemaah di Terminal Syib Amir, seperti dilansir dari faktabanten.co.id.
Menghadapi Tantangan Demensia di Fase Armuzna
Ujian terberat bagi kesabaran petugas terjadi pada fase krusial Safari Wukuf di Armuzna. Mengelola 38 jemaah lansia kondisi kritis di hotel transit menuntut kewaspadaan tanpa jeda—petugas berpatroli setiap 15 menit dengan waktu tidur hanya 1 hingga 2 jam per hari.
Pada fase ini, gejala demensia aktif sering kali muncul akibat kelelahan dan tekanan lingkungan. Petugas kerap menemui jemaah yang disorientasi: keluar kamar tanpa pakaian lengkap karena mengira sudah di kampung halaman, membongkar koper orang lain, hingga Buang Air Besar (BAB) atau Buang Air Kecil (BAK) sembarangan di koridor hotel.
Dengan kesabaran tanpa batas, para petugas langsung membersihkan area tersebut demi menjaga kesucian tempat dari najis, sekaligus menjaga martabat sang lansia agar tidak merasa bersalah.
Apa yang dilakukan oleh Tim Landis Sektor 5 Makkah adalah potret nyata dari grandparenting & caregiving tingkat tertinggi. Di saat keluarga inti terpisah oleh jarak ribuan kilometer, para petugas hadir menjadi sandaran utama.
Mereka memastikan bahwa keterbatasan fisik dan usia tidak menjadi penghalang bagi para senior kita untuk menggapai impian spiritual tertinggi mereka. Hormat kami untuk seluruh petugas Landis Haji 2026—kalian adalah pahlawan sunyi yang sesungguhnya.
(Foto: Abdul Aziz dan Muhammad Rosi / Dok MCH 2026)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri