
GERIATRI.CO.ID - “Sudah makan belum?” mungkin terdengar seperti pertanyaan sederhana. Namun bagi lansia yang hampir selalu makan sendirian, waktu makan bisa kehilangan sesuatu yang penting: teman untuk berbagi.
Bagi sebagian lansia, makan bukan hanya soal memenuhi kebutuhan tubuh. Makan juga merupakan aktivitas sosial serta kesempatan untuk berbincang, tertawa, dan menikmati kebersamaan bersama keluarga.
Karena itu, ketika seseorang terus-menerus makan sendirian, dampaknya bisa lebih jauh daripada sekadar suasana makan yang terasa sepi.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa makan sendirian berkaitan dengan sejumlah masalah gizi pada lansia, termasuk nafsu makan yang lebih buruk, kualitas makanan yang lebih rendah, penurunan berat badan, hingga frailty.
Sebuah systematic review yang diterbitkan dalam jurnal Appetite pada 2026 menganalisis 24 penelitian mengenai lansia yang tinggal di komunitas. Sebagian besar penelitian menemukan bahwa lansia yang makan sendirian memiliki kualitas diet dan keragaman makanan yang lebih rendah, konsumsi buah, sayur serta daging yang lebih rendah, serta risiko penurunan berat badan dan frailty yang lebih tinggi.
Mengapa makan bersama bisa membuat lansia lebih tertarik makan? Ada istilah commensality, yaitu aktivitas makan bersama orang lain.
Kehadiran orang lain dapat membuat waktu makan menjadi lebih menyenangkan dan lebih lama. Percakapan dan suasana sosial juga dapat membuat seseorang lebih terdorong untuk makan.
Sebuah meta-analisis tentang social facilitation of eating menemukan bahwa makan bersama orang lain cenderung meningkatkan jumlah makanan yang dikonsumsi dibandingkan makan sendirian. Salah satu mekanismenya diduga berkaitan dengan suasana sosial dan durasi makan yang lebih panjang.
Pada lansia, hal ini menjadi semakin penting karena nafsu makan memang dapat menurun seiring bertambahnya usia.
Hubungan tersebut juga terlihat dalam penelitian yang secara khusus mengamati nafsu makan lansia.
Studi terhadap 818 orang berusia 70 tahun ke atas di Jepang menemukan bahwa kelompok dengan nafsu makan buruk lebih sering makan sendirian dibandingkan kelompok dengan nafsu makan baik. Setelah memperhitungkan sejumlah faktor lain, makan sendirian tetap berhubungan dengan kemungkinan nafsu makan yang buruk.
Penelitian yang lebih baru juga semakin memperkuat perhatian terhadap masalah ini. Systematic review dan meta-analisis yang mencakup 62 penelitian dari 24 negara dengan lebih dari 80.000 peserta memperkirakan prevalensi kehilangan nafsu makan pada lansia sekitar 29%. Makan sendirian termasuk salah satu faktor yang berhubungan dengan tingkat kehilangan nafsu makan yang lebih tinggi.
Namun, penting dicatat: makan sendirian tidak otomatis menyebabkan nafsu makan hilang.
Nafsu makan lansia dipengaruhi banyak hal, mulai dari penyakit, efek samping obat, masalah gigi dan mulut, depresi, kemampuan mengunyah atau menelan, hingga perubahan fisiologis akibat penuaan.
Ada hal lain yang perlu diperhatikan. Lansia yang sering makan sendirian mungkin juga mengalami kesepian atau berkurangnya interaksi sosial. Kondisi tersebut dapat berjalan beriringan dengan perubahan kebiasaan makan.
Sebuah studi pada lansia usia 70–75 tahun di Swedia menemukan bahwa frekuensi makan sendirian maupun pengalaman subjektif makan sendirian berkaitan dengan kesepian.
Sementara itu, tinjauan penelitian mengenai kesepian dan perilaku makan menemukan bahwa isolasi sosial dan kesepian sering berkaitan dengan pola makan yang kurang sehat, termasuk kualitas diet yang lebih rendah serta konsumsi buah dan sayuran yang lebih sedikit.
Bukan berarti keluarga harus selalu berada di rumah setiap waktu. Ada banyak cara sederhana untuk membuat waktu makan lebih terasa sebagai aktivitas bersama.
Misalnya, keluarga bisa mengusahakan satu kali makan bersama setiap hari, mengajak orang tua makan saat akhir pekan, atau sesekali menghubungi mereka melalui video call ketika sedang makan.
Jika memungkinkan, lansia juga dapat diajak mengikuti kegiatan makan bersama di lingkungan tempat tinggal, komunitas lansia, atau kegiatan sosial lainnya. Yang penting bukan sekadar memastikan makanan habis, tetapi membuat waktu makan menjadi pengalaman yang menyenangkan. (lia)
***
Foto: Ilustrasi
***
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri