Membatik di Usia Senja, Benarkah Bisa Menjadi Aktivitas yang Menyehatkan Lansia?


Bagi sebagian lansia, aktivitas seperti ini bisa menjadi kegiatan yang membuat mereka tetap aktif dan merasa memiliki sesuatu yang dikerjakan.

2026-10-02T10:22

GERIATRI.CO.ID - Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober bukan hanya tentang melestarikan kain tradisional Indonesia. Bagi lansia, aktivitas yang berkaitan dengan batik juga bisa menjadi kesempatan untuk tetap berkarya, berinteraksi, sekaligus menjaga rasa percaya diri.

Duduk di depan kain, memilih motif, memegang canting, lalu perlahan membuat pola mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi sebagian lansia, aktivitas seperti ini bisa menjadi kegiatan yang membuat mereka tetap aktif dan merasa memiliki sesuatu yang dikerjakan.

Lantas, apakah membatik benar-benar menyehatkan lansia?

Bukan sekadar mengisi waktu luang

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan healthy ageing bukan sekadar terbebas dari penyakit. Penuaan sehat berarti mengembangkan dan mempertahankan kemampuan fungsional yang memungkinkan seseorang tetap sejahtera pada usia lanjut.

Artinya, aktivitas lansia tidak harus selalu berupa olahraga. Kegiatan yang membuat lansia tetap terlibat, memiliki tujuan, berinteraksi dengan orang lain, dan menggunakan kemampuan yang masih dimiliki juga penting.

Dalam konteks ini, kegiatan seni dan kreativitas dapat menjadi salah satu pilihan. Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam Perspectives in Public Health pada 2024 menganalisis 93 penelitian mengenai seni dan kreativitas pada usia lanjut. Hasilnya menunjukkan bahwa berbagai aktivitas seni memiliki potensi memberikan manfaat pada aspek fisik, psikologis, dan sosial.

Untuk seni visual dan kreatif, penelitian menemukan bukti awal mengenai berkurangnya rasa kesepian serta meningkatnya rasa keterhubungan dengan komunitas.

Menjadi aktivitas yang bermakna

Membatik sendiri melibatkan beberapa aktivitas sekaligus. Lansia perlu memperhatikan pola, menggerakkan tangan secara terarah, memilih warna, serta menyelesaikan tahapan pekerjaan.

Namun, manfaatnya tidak seharusnya dilihat hanya dari gerakan tangan. Jika dilakukan bersama orang lain, kegiatan membatik juga dapat menjadi ruang untuk berbincang, bertukar cerita dan mempertahankan hubungan sosial.

WHO menempatkan partisipasi dalam kegiatan sosial, budaya dan rekreasi sebagai salah satu cara untuk membantu lansia tetap terintegrasi dengan masyarakat. 

Kegiatan lintas generasi juga dapat menjadi ruang bagi lansia untuk meneruskan pengetahuan, tradisi dan pengalaman kepada generasi berikutnya. Di sinilah batik memiliki nilai yang lebih luas.

Bisa membantu kesehatan mental dan sosial

Aktivitas kreatif juga berpotensi memberikan manfaat bagi kesejahteraan psikologis lansia.

Tinjauan sistematis terbaru mengenai partisipasi lansia dalam berbagai aktivitas seni menemukan adanya potensi manfaat terhadap kesejahteraan. Namun, peneliti juga menekankan bahwa kualitas bukti masih beragam dan manfaatnya tidak selalu konsisten pada semua jenis seni.

Artinya, membatik tidak bisa disebut sebagai obat untuk depresi, demensia, atau penyakit tertentu. Tetapi ketika dilakukan sebagai aktivitas yang menyenangkan dan sesuai kemampuan, membatik dapat menjadi salah satu cara untuk membuat hari lansia lebih aktif dan bermakna. Terlebih jika kegiatan tersebut dilakukan secara berkelompok.

Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan pada 2025 juga meneliti berbagai intervensi seni secara berkelompok pada orang dewasa berusia lebih dari 55 tahun tanpa demensia, termasuk aktivitas seperti melukis. 

Studi tersebut menunjukkan adanya potensi manfaat terhadap gejala depresi dan kecemasan, meski hasilnya tetap perlu dipahami sesuai jenis intervensi dan karakteristik pesertanya.

Hal yang tidak kalah penting, membatik untuk lansia tidak perlu dijadikan perlombaan menghasilkan kain yang sempurna. 

Kemampuan setiap lansia berbeda. Ada yang masih mampu menggunakan canting dengan baik, sementara yang lain mungkin lebih nyaman dengan aktivitas sederhana seperti menggambar pola, mewarnai motif batik, memilih warna atau sekadar berdiskusi mengenai motif yang mereka kenal.

Jika lansia memiliki keterbatasan penglihatan, tremor, gangguan koordinasi, atau masalah pada tangan, aktivitas juga perlu disesuaikan. Tujuannya bukan mengejar hasil produksi.

Yang lebih penting adalah prosesnya: lansia tetap bergerak sesuai kemampuan, menggunakan kreativitas, berinteraksi dan merasa dirinya masih memiliki peran.

Ada satu manfaat lain yang mungkin tidak terlihat langsung: membatik dapat mempertemukan generasi.

Lansia dapat menjadi sumber cerita mengenai batik yang pernah mereka kenakan, motif yang mereka kenal sejak kecil, atau pengalaman ketika menggunakan kain batik dalam berbagai acara keluarga.

Sementara itu, anak dan cucu dapat membantu dari sisi yang berbeda, misalnya mengenalkan desain baru, teknologi atau cara memasarkan hasil karya secara digital. Dengan demikian, batik tidak berhenti sebagai warisan budaya. (lia)

***

Foto: Asyik membatik (gemini.google.com)

***

Sudah mendaftar untuk Pelatihan Caregiver? 


 

Hari Batik Nasional,lansia membatik,mengisi waktu luang,lansia bahagia

ARTIKEL LAINNYA

'Senyumlah dan Biarlah Dunia Mengenal Kita'

Kemiskinan Lansia AS Naik, Usia 50-an Mulai Ikut Tertekan

Menjadikan Indonesia Bangsa yang 'Menang' di Era Aging Population

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026