
GERIATRI.CO.ID — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan menjadi ancaman kesehatan yang perlu diwaspadai, terutama bagi masyarakat lanjut usia (lansia). Paparan asap dapat mengganggu saluran pernapasan, memperburuk penyakit paru-paru, bahkan meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.
Bagi lansia, mengurangi paparan asap menjadi langkah penting. Salah satunya dengan menggunakan masker yang tepat ketika terpaksa beraktivitas di luar rumah.
Namun, tidak semua masker mampu menyaring partikel halus yang terkandung dalam asap kebakaran. Lantas, bagaimana cara memakai masker yang benar agar lansia mendapat perlindungan lebih baik?
1. Pilih Masker yang Tepat
Masker respirator seperti N95 dirancang untuk menyaring partikel halus di udara, termasuk partikel yang terdapat dalam asap kebakaran. Masker ini dapat membantu mengurangi paparan partikel apabila digunakan dengan benar dan pas di wajah.
Sementara itu, masker kain dan masker bedah biasa tidak dirancang untuk memberikan perlindungan yang setara terhadap partikel halus asap.
Meski demikian, lansia yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakan respirator N95. Masker jenis ini dapat membuat pernapasan terasa lebih berat bagi sebagian orang.
2. Pastikan Masker Menutupi Hidung dan Mulut
Sebelum memakai masker, pastikan tangan dalam keadaan bersih. Periksa pula kondisi masker, apakah masih bersih, kering, dan tidak rusak.
Pasang masker dengan posisi menutupi hidung, mulut, hingga bawah dagu. Jika masker memiliki kawat pada bagian hidung, tekan perlahan menggunakan kedua tangan agar mengikuti bentuk hidung.
Untuk respirator N95 dengan dua tali, tempatkan tali sesuai petunjuk produsen. Umumnya, satu tali berada di bagian atas kepala dan tali lainnya di belakang leher. Jangan menyilangkan tali karena dapat mengganggu kerapatan masker.
3. Periksa Apakah Ada Celah
Masker yang baik harus menempel rapat pada wajah. Celah di sekitar hidung, pipi, atau dagu memungkinkan udara yang mengandung partikel asap masuk tanpa tersaring.
Setelah masker terpasang, periksa apakah terdapat celah di bagian tepinya. Ikuti petunjuk pemeriksaan kerapatan dari produsen.
Bagi lansia yang menggunakan kacamata, perhatikan apakah udara keluar dari bagian atas masker hingga menyebabkan lensa berembun. Jika masker tidak pas, cobalah model atau ukuran lain yang lebih sesuai.
4. Jangan Memaksakan Diri Saat Mengenakan Masker
Penggunaan respirator dapat membuat sebagian orang merasa lebih sulit bernapas, terutama ketika berjalan atau melakukan aktivitas fisik.
Karena itu, lansia sebaiknya menghindari aktivitas berat dan tidak berlama-lama di luar rumah ketika udara berasap. Jika terpaksa keluar, lakukan kegiatan seperlunya dan segera kembali ke ruangan dengan udara yang lebih bersih.
Apabila muncul sesak napas, nyeri dada, pusing, atau rasa tidak nyaman yang tidak biasa, segera hentikan aktivitas dan cari pertolongan medis jika gejalanya berat atau menetap.
5. Ketahui Kapan Masker Harus Diganti
Masker sekali pakai perlu diganti apabila basah, kotor, rusak, atau napas terasa semakin sulit melewatinya. Ikuti pula petunjuk penggunaan dan batas pemakaian dari produsen.
Jangan mencuci atau menggunakan kembali respirator sekali pakai dengan cara yang tidak dianjurkan. Menyemprotkan parfum atau cairan tertentu ke masker juga bukan cara yang tepat untuk menghilangkan paparan asap.
6. Tetap di Dalam Rumah Saat Asap Pekat
Masker bukan satu-satunya perlindungan. Ketika kualitas udara memburuk, lansia dianjurkan mengurangi kegiatan di luar rumah dan menutup pintu serta jendela untuk membatasi masuknya asap.
Jika tersedia, gunakan penyaring udara dalam ruangan yang sesuai, seperti perangkat pembersih udara dengan filter HEPA. Hindari aktivitas yang menambah polusi di dalam rumah, misalnya membakar sampah atau merokok.
Pantau informasi kualitas udara dan imbauan pemerintah setempat. Jika kondisi rumah tidak memungkinkan lansia berlindung dari asap, pertimbangkan berpindah ke tempat yang udaranya lebih bersih dengan bantuan keluarga.
7. Keluarga Perlu Ikut Mengawasi
Lansia yang tinggal sendiri mungkin membutuhkan bantuan untuk memilih masker, memasangnya dengan benar, serta memantau kondisi kesehatannya.
Keluarga atau pendamping sebaiknya memastikan kebutuhan obat rutin tetap tersedia dan membantu mengatur kegiatan agar lansia tidak perlu sering keluar rumah.
Jika lansia mengalami sesak napas, nyeri dada, kebingungan mendadak, atau penurunan kesadaran, segera cari pertolongan medis darurat.
Pada akhirnya, melindungi lansia dari kabut asap bukan sekadar menyediakan masker. Mengurangi paparan, menjaga kualitas udara di dalam rumah, memantau kesehatan, dan memberikan pendampingan merupakan langkah yang sama pentingnya.
Dengan perlindungan yang tepat, risiko gangguan kesehatan akibat asap dapat dikurangi, terutama bagi lansia yang lebih rentan terhadap dampak pencemaran udara. (a2s)
***
Foto: Ilustrasi (Gemini Google AI)
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri