
GERIATRI.CO.ID - Pada 14 Oktober 2026, asap pekat bahkan masih menyelimuti Palangka Raya. Lansia termasuk kelompok yang rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap tersebut.
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk melindungi lansia. Kuncinya bukan sekadar memakai masker, melainkan juga mengurangi paparan asap di rumah dan menjaga kondisi kesehatannya.
1. Jangan biarkan lansia terlalu lama berada di luar rumah
Ketika asap mulai menyelimuti lingkungan, sebaiknya lansia mengurangi aktivitas di luar rumah. Kegiatan seperti berjalan pagi, berkebun, menyapu halaman, atau berolahraga di luar ruangan perlu ditunda sampai kualitas udara membaik.
Jika kualitas udara masuk kategori tidak sehat, lansia sebaiknya menghindari aktivitas di luar ruangan.
2. Gunakan masker yang tepat
Tidak semua masker mampu menyaring partikel halus dalam asap karhutla.
Jika terpaksa keluar rumah, lansia sebaiknya menggunakan masker respirator N95 yang terpasang rapat di wajah. Masker bedah atau masker kain tidak memberikan perlindungan yang setara terhadap partikel halus PM2.5.
Namun, masker N95 mungkin sulit digunakan oleh sebagian lansia, terutama mereka yang memiliki penyakit paru atau jantung. Jika mengalami kesulitan bernapas saat mengenakannya, segera cari tempat dengan udara lebih bersih dan mintalah saran tenaga kesehatan.
3. Jadikan rumah sebagai tempat berlindung dari asap
Ketika asap mengepung permukiman, rumah perlu diupayakan menjadi tempat dengan udara yang lebih bersih. Caranya:
Perlu diingat, pendingin ruangan biasa tidak otomatis menyaring partikel asap.
4. Pantau kualitas udara setiap hari
Keluarga atau pendamping sebaiknya rutin memantau kualitas udara di wilayah tempat tinggal lansia.
Jangan hanya mengandalkan penglihatan. Asap yang tidak terlihat pekat belum tentu berarti udara aman untuk dihirup.
Informasi kualitas udara dapat digunakan untuk menentukan apakah lansia boleh beraktivitas di luar atau sebaiknya tetap berada di dalam rumah.
5. Pastikan kebutuhan obat dan makanan terpenuhi
Lansia yang memiliki penyakit asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), atau penyakit jantung memerlukan perhatian ekstra.
Pastikan obat rutin tersedia dan mudah dijangkau. Jangan menghentikan pengobatan tanpa arahan dokter.
Selain itu, cukupi kebutuhan cairan sesuai kondisi kesehatan dan anjuran dokter. Lansia yang memiliki pembatasan cairan akibat penyakit tertentu tidak boleh dipaksa minum berlebihan.
6. Kenali gejala gangguan kesehatan akibat asap
Paparan asap dapat memicu batuk, iritasi mata, tenggorokan terasa kering, dan sesak napas. Pada lansia, keluhan juga bisa muncul dalam bentuk tubuh lemas atau aktivitas sehari-hari yang mendadak berkurang.
Segera cari pertolongan medis jika lansia mengalami sesak napas, nyeri dada, kebingungan mendadak, atau penurunan kesadaran. Jangan menunggu sampai gejala semakin parah.
7. Siapkan rencana jika asap semakin pekat
Keluarga perlu mengetahui ke mana lansia harus dibawa jika kondisi udara memburuk atau rumah tidak lagi aman untuk ditinggali sementara.
Siapkan obat rutin, identitas, nomor kontak keluarga, dan kebutuhan pribadi lansia. Jika diperlukan, pindahkan lansia ke tempat yang kualitas udaranya lebih baik.
Bagi lansia yang tinggal sendiri, keluarga, tetangga, atau kader kesehatan sebaiknya melakukan pemeriksaan kondisi secara berkala.
Keluarga Indonesia, mari jaga sesama ya. (a2s)
***
Foto: Kabut asap akibat karhutla menyelimuti Kota Sampit, Kotawaringin Timur, pada Senin (12/10/2026). Sumber: x/bebekhermes
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri