Hari Lansia: Apa yang Bisa Dipelajari Anak Muda dari Orang Tua?


Mereka pernah hidup tanpa internet, tanpa telepon pintar, bahkan ketika berbagai layanan belum tersedia secara digital.

2026-10-01T12:36

GERIATRI.CO.ID - Menjadi tua bukan berarti berhenti belajar. Justru dari orang tua dan lansia, generasi muda bisa belajar banyak hal tentang kehidupan, ketahanan, hingga cara menghadapi perubahan.

Di tengah kehidupan yang serba cepat, anak muda mungkin merasa punya lebih banyak pengetahuan dibanding orang tua. Teknologi semakin mudah digunakan, informasi bisa didapat hanya dalam hitungan detik, dan berbagai hal dapat dilakukan dengan lebih praktis.

Namun, ada sesuatu yang tidak selalu bisa ditemukan di internet: pengalaman hidup.

Dari lansia, generasi muda bisa belajar bagaimana menghadapi masa sulit, membangun hubungan dengan orang lain, menjaga keluarga, hingga menerima perubahan dalam kehidupan.

Hal ini sejalan dengan pendekatan life course yang dikembangkan World Health Organization (WHO). WHO menekankan bahwa kesehatan dan kesejahteraan seseorang terbentuk sepanjang perjalanan hidup dan bahwa hubungan antargenerasi juga memiliki peran penting. Bahkan, WHO mendorong hubungan seperti lansia yang menjadi mentor bagi generasi muda.

Lalu, apa saja yang bisa dipelajari anak muda dari lansia?

1. Belajar tentang kesabaran

Generasi sekarang hidup dalam budaya serba cepat. Pesan harus segera dibalas, makanan bisa datang dalam hitungan menit, dan informasi tersedia dalam sekali pencarian.

Sementara itu, banyak lansia tumbuh di masa ketika berbagai hal membutuhkan proses dan waktu.

Bukan berarti semua kebiasaan lama harus diikuti. Namun, pengalaman mereka dapat mengingatkan bahwa tidak semua hal harus selesai dengan cepat.

2. Belajar bertahan ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana

Banyak lansia telah melewati berbagai perubahan dalam hidup: kehilangan pekerjaan, menghadapi masalah keluarga, berpindah tempat tinggal, kehilangan orang terdekat, hingga beradaptasi dengan perubahan zaman.

Pengalaman tersebut dapat menjadi pelajaran bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Dari sini, anak muda bisa belajar bahwa menghadapi kegagalan bukan hanya soal segera mencari jalan keluar, tetapi juga memberi diri sendiri waktu untuk menerima keadaan dan kembali melangkah.

3. Belajar menghargai hubungan dengan orang lain

Di era digital, seseorang bisa memiliki banyak teman di media sosial tetapi tetap merasa sendirian.

WHO menempatkan kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan sebagai salah satu bagian penting dari kemampuan fungsional dalam healthy ageing. Karena itu, hubungan dengan orang tua atau kakek-nenek sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai kewajiban keluarga.

Percakapan sederhana, makan bersama, atau menemani mereka berjalan bisa menjadi kesempatan untuk saling belajar.

Hubungan antargenerasi juga dapat membantu mengurangi prasangka berdasarkan usia atau ageism. WHO menyebut kontak antargenerasi sebagai salah satu pendekatan yang terbukti dapat membantu mengatasi ageism dan membangun pemahaman serta rasa saling menghormati antarusia.

4. Belajar bahwa hidup tidak berhenti ketika usia bertambah

Menjadi lansia bukan berarti seseorang tidak lagi memiliki aktivitas, keinginan, atau kontribusi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa penduduk berusia 60 tahun ke atas di Indonesia mencapai 11,97 persen pada 2025. Angka ini menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat Indonesia yang hidup dalam usia lanjut.

BPS juga secara khusus memotret kondisi lansia dari berbagai sisi, mulai dari kesehatan, pendidikan, potensi ekonomi hingga kondisi sosial.

Artinya, kehidupan lansia tidak seharusnya hanya dipandang dari sisi kebutuhan untuk dirawat.

Banyak lansia tetap ingin bekerja, berkegiatan, belajar, bertemu orang lain, dan berkontribusi sesuai kemampuan mereka.

5. Belajar beradaptasi dengan perubahan

Menariknya, justru lansia yang hidup paling lama mengalami perubahan zaman.

Mereka pernah hidup tanpa internet, tanpa telepon pintar, bahkan ketika berbagai layanan belum tersedia secara digital. Kini, sebagian dari mereka harus beradaptasi dengan pembayaran digital, aplikasi kesehatan, media sosial hingga layanan pemerintahan berbasis daring.

Dari sini, anak muda bisa belajar bahwa kemampuan beradaptasi bukan hanya milik generasi muda. Setiap generasi memiliki cara masing-masing untuk menghadapi perubahan.

6. Belajar bahwa sehat bukan sekadar bebas penyakit

WHO mendefinisikan healthy ageing bukan sekadar tidak memiliki penyakit, tetapi sebagai proses mengembangkan dan mempertahankan kemampuan fungsional yang memungkinkan seseorang tetap sejahtera di usia lanjut.

Karena itu, anak muda sebenarnya dapat belajar sejak sekarang. Menjaga kesehatan, tetap aktif bergerak, membangun hubungan sosial, menjaga kesehatan mental dan memiliki lingkungan yang mendukung bukanlah sesuatu yang baru diperlukan ketika seseorang memasuki usia 60 tahun. Kesehatan lansia merupakan hasil dari perjalanan hidup yang panjang. (lia)

***

Foto: Dua pria tertawa dan mengobrol di bangku kayu di luar ruangan, dengan sepeda vintage di dekatnya. (pexels.com/ Iqbal Syah Farezi)

***

 

belajar dari orangtua,Hari Lanjut Usia Internasional,pemuda lansia,lansia

ARTIKEL LAINNYA

Kemiskinan Lansia AS Naik, Usia 50-an Mulai Ikut Tertekan

Menjadikan Indonesia Bangsa yang 'Menang' di Era Aging Population

Bukan Sekadar Panjang Umur, Ini Arti Menua dengan Sehat Menurut WHO

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026