
Indonesia sedang mengalami penuaan penduduk. Jumlah orang berusia lanjut terus meningkat dan proses ini berjalan cepat. Proyeksi menunjukkan bahwa pada tahun 2045, sekitar 20 persen penduduk Indonesia berusia 60 tahun ke atas. Artinya, satu dari lima orang adalah lansia. Ini bukan sekadar perubahan angka, tetapi perubahan besar dalam kebutuhan kesehatan, perawatan, dan kehidupan sehari-hari.
Penuaan terjadi karena semakin banyak orang yang hidup lebih lama. Usia harapan hidup meningkat, termasuk pada usia lanjut. Data menunjukkan bahwa seseorang yang berusia 80 tahun masih memiliki harapan hidup sekitar 6–7 tahun lagi. Namun, hidup lebih lama tidak selalu berarti hidup dalam kondisi sehat.
Menurut data WHO, terdapat selisih yang cukup besar antara usia harapan hidup dan usia harapan hidup sehat. Banyak lansia menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya dengan penyakit kronis atau keterbatasan fisik. Kondisi ini lebih menonjol pada perempuan, yang hidup lebih lama dibandingkan laki-laki, tetapi kehilangan lebih banyak tahun hidup sehat.
Penyakit tidak menular menjadi penyebab utama menurunnya fungsi tubuh pada usia lanjut. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa stroke merupakan salah satu penyebab utama ketergantungan pada lansia. Ketergantungan diartikan sebagai kebutuhan bantuan orang lain untuk menjalani aktivitas sehari-hari, seperti berjalan, mandi, berpakaian, atau berpindah tempat. Tingkat ketergantungan meningkat seiring bertambahnya usia, terutama pada kelompok usia 80 tahun ke atas.
Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian besar lansia Indonesia masih bergantung pada keluarga. Data ILAS 2023 dan Susenas menunjukkan bahwa sumber utama penghidupan lansia berasal dari dukungan anggota keluarga, bukan dari pensiun atau hasil investasi. Pensiun dan bantuan sosial memang ada, tetapi belum menjadi penopang utama bagi mayoritas lansia.
Kondisi ini menjelaskan mengapa banyak lansia tetap bekerja selama masih mampu. Data BPS menunjukkan bahwa lebih dari 55 persen lansia Indonesia masih bekerja, sebagian besar di sektor informal. Bekerja dilakukan bukan semata untuk aktivitas, tetapi untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Ketika kondisi kesehatan menurun, perawatan sehari-hari umumnya dilakukan oleh keluarga. SKI 2023 mencatat bahwa lebih dari 80 persen lansia dirawat oleh kerabat dekat, dan hanya sebagian sangat kecil yang mendapatkan perawatan dari tenaga terlatih atau profesional. Perawatan ini sering berlangsung lama, terutama pada lansia dengan stroke, gangguan gerak, atau penurunan fungsi kognitif.
Perawatan semacam ini dikenal sebagai perawatan jangka panjang. Artinya, bantuan yang dibutuhkan bukan sementara, tetapi terus-menerus. Di Indonesia, perawatan jangka panjang belum didukung oleh sistem layanan yang kuat. Akibatnya, keluarga merawat dengan kemampuan terbatas, dan lansia sering merasa bergantung sepenuhnya pada orang terdekat.
Selain persoalan fisik dan ekonomi, ada persoalan sosial yang juga penting, yaitu pengaturan tempat tinggal. Data menunjukkan bahwa sebagian lansia tinggal bersama anak dan keluarga, sebagian tinggal dengan pasangan, dan sebagian lainnya tinggal sendiri. Lansia perempuan lebih banyak yang hidup sendiri dibandingkan lansia laki-laki. Tinggal sendiri meningkatkan risiko kesepian dan masalah kesehatan mental, terutama jika tidak ada dukungan sosial yang memadai.
Banyak lansia ingin tetap tinggal di rumah atau lingkungan yang sudah dikenal. Pilihan ini masuk akal. Namun, tinggal di rumah akan aman jika rumah tersebut mudah diakses, dekat dengan layanan kesehatan, dan ada orang yang bisa dihubungi ketika bantuan dibutuhkan. Tanpa dukungan ini, tinggal di rumah justru dapat meningkatkan risiko keterlambatan penanganan saat terjadi masalah kesehatan.
Indonesia sebenarnya memiliki modal awal yang cukup baik. Hampir seluruh lansia telah terdaftar dalam program jaminan kesehatan nasional, baik sebagai peserta mandiri maupun penerima bantuan iuran. Namun, jaminan kesehatan saja tidak cukup jika tidak disertai layanan yang sesuai dengan kebutuhan lansia, seperti rehabilitasi berkelanjutan, layanan geriatri, dan dukungan perawatan jangka panjang.
Ke depan, jumlah lansia akan terus bertambah, sementara jumlah penduduk usia kerja yang menopang mereka semakin berkurang. Data menunjukkan bahwa support ratio lansia menurun dari sekitar enam orang usia kerja menjadi sekitar tiga orang untuk setiap satu lansia. Kondisi ini menuntut penyesuaian serius dalam sistem layanan kesehatan dan sosial.
Tulisan ini tidak menawarkan solusi cepat. Tujuannya adalah memberi gambaran singkat tentang situasi yang sedang terjadi. Banyak lansia dan penyintas penyakit kronis mengalami hal yang sama: hidup lebih lama, dengan kebutuhan yang bertambah. Kondisi ini bukan kegagalan pribadi, tetapi bagian dari perubahan demografi yang sedang dialami Indonesia.
Menjadi tua berarti membutuhkan dukungan yang berbeda. Tantangan ke depan adalah memastikan dukungan tersebut tersedia, terjangkau, dan manusiawi.
=====
* Ditulis oleh: Hesti Al Bastari
** Sumber Data
- Prof. Sri Moertiningsih Adioetomo, Kondisi dan Tantangan Pelaksanaan Program dan Layanan Kelanjutusiaan Indonesia, Bappenas–Lembaga Demografi FEB UI, 2026.
- Badan Pusat Statistik, Statistik Penduduk Lansia Indonesia dan Susenas.
- UN DESA, World Population Prospects 2024.
- World Health Organization, Healthy Life Expectancy (HALE).
- Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023.
- Indonesia Longitudinal Ageing Survey (ILAS) 2023
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri