Kacang-Kacangan untuk Lansia, Apa Manfaatnya dan Bagaimana Cara Menyajikannya?


Dibandingkan camilan yang tinggi gula atau garam, kacang tanpa tambahan berlebihan dapat menjadi pilihan yang lebih padat zat gizi.

2026-10-04T13:16

GERIATRI.CO.ID - Kacang tanah, kacang merah, kacang hijau, kedelai, hingga kacang-kacangan lainnya sering dianggap sekadar camilan. Padahal, kelompok pangan ini bisa menjadi bagian penting dari pola makan lansia.

Kacang-kacangan menyediakan protein nabati, serat, lemak tak jenuh, vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh. National Institute on Aging (NIA) juga memasukkan kacang-kacangan, biji-bijian, kacang polong, dan produk kedelai sebagai pilihan sumber protein yang bernutrisi bagi orang lanjut usia.

Namun, bukan berarti semua olahan kacang otomatis sehat. Cara memilih dan menyajikannya tetap penting, terutama bagi lansia yang memiliki masalah gigi, sulit mengunyah, diabetes, hipertensi, atau gangguan ginjal.

Berikut beberapa manfaat dari mengonsumsi kacang.

1. Membantu memenuhi kebutuhan protein

Seiring bertambahnya usia, menjaga asupan protein menjadi penting untuk membantu mempertahankan massa dan fungsi otot.

Kacang-kacangan dan produk kedelai dapat menjadi salah satu sumber protein dalam menu sehari-hari. NIA menyebutkan bahwa protein dari sumber nabati juga memberikan serat dan berbagai zat gizi lainnya, dengan kandungan lemak jenuh dan kolesterol yang umumnya lebih rendah dibandingkan sejumlah sumber protein hewani.

Namun, kacang-kacangan sebaiknya tidak menjadi satu-satunya sumber protein. Menu lansia tetap perlu beragam dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

2. Kaya serat

Kacang-kacangan juga merupakan sumber serat. Serat membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan dan dapat membantu menjaga keteraturan buang air besar. Ini menjadi penting karena konstipasi cukup sering menjadi masalah pada usia lanjut.

Untuk mendapatkan manfaatnya, konsumsi kacang sebaiknya menjadi bagian dari pola makan yang juga mencakup sayuran, buah, biji-bijian utuh dan cukup cairan—kecuali ada pembatasan cairan dari dokter.

3. Bisa menjadi pilihan camilan yang lebih bernutrisi

Dibandingkan camilan yang tinggi gula atau garam, kacang tanpa tambahan berlebihan dapat menjadi pilihan yang lebih padat zat gizi.

Kacang juga relatif praktis untuk dikonsumsi. Tetapi porsinya tetap perlu diperhatikan karena kacang memiliki kandungan energi yang cukup tinggi. Kuncinya bukan menghindari kacang karena kalorinya, tetapi memilih jenis dan porsi yang sesuai.

Kacang-kacangan tidak harus selalu dimakan utuh. Ini penting untuk lansia yang giginya sudah tidak lengkap atau kemampuan mengunyahnya menurun.

Kacang tanah atau kacang-kacangan yang keras dan kering mungkin sulit dikunyah. Karena itu, bentuk penyajiannya dapat diubah menjadi lebih lunak. Misalnya:

  • kacang merah dimasak hingga benar-benar empuk;
  • kacang hijau dibuat bubur dengan gula seminimal mungkin;
  • kedelai diolah menjadi tahu atau tempe;
  • kacang dapat ditumbuk atau dihaluskan dan dicampurkan ke makanan;
  • selai kacang dapat digunakan dalam jumlah secukupnya, dengan memilih produk yang rendah gula dan garam.

Dengan begitu, nilai gizinya tetap bisa diperoleh tanpa membuat lansia kesulitan mengunyah.

Namun, tidak semua olahan kacang memiliki nilai gizi yang sama. Kacang yang digoreng dengan banyak minyak, diberi garam berlebihan, atau dilapisi gula tentu berbeda dengan kacang yang direbus atau dipanggang tanpa banyak tambahan.

Untuk menu lansia, pilihan yang lebih sederhana dapat diprioritaskan, seperti direbus, dikukus, dimasak menjadi sup, atau diolah menjadi lauk yang tidak terlalu asin dan manis.

Khusus untuk kacang kemasan, biasakan membaca label. Perhatikan kandungan natrium, gula tambahan, dan lemak jenuh, terutama jika lansia memiliki hipertensi, diabetes, atau penyakit kardiovaskular. (lia)

***

Foto: Kacang hijau

***


bvc

***

Sudah mendaftar untuk Pelatihan Caregiver?

 

kacang-kacangan,kacang hijau,kacang kedelai,lansia sehat

ARTIKEL LAINNYA

Opa Oma, Siapakah Aku?

Olahraga Aman untuk Lansia di Tengah Cuaca Panas

Membatik di Usia Senja, Benarkah Bisa Menjadi Aktivitas yang Menyehatkan Lansia?

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026