
GERIATRI.CO.ID – Baru saja pulang dari rumah sakit, tetapi tak lama kemudian harus kembali menjalani perawatan. Situasi ini bisa menjadi pengalaman melelahkan bagi lansia maupun keluarga yang mendampinginya.
Kembali dirawat setelah keluar dari rumah sakit bukanlah persoalan sepele. Selain menambah beban biaya dan tenaga, kondisi tersebut juga dapat mengganggu proses pemulihan serta memengaruhi kualitas hidup lansia.
Sebuah penelitian yang melibatkan tim dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga bersama peneliti lainnya di Surabaya menyoroti salah satu faktor yang berkaitan dengan risiko tersebut, yakni penggunaan banyak jenis obat sekaligus atau polifarmasi.
Hampir 1 dari 3 Pasien Kembali Dirawat
Situs unair.ac.id mengungkapkan, penelitian ini menelusuri rekam medis 1.533 pasien berusia 60 tahun ke atas yang menjalani rawat inap pada Juli 2018 hingga Oktober 2019. Seluruh pasien yang diteliti menggunakan sedikitnya lima jenis obat selama perawatan.
Para peneliti mengamati kejadian rawat inap ulang yang tidak direncanakan serta kunjungan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) dalam waktu 30 hari dan 12 bulan setelah pasien pulang.
Hasilnya, sebanyak 18,4 persen pasien kembali menjalani rawat inap dalam 30 hari. Dalam kurun waktu satu tahun, angka tersebut meningkat menjadi 29 persen.
Sementara itu, 12,3 persen pasien kembali mengunjungi IGD dalam 30 hari setelah pulang. Persentasenya mencapai 22,6 persen dalam waktu satu tahun.
Angka ini menunjukkan bahwa masa setelah keluar dari rumah sakit masih menjadi periode yang perlu diwaspadai. Pemulihan lansia membutuhkan pemantauan, terutama jika mereka memiliki penyakit kronis dan harus menjalani pengobatan dengan berbagai jenis obat.
Mengapa Banyak Obat Perlu Diperhatikan?
Polifarmasi merupakan istilah medis untuk penggunaan beberapa jenis obat secara bersamaan, yang umumnya merujuk pada lima jenis obat atau lebih.
Kondisi ini cukup sering dijumpai pada lansia karena mereka mungkin memiliki sejumlah penyakit yang membutuhkan pengobatan berbeda. Namun, semakin banyak obat yang dikonsumsi, semakin penting pula memastikan ketepatan dosis, jadwal minum, serta kemungkinan interaksi antarobat.
Perubahan fungsi tubuh seiring pertambahan usia juga dapat memengaruhi cara obat diproses dan dikeluarkan dari tubuh. Akibatnya, sebagian lansia berisiko mengalami efek samping tertentu.
Dalam penelitian tersebut, penggunaan banyak obat saat pasien pulang dari rumah sakit berkaitan dengan meningkatnya risiko rawat inap ulang, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Polifarmasi juga menjadi faktor yang paling kuat berkaitan dengan kunjungan IGD dalam pengamatan selama 12 bulan.
Meski demikian, bukan berarti lansia harus mengurangi atau menghentikan obat yang diresepkan. Obat tetap diperlukan untuk mengendalikan penyakit. Hal yang perlu dilakukan adalah mengevaluasi apakah seluruh obat masih sesuai dengan kebutuhan pasien.
Penyakit Kronis Juga Menjadi Faktor Risiko
Selain penggunaan banyak obat, penelitian ini menemukan sejumlah kondisi yang berkaitan dengan risiko rawat inap ulang, antara lain gagal jantung, kanker, penyakit ginjal, diabetes, dan rheumatoid arthritis.
Pasien yang menjalani rawat inap selama empat hingga enam hari pada perawatan sebelumnya juga termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian.
Adapun usia 85 tahun ke atas, penyakit hati, tukak lambung, dan gagal jantung berkaitan dengan risiko kunjungan kembali ke IGD.
Temuan tersebut menegaskan bahwa kebutuhan perawatan lansia tidak bisa disamaratakan. Riwayat penyakit, kondisi fisik, pengobatan yang dijalani, serta kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari perlu menjadi pertimbangan dalam merencanakan pemulihan.
Keluarga Berperan Penting Setelah Lansia Pulang
Bagi keluarga, kepulangan lansia dari rumah sakit bukan berarti seluruh proses perawatan telah selesai. Justru, pendampingan di rumah menjadi bagian penting untuk membantu pasien pulih dengan aman.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memastikan keluarga memahami daftar obat yang harus dikonsumsi. Catat nama obat, dosis, waktu minum, dan kegunaannya. Jika ada obat yang tampak serupa atau menimbulkan keluhan tertentu, konsultasikan dengan dokter atau apoteker.
Keluarga juga perlu membantu lansia mengikuti jadwal pengobatan dan kontrol sesuai anjuran tenaga kesehatan. Jangan mengurangi dosis ataupun menghentikan obat tanpa berkonsultasi terlebih dahulu.
Jika muncul tanda bahaya, seperti sesak napas berat, nyeri dada, atau penurunan kesadaran, segera cari pertolongan medis. Jangan menunggu hingga kondisi semakin memburuk.
Bagi tenaga kesehatan, evaluasi obat sebelum pasien meninggalkan rumah sakit merupakan langkah penting untuk mengidentifikasi potensi masalah pengobatan. Edukasi kepada pasien dan keluarga juga diperlukan agar perawatan lanjutan dapat dilakukan dengan tepat.
Tetap Perhatikan Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini menggunakan data rekam medis dari satu rumah sakit di Surabaya sehingga hasilnya belum tentu mewakili seluruh populasi lansia di Indonesia. Studi tersebut juga hanya melibatkan pasien yang menggunakan sedikitnya lima jenis obat, tidak termasuk pasien ICU maupun pasien yang menjalani operasi.
Selain itu, kunjungan ulang hanya dapat teridentifikasi jika pasien kembali ke rumah sakit yang sama. Pasien yang berobat ke fasilitas kesehatan lain mungkin tidak tercatat dalam penelitian tersebut.
Meski memiliki keterbatasan, hasil penelitian ini memberikan pengingat penting bagi keluarga dan tenaga kesehatan bahwa pengelolaan obat perlu mendapat perhatian khusus, terutama pada lansia dengan berbagai penyakit penyerta.
Pada akhirnya, tujuan perawatan bukan sekadar membuat lansia pulang dari rumah sakit, melainkan membantu mereka menjalani pemulihan sebaik mungkin. Dengan pengobatan yang tepat, pemantauan kondisi kesehatan, dan dukungan keluarga, risiko masalah kesehatan setelah kepulangan dapat dikenali lebih dini. (a2s)
***
* Artikel populer ini disarikan dari hasil penelitian: Faisal, S., Zairina, E., Khan, F.U., Khotib, J., & Ahmad, T. (2026). A Retrospective Analysis of Factor Influencing Readmissions and Emergency Visits Post-discharge in Elderly Patients. SN Comprehensive Clinical Medicine, 8, 253. https://doi.org/10.1007/s42399-026-02507-4
***
Foto: Ilustrasi (AI)
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri