9 dari 10 Orang dengan Depresi Belum Terjangkau Pengobatan, Bagaimana dengan Lansia?


... Namun, bukan berarti setiap lansia yang sedih atau merasa kesepian mengalami depresi.

2026-10-13T07:14

GERIATRI.CO.ID - Kesedihan yang berkepanjangan, kehilangan minat melakukan kegiatan favorit, atau semakin sering menyendiri kerap dianggap sebagai bagian dari proses menua. Padahal, perubahan tersebut bisa menjadi tanda masalah kesehatan mental yang perlu diperhatikan.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyoroti masih lebarnya kesenjangan penanganan depresi di Indonesia. Dalam keterangan pada 9 Oktober 2026, Kemenkes menyebut hanya 12,7 persen orang dengan depresi yang mendapatkan pengobatan. Artinya, sekitar sembilan dari sepuluh orang dengan depresi belum terjangkau layanan kesehatan.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dikutip Kemenkes menunjukkan prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen, atau diperkirakan sekitar 2,5 juta hingga 3 juta orang. Angka tersebut mencakup berbagai kelompok usia, bukan hanya lansia. 

Meski demikian, persoalan ini menjadi pengingat penting bahwa kesehatan mental perlu mendapat perhatian sepanjang kehidupan, termasuk ketika seseorang memasuki usia lanjut.

Memasuki usia lanjut, seseorang dapat menghadapi berbagai perubahan, mulai dari pensiun, kehilangan pasangan atau teman dekat, penurunan kemampuan fisik, hingga berkurangnya kesempatan bersosialisasi.

Perubahan tersebut dapat memengaruhi kondisi emosional. Namun, bukan berarti setiap lansia yang sedih atau merasa kesepian mengalami depresi.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), depresi berbeda dari perubahan suasana hati yang biasa terjadi sehari-hari. Depresi ditandai dengan suasana hati yang tertekan atau hilangnya minat dan kesenangan dalam jangka waktu panjang, umumnya hampir setiap hari selama setidaknya dua minggu.

WHO memperkirakan sekitar 5,4 persen orang berusia 70 tahun ke atas di dunia mengalami depresi pada 2023. WHO juga menekankan bahwa masalah kesehatan mental pada lansia kerap tidak dikenali dan tidak mendapatkan penanganan yang memadai.

Mengapa depresi pada lansia bisa luput dari perhatian?

Salah satu tantangannya adalah gejala depresi terkadang dianggap sebagai konsekuensi alami dari penuaan.

Lansia yang mulai jarang keluar rumah, kehilangan semangat, atau tidak lagi menikmati kegiatan yang dahulu disukai mungkin dianggap sedang beradaptasi dengan masa pensiun atau perubahan kondisi fisik.

Padahal, keluarga perlu memperhatikan apakah perubahan tersebut berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Kehilangan minat terhadap kegiatan yang sebelumnya disukai.
  • Lebih sering merasa sedih, hampa, mudah tersinggung, atau putus asa.
  • Mengalami perubahan pola tidur atau nafsu makan.
  • Merasa tidak berharga atau menjadi beban keluarga.
  • Sulit berkonsentrasi atau mengambil keputusan.
  • Menarik diri dari keluarga dan lingkungan sosial.
  • Merasa sangat lelah atau kehilangan energi tanpa penjelasan yang jelas.

Tidak semua tanda tersebut berarti seseorang mengalami depresi. Namun, apabila berlangsung menetap, terutama selama dua minggu atau lebih, sebaiknya lansia mendapatkan penilaian dari tenaga kesehatan.

Kemenkes menyebut sebanyak 6.549 puskesmas, atau sekitar 64 persen dari total puskesmas di Indonesia, telah mampu memberikan pelayanan kesehatan jiwa. 

Pemerintah menargetkan seluruh puskesmas dapat menyediakan layanan tersebut dalam dua tahun ke depan. Artinya, puskesmas dapat menjadi salah satu titik awal bagi keluarga yang ingin berkonsultasi mengenai perubahan suasana hati atau dugaan depresi pada lansia. 

Tenaga kesehatan dapat melakukan penilaian awal dan menentukan apakah diperlukan penanganan lanjutan. Depresi dapat ditangani melalui pendekatan psikologis, obat-obatan bila diperlukan, atau kombinasi keduanya sesuai penilaian tenaga kesehatan. Depresi bukan kelemahan karakter dan bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja karena seseorang sudah berusia lanjut.

Jika lansia mengungkapkan keinginan untuk mengakhiri hidup atau menunjukkan risiko menyakiti diri, jangan biarkan mereka menghadapi situasi tersebut sendirian. Segera cari pertolongan medis darurat. (lia)

***

Foto: pexels.com


 

depresi,depresi lansia,lansia depresi,lansia sehat,merawat lansia

ARTIKEL LAINNYA

Solusi Problem 3 Generasi dan ASI yang Terbuang

Lansia Kesepian di Malaysia Meningkat, Teknologi & Komunitas Jadi Kunci

Usia 50 Tahun, Ketika Hati Masih Merasa Muda tetapi Usia Terus Bertambah

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026