
Sebagian orang berpikir bahwa ibadah haji adalah penuh dengan tantangan fisik. Namun, yang tidak kalah pentingnya --terutama bagi jemaah haji lansia-- persiapan mental juga perlu dijaga.
Bagi calon haji yang berusia di atas 60 tahun, lingkungan yang akan dihadapi di Arab Saudi tersebut biasanya menguras fisik dengan lebih cepat. Perubahan yang drastis, seperti musim panas dan ramai di Mekah, dapat mempengaruhi emosi yang naik-turun. Begitu pula dengan ketergantungan pada orang lain, yang mau tidak mau tidak bisa diabaikan oleh petugas haji dari Indonesia.
Istilahnya, kalau mental tidak siap dengan hal-hal semacam itu, jemaah haji lansia menjadi mudah stres, panik, dan bahkan mempengaruhi fisiknya.
Selain itu, beberapa “kekhasan” jemaah lansia di Indonesia jadi tantangan sendiri. Ini yang sering terjadi ketika “memaksakan diri”, misalnya “tidak enakan” sama rombongannya. Atau, ingin “sempurna”, sehingga semua ibadah harus dikerjakan tanpa istirahat.
Belum lagi apabila jemaah tersebut takut merepotkan keluarga atau petugas haji, sehingga apa saja dilakukannya sendiri. Jadi, ini semua bukan soal fisik, melainkan pola pikir.
Oleh sebab itu, persiapan mental menjadi sesuatu yang sangat penting bagi mereka. Ada kalanya bahwa menerima keterbatasan diri menjadi sesuatu dan wajar atau alami. Usia bagaimanapun tidak seperti yang dulu, atau tidak semua harus dikerjakan sendiri. Dalam Islam, yang penting adalah mampu dan ikhlas.
Yang juga perlu diperhatikan adalah mengubah mindset, dalam arti bukan “sempurna” malainkan “sah dan aman”. Sekali lagi, jika semua sudah tidak seperti dulu (baca: fisik), lebih baik mendahulukan yang wajib, daripada mengutamakan yang sunnah-sunnah tapi yang wajib terlewatkan. Situasi yang demikian membuat ibadah terasa lebih ringan dan realistis.
Selain itu, bagian lain yang juga bisa menjadi ikhtiar adalah siap untuk bergantung, dan itu bukanlah hal yang salah. Meminta bantuan, jika kita merasa tidak sanggup, tentu hal tersebut menjadi wajar. Didampingi orang lain jika kita tidak yakin, bukan berarti kita lemah.
Yang perlu diingat, mental yang siap adalah tidak mudah emosi. Latihan sabar dan bersikap fleksibel adalah hal yang “menyenangkan” untuk, misalnya, menghadapi antrean yang panjang, jadwal yang berubah, atau kondisi yang tidak ideal.
Yang sering dilupakan lansia adalah terlalu "bersemangat" untuk "selalu aktif bergerak", terutama bagi lansia yang sudah sepuh. Mungkin ada baiknya untuk menekankan bahwa “saya tidak harus kuat, saya hanya perlu cukup untuk menyelesaikan”.
Wallahu a'lam bisshawab.
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri