Gigi Sudah Tidak Lengkap, Bagaimana Menjaga Nutrisi Lansia Tetap Terpenuhi?


Ketika kemampuan mengunyah menurun, lansia mungkin mulai menghindari makanan yang keras, alot atau sulit dikunyah.

2026-09-28T12:20

GERIATRI.CO.ID - Gigi yang mulai banyak tanggal sering membuat lansia memilih makanan yang lebih lunak. Masalahnya, jika pilihan makanan semakin terbatas, kebutuhan protein, vitamin, mineral, dan serat juga bisa ikut terabaikan.

Memasuki usia lanjut, kehilangan gigi bukan hal yang jarang terjadi. Namun, bukan berarti lansia yang giginya sudah tidak lengkap harus menerima begitu saja bahwa pola makannya akan semakin terbatas.

Justru, kondisi gigi perlu menjadi perhatian ketika keluarga menyusun menu untuk lansia.

Sebuah systematic review dan meta-analisis menemukan bahwa lansia yang kehilangan seluruh gigi atau tidak memiliki gigi yang cukup untuk berfungsi memiliki kemungkinan 21 persen lebih tinggi mengalami atau berisiko mengalami malnutrisi dibandingkan mereka yang memiliki fungsi gigi yang memadai.

Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa kehilangan gigi tetap berkaitan dengan risiko malnutrisi pada lansia. Studi 2026 terhadap lebih dari 3.700 orang berusia 60 tahun ke atas di Amerika Serikat menemukan bahwa kehilangan seluruh gigi merupakan penanda kerentanan nutrisi yang cukup kuat.

Gigi membantu seseorang mengunyah makanan. Ketika kemampuan mengunyah menurun, lansia mungkin mulai menghindari makanan yang keras, alot atau sulit dikunyah.

Daging, sayuran tertentu, buah yang renyah dan beberapa jenis kacang-kacangan misalnya, bisa terasa lebih sulit dimakan. Akibatnya, lansia bisa lebih sering memilih makanan yang mudah dikunyah. Jika tidak diatur dengan baik, pola tersebut dapat membuat variasi makanan semakin sedikit.

Masalahnya bukan sekadar jumlah gigi, tetapi juga kemampuan mengunyah. 

Sebuah umbrella review yang mencakup 16 systematic review dan lebih dari 500 ribu peserta menemukan bahwa gangguan mengunyah lebih kuat berkaitan dengan risiko malnutrisi dibandingkan sekadar jumlah gigi.

Ketika lansia kesulitan mengunyah, solusi yang sering terpikir adalah menghaluskan semua makanan. Padahal, makanan lunak tidak harus selalu berupa bubur. Keluarga dapat mempertahankan variasi makanan dengan mengubah tekstur dan cara memasaknya. Misalnya:

  • Daging dapat dicincang halus atau dimasak lebih lama hingga empuk.
  • Ikan dapat dipilih karena teksturnya relatif mudah dikonsumsi.
  • Telur dapat dibuat menjadi telur kukus atau telur orak-arik yang lembut.
  • Tempe dan tahu dapat dimasak hingga lunak.
  • Sayuran dapat dikukus atau dimasak sampai teksturnya mudah dikunyah.
  • Buah yang keras dapat dipilih dalam kondisi matang atau dipotong kecil-kecil.

Dengan begitu, lansia tetap mendapatkan beragam sumber zat gizi tanpa harus memaksakan makanan yang sulit dikunyah.

Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus adalah protein. Lansia membutuhkan asupan protein yang cukup untuk membantu mempertahankan massa dan fungsi otot. Jika makanan berprotein seperti daging, ikan atau sumber protein lainnya semakin jarang dikonsumsi karena sulit dikunyah, asupan protein bisa ikut menurun.

Penelitian pada lebih dari 2.000 lansia di Jepang menemukan bahwa pada orang dengan hanya 0–9 gigi tersisa, mereka yang tidak menggunakan prostesis gigi memiliki asupan protein lebih rendah. Penggunaan prostesis gigi dalam penelitian tersebut membantu mengurangi hubungan antara kehilangan gigi berat dan rendahnya asupan protein.

Karena itu, ketika menyusun makanan lunak untuk lansia, jangan hanya memikirkan apakah makanan mudah dikunyah, tetapi juga apakah kandungan gizinya cukup.

Jika kehilangan gigi sudah mengganggu kemampuan makan, konsultasi dengan dokter gigi dapat dipertimbangkan untuk mengetahui apakah lansia membutuhkan gigi tiruan atau perawatan lainnya.

Namun, penggunaan gigi palsu bukan berarti masalah nutrisi otomatis selesai.

Sebuah systematic review menemukan bahwa perbaikan gigi memang dapat meningkatkan kemampuan mengunyah, tetapi peningkatan status nutrisi tidak selalu konsisten jika tidak disertai edukasi atau intervensi pola makan. Sebaliknya, kombinasi perawatan prostetik dan saran diet menunjukkan potensi perbaikan asupan nutrisi.

Artinya, memperbaiki kemampuan mengunyah dan memperbaiki pola makan sebaiknya berjalan bersama. (lia)

***

Foto: pexels.com

***


 

gigi,gigi ompong,malnutrisi lansia,lansia

ARTIKEL LAINNYA

Yang Berjalan Sendirian, Hati-Hati Menyeberang Jalan ya

Singapura Masuk Era “Super-Lansia”, Ketika 1 dari 5 Warganya Berusia 65 Tahun ke Atas

Semangat Yuk, Para Lansia! Dimulai dengan Bergerak

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026