
GERIATRI.CO.ID - Pernah mendapati Opa Oma di rumah sering terbangun pukul 01.00 atau 02.00 dini hari? Ada yang pergi ke kamar mandi, ada yang sekadar duduk di tempat tidur, bahkan ada yang sulit tidur kembali hingga menjelang pagi.
Kebiasaan ini cukup sering dialami orang lanjut usia (lansia). Namun, jangan buru-buru menganggapnya sebagai bagian biasa dari proses penuaan. Ada sejumlah faktor yang bisa menyebabkan tidur lansia menjadi tidak nyenyak.
Perubahan Pola Tidur karena Usia
Seiring bertambahnya usia, pola tidur seseorang memang mengalami perubahan. Lansia cenderung lebih mudah terbangun, tidur lebih ringan, dan sering kali mulai mengantuk lebih awal pada malam hari.
Waktu tidur nyenyak juga cenderung berkurang. Akibatnya, suara kecil, perubahan suhu ruangan, atau rasa tidak nyaman dapat membuat lansia terbangun.
Namun, perubahan ini bukan berarti lansia harus menerima gangguan tidur begitu saja. Salah satu penyebab paling umum adalah keinginan buang air kecil pada malam hari atau dikenal dengan istilah nocturia.
Pada sebagian lansia, kandung kemih lebih sering terasa penuh. Pada pria, pembesaran prostat juga dapat menyebabkan frekuensi buang air kecil meningkat.
Selain itu, kondisi seperti diabetes, gangguan ginjal, dan penggunaan obat tertentu, termasuk obat diuretik (pelancar urine), juga bisa berperan.
Jika terlalu sering terjadi, tidur lansia akan terputus-putus dan tubuh tidak memperoleh istirahat yang optimal.
Nyeri Sendi hingga Gangguan Pernapasan
Jangan lupakan faktor kesehatan lainnya. Nyeri akibat radang sendi, sakit punggung, atau kondisi kronis lainnya dapat membuat lansia sulit mempertahankan posisi tidur yang nyaman.
Ada pula gangguan tidur seperti sleep apnea, yaitu kondisi ketika pernapasan berhenti sesaat dan berulang kali selama tidur. Gejalanya dapat berupa mendengkur keras, terengah-engah saat tidur, dan mengantuk berlebihan pada siang hari.
Kondisi seperti ini perlu mendapat perhatian medis.
Kopi, Tidur Siang, dan Kebiasaan Sehari-hari
Kebiasaan sehari-hari juga dapat memengaruhi kualitas tidur.
Minum kopi atau teh berkafein menjelang malam, tidur siang terlalu lama, kurang bergerak, serta terlalu lama menonton televisi sebelum tidur bisa membuat lansia lebih sulit beristirahat.
Stres, rasa cemas, dan perubahan suasana hati juga dapat menyebabkan seseorang mudah terbangun pada malam hari.
Bagaimana Membantu Lansia Tidur Lebih Nyenyak?
Keluarga dan caregiver dapat melakukan beberapa langkah sederhana:
Jangan pula memberikan obat tidur tanpa berkonsultasi dengan dokter. Pada lansia, obat tertentu dapat meningkatkan risiko kebingungan dan terjatuh.
Jangan Abaikan Jika Terus Berulang
Jika lansia hampir setiap malam terbangun, sulit tidur kembali, atau mulai mengalami kelelahan dan mengantuk berlebihan pada siang hari, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga medis.
Terlebih jika disertai nyeri, gangguan buang air kecil, mendengkur keras, atau napas seperti terhenti saat tidur.
Keluarga juga sebaiknya mencatat jam tidur, berapa kali lansia terbangun, serta keluhan yang dirasakan. Catatan ini dapat membantu dokter mencari penyebabnya.
Tidur bukan sekadar memejamkan mata. Bagi lansia, tidur yang cukup dan berkualitas merupakan bagian penting untuk menjaga kesehatan, daya ingat, keseimbangan tubuh, dan kemandirian.
Jadi, jika opa oma sering terbangun tengah malam, jangan hanya menyuruh mereka kembali tidur. Cobalah mencari tahu apa yang sebenarnya membuat mereka terjaga. (a2s)
***
Foto: Ilustrasi (gemini.google.com)
***
Sudah mendaftar untuk Pelatihan Caregiver?
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri