
GERIATRI.CO.ID - Memesan transportasi, membayar tagihan, mengambil nomor antrean rumah sakit, membeli kebutuhan sehari-hari, hingga mengakses layanan pemerintah kini semakin sering dilakukan lewat layar ponsel.
Bagi banyak orang, perubahan ini terasa praktis. Namun bagi sebagian lansia, satu tombol yang berubah posisi atau prosedur yang semakin digital bisa menjadi penghalang untuk mendapatkan layanan yang sebenarnya mereka butuhkan.
Pertanyaannya, ketika semakin banyak layanan berpindah ke dunia digital, apakah lansia akan ikut terhubung atau justru semakin tertinggal?
Data BPS dalam "Statistik Penduduk Lanjut Usia 2025" menunjukkan penggunaan teknologi digital di kalangan lansia terus berkembang. Pada 2025, 52,23 persen lansia menggunakan telepon seluler, sementara 34,13 persen pernah mengakses internet.
Angka tersebut menunjukkan bahwa lansia bukan kelompok yang sepenuhnya asing dengan teknologi. Namun, masih ada bagian besar populasi lansia yang belum menggunakan internet.
Artinya, ketika sebuah layanan hanya tersedia secara digital, tidak semua lansia memiliki titik awal yang sama untuk mengaksesnya.
Memiliki telepon seluler juga tidak otomatis berarti seseorang memiliki keterampilan digital yang cukup.
Ada perbedaan antara menggunakan ponsel untuk menerima telepon atau pesan dengan melakukan aktivitas yang lebih kompleks, seperti membuat akun, mengingat kata sandi, mengisi formulir daring, melakukan verifikasi identitas, mengunggah dokumen, atau menggunakan aplikasi layanan kesehatan.
Bagi lansia, tantangannya dapat bertambah ketika terjadi perubahan penglihatan, pendengaran, kemampuan motorik, atau fungsi kognitif.
WHO menempatkan kemampuan menggunakan teknologi sebagai salah satu bagian yang semakin penting dalam lingkungan yang mendukung healthy ageing. Teknologi yang dirancang dengan baik dapat membantu lansia tetap terhubung, mandiri, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.
Digitalisasi sebenarnya dapat memberikan banyak manfaat bagi lansia. Layanan kesehatan jarak jauh, misalnya, dapat membantu orang yang kesulitan bepergian.
Teknologi komunikasi juga memungkinkan lansia tetap berhubungan dengan keluarga dan komunitas.
Namun, manfaat tersebut sangat bergantung pada apakah teknologinya dapat digunakan dengan mudah dan aman.
WHO melalui Decade of Healthy Ageing 2021–2030 menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung kemampuan lansia. Lingkungan tersebut mencakup bukan hanya rumah dan fasilitas fisik, tetapi juga teknologi serta akses terhadap informasi dan layanan.
Karena itu, layanan digital yang ramah lansia seharusnya tidak hanya bertanya, “Apakah layanan ini sudah online?” Tetapi juga, “Apakah lansia bisa menggunakannya?”
Ada beberapa hal sederhana yang dapat membuat perbedaan besar:
1. Tampilan sederhana
Tulisan yang cukup besar, kontras yang jelas, tombol yang mudah dikenali, dan navigasi sederhana dapat membantu pengguna dengan keterbatasan penglihatan atau kemampuan motorik.
2. Tidak terlalu banyak tahapan
Semakin panjang proses pendaftaran atau verifikasi, semakin besar kemungkinan pengguna mengalami kebingungan.
3. Ada bantuan manusia
Layanan digital sebaiknya tetap menyediakan petugas atau kanal bantuan ketika pengguna mengalami kesulitan.
4. Jangan menghilangkan seluruh layanan non-digital
Bagi sebagian lansia, layanan tatap muka atau bantuan melalui telepon masih sangat penting.
5. Perhatikan keamanan
Lansia yang baru mengenal layanan digital juga perlu dibekali pengetahuan mengenai penipuan daring, tautan palsu, permintaan OTP, dan pencurian data pribadi.
Anak atau anggota keluarga memang dapat membantu lansia menggunakan teknologi. Namun, membantu tidak selalu berarti mengambil alih seluruh proses.
Jika memungkinkan, biarkan lansia mencoba sendiri dengan pendampingan.
Misalnya, ketika membuat akun layanan kesehatan, keluarga dapat menunjukkan langkahnya terlebih dahulu, kemudian membiarkan lansia mengulanginya. Dengan begitu, teknologi tidak hanya menjadi sesuatu yang “dikerjakan anak”, tetapi menjadi keterampilan yang perlahan dapat dikuasai lansia.
Ini penting karena kemandirian bukan berarti lansia harus melakukan semuanya tanpa bantuan.
Kemandirian juga berarti memiliki kesempatan untuk memahami, memilih, dan menggunakan bantuan ketika membutuhkannya. (lia)
***
Foto: Ilustrasi (gemini.google.com)
***
Sudah mendaftar untuk Pelatihan Caregiver?
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri