
GERIATRI.CO.ID - Takut bolak-balik ke toilet sering membuat lansia memilih cara sederhana: mengurangi minum. Terutama bagi mereka yang memiliki gangguan kontrol kandung kemih, sulit berjalan, atau khawatir harus terbangun berkali-kali pada malam hari.
Masalahnya, membatasi minum terlalu banyak justru dapat membawa masalah kesehatan lain.
Lansia memang termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami dehidrasi. Seiring bertambahnya usia, rasa haus dapat berkurang sehingga tubuh tidak selalu memberikan sinyal haus yang kuat ketika membutuhkan cairan. Kekhawatiran terhadap inkontinensia atau sulit mencapai toilet juga dapat membuat lansia sengaja mengurangi asupan minum.
Terdapat beberapa risiko yang bisa terjadi jika lansia kekurangan minum, di antaranya yaitu:
1. Dehidrasi
Risiko paling jelas adalah kekurangan cairan atau dehidrasi. Cairan dibutuhkan tubuh untuk berbagai fungsi, termasuk menjaga sirkulasi, membantu proses pembuangan zat sisa melalui urine, dan mempertahankan fungsi organ.
Pedoman ESPEN terbaru tentang nutrisi dan hidrasi pada geriatri menempatkan lansia sebagai kelompok yang perlu diperhatikan terhadap risiko low-intake dehydration dan menganjurkan asupan minum yang memadai secara individual.
Tanda dehidrasi yang perlu diperhatikan antara lain mulut kering, urine berwarna lebih gelap, lebih jarang buang air kecil, lemas, pusing, sakit kepala hingga kebingungan.
2. Risiko infeksi saluran kemih meningkat
Ketika asupan cairan terlalu sedikit, frekuensi buang air kecil dapat berkurang. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko masalah pada saluran kemih, termasuk infeksi saluran kemih (ISK).
Pada lansia, ISK juga perlu diperhatikan karena gejalanya tidak selalu khas. Perubahan perilaku, kebingungan baru, rasa mengantuk, nyeri saat buang air kecil, atau perubahan pola berkemih dapat menjadi tanda yang perlu diperiksa.
Namun, bukan berarti setiap lansia yang jarang minum pasti mengalami ISK. Risiko dipengaruhi berbagai faktor lain dan perlu dilihat secara individual.
3. Sembelit atau konstipasi
Kurang minum juga dapat memperburuk konstipasi. Cairan berperan dalam membantu proses pencernaan dan menjaga konsistensi tinja. Sejumlah panduan layanan kesehatan lansia memasukkan konstipasi sebagai salah satu masalah yang dapat muncul ketika seseorang mengalami dehidrasi.
Pada lansia yang sudah jarang bergerak atau mengonsumsi obat tertentu, masalah ini dapat menjadi semakin berat.
4. Pusing dan risiko jatuh
Dehidrasi dapat menyebabkan pusing atau kepala terasa ringan. Pada lansia yang keseimbangannya sudah menurun, kondisi tersebut dapat menjadi masalah serius karena meningkatkan kemungkinan kehilangan keseimbangan dan jatuh.
Jatuh sendiri bukan masalah sepele. CDC mencatat bahwa lebih dari 1 dari 4 orang berusia 65 tahun ke atas mengalami jatuh setiap tahun.
Karena itu, mengurangi minum demi mengurangi perjalanan ke toilet dapat menciptakan persoalan baru: lansia memang mungkin lebih jarang ke toilet, tetapi justru dapat menjadi lebih lemas atau pusing.
5. Kebingungan bisa muncul
Pada lansia, dehidrasi juga dapat disertai kebingungan atau perubahan kondisi mental.
Ini penting karena perubahan mendadak pada perilaku atau kesadaran lansia sering kali dianggap hanya sebagai “efek usia”. Padahal, dehidrasi dapat menjadi salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan.
Lantas, bagaimana jika lansia memang sering buang air kecil?
Solusinya bukan otomatis dengan mengurangi minum secara drastis. Penyebab sering buang air kecil perlu dicari.
Keluhan tersebut dapat berkaitan dengan berbagai kondisi, misalnya gangguan kandung kemih, infeksi saluran kemih, pembesaran prostat pada laki-laki, diabetes, obat diuretik, atau kondisi medis lainnya.
Jika lansia sering terbangun malam hari untuk buang air kecil, pengaturan waktu minum dapat menjadi salah satu strategi. Misalnya, sebagian besar kebutuhan cairan dipenuhi sejak pagi hingga sore dan tidak minum dalam jumlah besar menjelang tidur—tentunya tetap disesuaikan dengan kondisi medis masing-masing.
Panduan NHS juga menyarankan konsumsi cairan lebih banyak pada siang hari bagi orang yang khawatir harus sering ke toilet pada malam hari. Daripada meminta lansia membatasi minum, keluarga dapat membantu dengan cara yang lebih aman:
Yang juga penting, tidak semua lansia memiliki kebutuhan cairan yang sama. Lansia dengan gagal jantung, penyakit ginjal tertentu, atau kondisi medis lain mungkin memang mendapatkan instruksi pembatasan cairan dari dokter. Dalam kondisi tersebut, jumlah cairan harus mengikuti anjuran tenaga kesehatan, bukan menggunakan patokan umum. (lia)
***
Sudah mendaftar untuk Pelatihan Caregiver?
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri