Bagaimana Cara Menyelamatkan Orang Tua Saat Kebakaran?


Jangan sampai ketika kebakaran terjadi, lansia justru kesulitan keluar karena terhalang tumpukan barang atau pintu yang sulit dibuka.

2026-10-06T13:14

GERIATRI.CO.ID – Kebakaran rumah bisa terjadi kapan saja dan menimpa siapa saja. Namun, ketika musibah ini terjadi di rumah yang dihuni seorang lanjut usia (lansia), risiko yang dihadapi bisa jauh lebih besar. Bukan semata-mata karena kobaran api, melainkan juga karena keterbatasan fisik yang membuat lansia tidak selalu mampu menyelamatkan diri dengan cepat.

Peristiwa rumah terbakar yang berujung pada meninggalnya seorang lansia tentu menjadi pengingat bagi keluarga. Dalam situasi darurat, beberapa menit pertama sangat menentukan. Lansia yang mengalami kesulitan berjalan, menggunakan kursi roda, memiliki gangguan penglihatan atau pendengaran, bahkan mengalami penurunan daya ingat, membutuhkan perhatian khusus.

Lantas, apa yang bisa dilakukan keluarga agar lansia lebih terlindungi dari ancaman kebakaran?

1. Pasang alarm pendeteksi asap

Salah satu perlengkapan penting di rumah adalah smoke detector atau alat pendeteksi asap. Alat ini dapat memberikan peringatan dini ketika mulai terdeteksi asap, sehingga penghuni rumah mempunyai kesempatan lebih cepat untuk menyelamatkan diri.

Tempatkan alat tersebut di area yang sesuai dengan petunjuk pemasangan, terutama di sekitar kamar tidur dan area yang berisiko. Pastikan baterai dan fungsinya diperiksa secara berkala. Jika lansia memiliki gangguan pendengaran, pertimbangkan alarm dengan lampu berkedip atau getaran.

2. Siapkan jalur evakuasi yang mudah dilalui

Keluarga perlu memastikan jalan keluar rumah tidak terhalang barang, kursi, meja, atau perabot lainnya. Bagi lansia yang menggunakan tongkat, walker, maupun kursi roda, jalur evakuasi harus cukup lebar dan mudah dilewati.

Jangan sampai ketika kebakaran terjadi, lansia justru kesulitan keluar karena terhalang tumpukan barang atau pintu yang sulit dibuka.

3. Letakkan alat bantu jalan di dekat tempat tidur

Tongkat, walker, kacamata, alat bantu dengar, dan alas kaki sebaiknya ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau. Jangan menyimpannya terlalu jauh dari tempat tidur.

Kebakaran bisa terjadi ketika lansia sedang tidur. Dalam kondisi terbangun mendadak, mereka membutuhkan alat bantu tersebut untuk bergerak menuju pintu keluar.

4. Sediakan pendamping atau orang yang bertanggung jawab

Apabila lansia tinggal bersama keluarga, tentukan siapa yang bertanggung jawab membantu mereka ketika terjadi keadaan darurat. Jangan menganggap semua anggota keluarga otomatis mengetahui tugas masing-masing.

Jika lansia tinggal sendirian, keluarga perlu meminta bantuan tetangga terdekat untuk ikut mengetahui kondisi dan rencana penyelamatan. Terutama bagi lansia yang memiliki keterbatasan mobilitas.

5. Kenali dan kurangi sumber kebakaran

Periksa instalasi listrik, stopkontak, kabel yang terkelupas, kompor gas, serta peralatan rumah tangga yang berpotensi memicu kebakaran. Hindari penggunaan sambungan listrik bertumpuk dan jangan meninggalkan kompor menyala tanpa pengawasan.

Jika lansia menggunakan peralatan medis yang membutuhkan listrik atau oksigen, keluarga juga harus memastikan penggunaannya mengikuti petunjuk keselamatan. Jauhkan oksigen medis dari rokok, api, dan sumber panas karena oksigen dapat mempercepat kebakaran.

6. Jika api muncul, segera selamatkan lansia

Ketika melihat api atau mencium bau asap, segera berikan peringatan kepada seluruh penghuni rumah. Prioritaskan penyelamatan jiwa, bukan barang berharga.

Bantu lansia menuju pintu keluar terdekat yang aman. Jika mereka menggunakan kursi roda atau tidak mampu berjalan, gunakan bantuan orang lain atau peralatan evakuasi yang sesuai apabila tersedia. Jangan memaksakan diri mengangkat lansia sendirian jika hal itu justru membahayakan keduanya.

7. Hindari asap tebal dan jangan kembali ke dalam rumah

Dalam kebakaran, asap juga merupakan ancaman serius. Jika jalur keluar mulai dipenuhi asap, usahakan bergerak dengan posisi serendah mungkin atau merangkak karena udara di dekat lantai umumnya lebih sedikit tercemar asap.

Jangan membuang waktu untuk mengambil pakaian, dokumen, uang, atau barang lainnya. Setelah berhasil keluar, jangan pernah kembali masuk ke rumah yang terbakar, meskipun masih ada barang atau anggota keluarga yang tertinggal. Serahkan penanganannya kepada petugas pemadam kebakaran.

8. Bagaimana jika lansia terjebak dan tidak bisa keluar?

Jika jalur keluar sudah tertutup api atau asap, jangan memaksakan diri melewati kobaran api. Segera hubungi petugas pemadam kebakaran dan sampaikan lokasi lansia secara jelas, termasuk ruangan tempat mereka berada.

Jika memungkinkan, tempatkan lansia di ruangan yang jauh dari sumber api, tutup pintu untuk memperlambat masuknya asap, dan beri tahu petugas mengenai keberadaan mereka. Usahakan memberikan tanda dari jendela atau tempat yang aman agar keberadaan lansia mudah diketahui petugas penyelamat.

9. Setelah berhasil diselamatkan, periksa kondisi lansia

Lansia yang berhasil keluar dari kebakaran tetap perlu mendapatkan pemeriksaan medis, terutama jika sempat menghirup asap, mengalami luka bakar, batuk, sesak napas, pusing, atau penurunan kesadaran.

Jangan menunggu sampai gejala menjadi berat. Paparan asap dapat menimbulkan gangguan pernapasan yang serius, bahkan ketika luka bakar pada tubuh tidak terlihat.

Keselamatan Lansia Dimulai dari Kesiapan Keluarga

Kebakaran memang tidak selalu bisa diprediksi. Namun, risiko kehilangan nyawa dapat dikurangi melalui persiapan yang tepat. Keluarga perlu memahami bahwa lansia tidak selalu bisa bergerak secepat anggota keluarga lainnya.

Karena itu, menyiapkan alarm asap, jalur evakuasi, alat bantu jalan, serta pendamping yang siap membantu bukanlah hal sepele. Justru itulah bentuk kepedulian nyata terhadap keselamatan orang tua.

Jangan menunggu musibah terjadi untuk mulai memikirkan cara menyelamatkan lansia. Sebab, ketika api sudah membesar, kesempatan untuk bertindak bisa menjadi sangat terbatas. (a2s)

***

Foto: Lansia tewas dalam kebakaran rumah di Bukittinggi pada Mei 2026. (kabarminang.com)

***

Sudah mendaftar untuk Pelatihan Caregiver? 

 

kebakaran,kebakaran lansia,penyelamatan lansia,lansia

ARTIKEL LAINNYA

Lansia Minum Sedikit karena Takut Sering ke Toilet, Apa Risikonya?

Gigi Tak Lagi Sekuat Dulu? Ini 7 Sayuran yang Ramah untuk Kunyahan Lansia

Mengapa Caregiver Harus Benar-Benar Siap Mendampingi Lansia?

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026