Solusi Problem 3 Generasi dan ASI yang Terbuang


Konflik muncul ketika pemberian itu tidak disadari atau tidak dihargai oleh pihak yang menerimanya.

2026-10-13T15:17

Oleh dr. Fatihah "Kiki" Fikriyah

GERIATRI.CO.ID - Seorang ibu begadang memompa ASI, menyimpannya rapi di freezer, lalu mendapati stok itu dibuang mertuanya, bahkan sebelum sempat dibuka. Alasannya, seperti diceritakan dalam sebuah utas di Threads: sang nenek ingin cucunya minum susu formula supaya “gemoy”, dan bilang bahwa bayinya memang tidak mau minum ASI.

Utas itu ramai bukan karena kasusnya langka. Banyak ibu yang pernah memompa sampai lewat tengah malam, dengan mata berat dan punggung pegal, merasa ikut dibuang bersama botol-botol itu. Jerih payah yang tidak terlihat hilang begitu saja.

Tetapi kalau kita berhenti di “mertua jahat”, kita melewatkan hal yang lebih penting. Di rumah itu ada dua orang dewasa yang sedang menyayangi bayi yang sama, dengan bahasa kasih sayang yang tidak saling dimengerti. Tulisan ini mencoba memahami keduanya.

Dua Cara Mencintai yang Saling Bertabrakan

Bagi banyak nenek, pipi tembem adalah tanda bayi sehat dan tanda keluarga mampu merawatnya. Susu formula, yang di zamannya dipromosikan sebagai tanda kemajuan, terasa seperti jalan aman supaya cucu kenyang. Bagi sang ibu, setiap botol ASI adalah bukti kasih yang ia usahakan dengan tubuh dan waktunya sendiri, dengan dasar anjuran kesehatan bahwa bayi sebaiknya hanya diberi ASI pada enam bulan pertama (WHO, 2011).

Keduanya tulus, dan karena itu benturannya terasa begitu pribadi. Yang satu merasa jerih payahnya dianggap sampah. Yang lain merasa pengalaman puluhan tahunnya dianggap ketinggalan zaman. Perlu juga dicatat: susu formula bukan musuh. Ada ibu yang memang membutuhkannya, dan keputusan itu layak dihormati tanpa penghakiman.

Masalah sebenarnya sering bukan susunya, melainkan sungkan. Menantu tidak enak menegur karena takut dicap kurang ajar. Mertua tidak enak mengaku merasa tersisih dan gengsi menjelaskan kekhawatirannya. Anak, yang berdiri di tengah sebagai suami sekaligus putra, memilih diam supaya semuanya tetap “damai”.

Damai yang dibeli dengan diam itu semu. Perasaan yang tidak dibicarakan tidak hilang. Ia mengendap menjadi sindiran, jarak, dan hati yang pelan-pelan retak di kedua sisi, sementara bayi tumbuh di tengah suasana itu.

Apa Kata Studi

Melihat keluarga sebagai jaringan. Dulu, banyak penelitian menebak hubungan antargenerasi dari hal yang tampak di permukaan. Misalnya, kalau sebuah rumah dihuni tiga generasi dan dikepalai kakek-nenek, peneliti menganggap bantuan pasti mengalir dari kakek-nenek ke cucu (Casper & Bryson, 1998, dikutip dalam Marcum & Koehly, 2015). Padahal tidak pernah benar-benar ditanyakan: siapa yang sebenarnya memberi bantuan, dan kepada siapa?

Pendekatan jaringan mengubahnya. Peneliti langsung bertanya dan mencatat siapa memberi apa kepada siapa di dalam keluarga. Contohnya: nenek menjaga cucu, ibu memberi tahu soal kesehatan anak, atau anak memberi uang untuk orang tuanya. Dari situ terlihat pola hubungan di dalam satu keluarga, dan pola-pola itu bisa dibandingkan antarkeluarga untuk melihat mana yang paling umum (Marcum & Koehly, 2015; Park et al., 2013). Marcum dan Koehly juga membahas peran “penghubung” (brokerage), yaitu orang yang menjadi perantara antara dua pihak lain. Contoh datanya berasal dari obrolan soal kesehatan di keluarga besar keturunan Meksiko, bukan Indonesia.

Dengan cara pandang ini, ibu, nenek, dan suami bukan sekadar pihak yang berselisih. Mereka adalah tiga orang dalam satu jaringan, tempat tenaga, informasi, waktu, dan kasih sayang saling mengalir. Konflik muncul ketika pemberian itu tidak disadari atau tidak dihargai oleh pihak yang menerimanya.

Bukti dari Indonesia

Riset tentang menyusui di Indonesia konsisten menunjukkan betapa besar peran nenek.

1. Studi kualitatif di wilayah kerja Puskesmas Ngoresan, Surakarta, mencatat bahwa sumber informasi utama banyak ibu tentang menyusui adalah keluarga mereka, terutama nenek (Widyastuti et al., 2020).

2. Di dua puskesmas pedesaan Kabupaten Demak, yang melibatkan 163 pasangan ibu-bayi dan 163 nenek, kurangnya dukungan nenek termasuk faktor yang memperpendek durasi ASI eksklusif, dengan hazard ratio 2,04. Artinya, risiko berhenti lebih cepat sekitar dua kali lipat. Faktor lain adalah menerima sampel susu formula saat pulang dari fasilitas bersalin (HR 1,99). Satu-satunya faktor yang berkaitan dengan durasi lebih panjang adalah pengetahuan ibu yang tinggi (Susiloretni et al., 2015).

3. Penelitian di Sidoarjo menempatkan nenek sebagai “referensi pribadi” yang memengaruhi perilaku menyusui eksklusif ibu, dan menyarankan pelibatan nenek sebagai bentuk dukungan keluarga. Latarnya, cakupan ASI eksklusif saat itu 52,3% (2014), masih di bawah target nasional 80% (Pujiastuti, 2021).

4. Wawancara dengan 84 ibu dan 36 orang pendukung (suami, nenek, bidan, konselor laktasi) di Jawa, Bali, dan Flores menemukan bahwa nenek dan ayah adalah sumber dukungan utama. Namun dukungan nenek kerap dibungkus kritik atau mitos, sedangkan dukungan ayah sering tidak efektif karena kurang pengetahuan. Studi ini menekankan bahwa komunikasi menjadi pusat keputusan menyusui (“A Qualitative Inquiry…”, t.t.).

5. Studi kualitatif di Jawa Tengah menunjukkan bahwa keluarga, komunitas, tenaga kesehatan, dan pekerjaan memengaruhi keputusan ibu untuk terus menyusui atau memberi formula. Pada ibu perkotaan, hambatan seperti anggapan ASI kurang, rasa lapar atau kenyang anak, gigitan, dan penolakan menyusu mendorong pemberian formula (“Factors influencing…”, 2023).

Poin terakhir penting untuk kasus tadi. Bayi yang menolak menyusu memang dikenal sebagai hambatan nyata, tetapi hal itu perlu dicari penyebabnya bersama tenaga kesehatan, bukan diselesaikan dengan membuang stok ASI.

Jalan Tengah: Bicara Sebelum Ada yang Terluka

Temuan-temuan di atas mengarah ke satu pesan: masalahnya bukan niat, tetapi cara kasih sayang itu bertemu. Beberapa hal bisa dicoba, dan sebagian besar dimulai dari percakapan, bukan dari adu argumen.

1. Jadikan anak dan suami sebagai penghubung. Dalam bahasa jaringan, ia adalah broker, simpul yang terhubung ke dua pihak lain dan bisa menerjemahkan keduanya (Marcum & Koehly, 2015). Menyampaikan batasan kepada orang tua sendiri adalah tugasnya, bukan beban menantu. Kalimat sederhana seperti “Bu, ASI Ayu itu hasil kerja kerasnya, tolong jangan dibuang ya” akan terdengar lebih lembut dari mulut anaknya sendiri.

2. Akui kontribusi sebelum membahas aturan. “Terima kasih sudah menjaga si kecil” membuka pintu yang tidak bisa dibuka oleh “Ibu salah”. Nenek yang merasa dihargai biasanya lebih mau mendengar. Sebaliknya, ibu yang merasa jerih payahnya diakui lebih mudah bersikap lapang.

3. Libatkan nenek dalam edukasi, jangan hanya menggurui. Pengetahuan ibu tercatat sebagai satu-satunya faktor yang berkaitan dengan ASI eksklusif lebih lama (Susiloretni et al., 2015), dan nenek adalah “referensi pribadi” yang kuat (Pujiastuti, 2021). Karena itu, ajak nenek ikut ke posyandu atau konseling bidan. Pengetahuan yang diterima dari tenaga kesehatan sering lebih mudah diterima daripada koreksi dari menantu.

4. Pakai pihak ketiga yang netral. Ukuran bayi sehat ada pada kurva pertumbuhan, bukan pada pipi. Jika bayi menolak menyusu, periksakan ke bidan, dokter anak, atau konselor laktasi. Kalau akhirnya formula memang dibutuhkan, itu keputusan yang sah dan sebaiknya diambil bersama tenaga kesehatan, bukan lewat tekanan atau tindakan sepihak.

5. Sepakati wilayah masing-masing. Nenek punya ruang luas: menggendong, menemani, bercerita, memasak. Keputusan soal asupan bayi dan penyimpanan ASI tetap di tangan orang tua. Memberi label jelas pada stok ASI perah dan memberi tahu seisi rumah apa isinya adalah langkah kecil yang mencegah salah paham.

6. Kalau sudah terlanjur terjadi. Beri diri jeda sebelum membalas dalam keadaan marah. Bicarakan berdua dengan kalimat yang berawal dari “aku”: “Aku sedih karena ini hasil begadangku.” Lalu minta kesepakatan untuk ke depan, bukan pengakuan bersalah. Tujuannya memperbaiki hubungan, bukan memenangkan perdebatan.

7. Untuk peneliti dan pembuat kebijakan. Kita butuh lebih banyak studi jaringan keluarga di Indonesia yang mengukur langsung aliran dukungan dan konflik antara ibu, nenek, dan ayah, bukan hanya menyimpulkan dari siapa yang tinggal serumah. Program ASI juga sebaiknya menyasar seluruh keluarga, karena dukungan nenek dan ayah terbukti menentukan, sementara sampel susu formula di fasilitas bersalin ikut memperpendek ASI eksklusif (Susiloretni et al., 2015; “A Qualitative Inquiry…”, t.t.).

Penutup: Sayang yang Perlu Diterjemahkan

Kepada para ibu: lelahmu nyata. ASI yang dibuang itu bukan sekadar susu, melainkan malam-malam yang kamu korbankan dan tenaga yang kamu sisihkan dari dirimu sendiri. Wajar jika kamu marah, sedih, atau merasa tidak dihargai. Perasaanmu tidak berlebihan. Dan jika suatu hari kamu memilih formula, kamu tetap ibu yang sedang berusaha sebaik-baiknya.

Kepada para nenek: barangkali yang kalian pertahankan adalah cara mencintai yang dulu kalian pelajari dan jalani dengan sepenuh hati. Kekhawatiran akan cucu yang kurus bukan kesalahan, dan kerinduan untuk tetap berarti di rumah anak sendiri juga manusiawi. Zaman dan pengetahuannya hanya bergeser, dan itu bukan penilaian atas pengasuhan kalian dahulu.

Kepada para suami dan anak yang berdiri di tengah: diam memang terasa seperti menjaga damai, tetapi di sinilah suaramu paling dibutuhkan. Kamu tidak harus memilih salah satu. Kamu cukup menjadi jembatan yang jujur dan lembut.

Keluarga bukan arena menang dan kalah. Ia sebuah jaringan, tempat kasih sayang mengalir ke banyak arah. Kalau alirannya tersumbat oleh sungkan, yang rugi bukan hanya ibu atau nenek, tetapi juga bayi yang tumbuh di tengahnya. Bayi tidak akan mengingat siapa yang menang berdebat. Ia akan merasakan apakah orang-orang yang menggendongnya saling bicara dengan hangat, atau saling menahan napas.

Semoga kita belajar mengatakan, “Aku sayang, tapi aku kurang nyaman,” tanpa takut kehilangan satu sama lain. Dan semoga tak ada lagi ibu yang harus menemukan hasil begadangnya di tempat sampah.

***

Daftar Pustaka

Casper, L. M., & Bryson, K. R. (1998). Co-resident grandparents and their grandchildren: Grandparent maintained families. U.S. Census Bureau. (Dikutip dalam Marcum & Koehly, 2015.)
“A qualitative inquiry into Indonesian women’s breastfeeding decision-making.” (t.t.). Indiana University. https://scholarworks.indianapolis.iu.edu/items/e27739b0-6919-4b92-8784-d2dacb7a6019/full (Nama penulis dan tahun belum terverifikasi dari halaman sumber; perlu dilengkapi.)
“Factors influencing breastfeeding continuation and formula feeding beyond six months in rural and urban households in Indonesia: A qualitative investigation.” (2023). International Breastfeeding Journal, 18(1), 48. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10472632 (Nama penulis belum terverifikasi; perlu dilengkapi.)
Marcum, C. S., & Koehly, L. M. (2015). Inter-generational contact from a network perspective. Advances in Life Course Research, 24. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4458302
Park, et al. (2013). An empirical typology of social networks and its association with physical and mental health: A study with older Korean immigrants. The Journals of Gerontology: Series B, gbt065. (Dikutip dalam Marcum & Koehly, 2015; nama penulis lengkap perlu dilengkapi dari sumber aslinya.)
Pujiastuti, N. (2021). Grandmother’s role as a personal reference toward exclusive breastfeeding behavior. Media Karya Kesehatan, 4(1). https://journals.unpad.ac.id/mkk/article/view/31459
Susiloretni, K. A., Hadi, H., et al. (2015). What works to improve duration of exclusive breastfeeding: Lessons from the exclusive breastfeeding promotion program in rural Indonesia. Maternal and Child Health Journal, 19(7), 1515–1525. https://link.springer.com/article/10.1007/s10995-014-1656-z
Widyastuti, D. E., Hakimi, M., & Fitriahadi, E. (2020). Studi kualitatif: Persepsi ibu yang tinggal dengan nenek mengenai ASI. Jurnal Kebidanan dan Keperawatan Aisyiyah, 16(1), 96–110. https://doi.org/10.31101/jkk.1283
World Health Organization. (2011, 15 Januari). Exclusive breastfeeding for six months best for babies everywhere. https://www.who.int/news-room/detail/15-01-2011-exclusive-breastfeeding-for-six-months-best-for-babies-everywhere

***

Foto: Ilustrasi (Gemini Google AI)
 

jurnal,anak dan mertua,menantu dan ibu,asi

ARTIKEL LAINNYA

Lansia Kesepian di Malaysia Meningkat, Teknologi & Komunitas Jadi Kunci

Usia 50 Tahun, Ketika Hati Masih Merasa Muda tetapi Usia Terus Bertambah

9 dari 10 Orang dengan Depresi Belum Terjangkau Pengobatan, Bagaimana dengan Lansia?

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026