
Oleh dr. Fatihah "Kiki" Fikriyah
GERIATRI.CO.ID - Tahukah Anda, malnutrisi tidak selalu terjadi pada orang yang kurus? Bayangan yang sering muncul soal malnutrisi biasanya tubuh yang sangat kurus atau tulang yang menonjol, padahal kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja, termasuk lansia dengan berat badan normal, bahkan yang kelebihan berat badan sekalipun.
"Bapak saya makannya normal kok, tiga kali sehari, piringnya juga selalu habis." Kalimat semacam ini sering jadi alasan keluarga merasa cukup tenang, dan menganggap urusan gizi orang tua mereka sudah beres. Padahal, rutinitas makan yang terlihat baik-baik saja ini bisa menyembunyikan sesuatu yang berkembang pelan-pelan tanpa disadari: malnutrisi. Bukan karena tidak makan, tapi karena apa yang dimakan ternyata tidak lagi mencukupi kebutuhan tubuh yang sesungguhnya.
Angkanya jauh lebih tinggi dari yang biasa dikira. National Council on Aging (NCOA) di Amerika Serikat mencatat, sekitar satu dari dua lansia berisiko mengalami malnutrisi, dan di rumah sakit atau panti jompo angkanya bisa lebih tinggi lagi, lebih dari separuh lansia yang dirawat diperkirakan mengalami kondisi gizi yang buruk. The Lancet, dalam tinjauannya soal malnutrisi pada lansia, bahkan menyebut kondisi ini sebagai masalah yang sangat umum dan membebani sistem kesehatan, sosial, dan perawatan lanjut usia secara signifikan.
Bagian berikut mengulas kenapa frekuensi makan saja tidak cukup jadi jaminan, apa yang membuat nafsu makan lansia menurun secara alami, faktor-faktor tersembunyi yang jarang disadari keluarga, sampai langkah yang bisa dilakukan untuk mendeteksinya lebih awal.
Apakah Makan 3 Kali Sehari Sudah Cukup Menjamin Gizi Tercukupi?
Ini bagian yang paling sering disalahpahami. Secara teknis, malnutrisi terjadi kalau asupan energi atau nutrisi tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh, bisa karena kekurangan, tapi bisa juga karena kelebihan kalori yang tidak diimbangi keragaman nutrisi. Seseorang bisa makan tiga kali sehari secara rutin, tapi kalau menunya didominasi karbohidrat sederhana, rendah protein, dan minim sayur atau buah, kebutuhan protein, vitamin, dan mineral tetap tidak terpenuhi.
Jadi meski kalorinya cukup, bahkan berlebih, seseorang tetap bisa kekurangan nutrisi penting seperti protein, zat besi, atau vitamin B12. Sebagian ahli gizi menyebut fenomena ini sebagai paradoks kelaparan-dan-kegemukan, karena sumber kalorinya datang dari makanan yang padat energi tapi minim nutrisi. Kondisi ini terutama umum pada lansia dengan keterbatasan ekonomi atau akses makanan segar, yang cenderung mengandalkan makanan olahan murah dan tahan lama dibanding makanan segar yang lebih bergizi tapi lebih mahal dan cepat basi.
Nafsu Makan yang Menurun Secara Alami Seiring Usia
Ada fenomena yang oleh para peneliti disebut anorexia of aging, bukan gangguan makan seperti anoreksia nervosa, melainkan penurunan nafsu makan yang terjadi secara fisiologis seiring bertambahnya usia. Diperkirakan kondisi ini memengaruhi sekitar 30 persen lansia yang tinggal mandiri di komunitas, dan bisa mencapai 60 persen pada lansia yang dirawat di rumah sakit.
Penyebabnya cukup kompleks, melibatkan perubahan hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Kadar hormon kolesistokinin yang meningkat pada lansia membuat proses pengosongan lambung melambat, sehingga rasa kenyang bertahan lebih lama meski porsi makan yang masuk sebenarnya sedikit. Respons terhadap ghrelin, hormon yang biasanya memicu rasa lapar, justru melemah di usia lanjut. Ditambah lagi, indra penciuman dan pengecapan yang menurun membuat makanan terasa kurang menarik dibanding saat masih muda, banyak lansia melaporkan makanan favoritnya terasa "hambar" meski resepnya sama seperti dulu.
Faktor Lain yang Sering Tidak Disadari Keluarga
Sebuah studi di layanan kesehatan primer yang membandingkan lansia dengan dan tanpa malnutrisi menemukan, faktor-faktor berikut jauh lebih umum ditemukan pada kelompok yang malnutrisi: kebutuhan gizi yang meningkat akibat penyakit, nafsu makan yang buruk, kesulitan berbelanja kebutuhan sendiri, peradangan kronis, gangguan pencernaan, kanker, depresi, demensia, konsumsi banyak jenis obat sekaligus, dan riwayat rawat inap.
Polifarmasi jadi salah satu faktor yang sering luput dari perhatian. Banyak obat yang rutin dikonsumsi lansia, mulai dari obat tekanan darah, diabetes, sampai obat penenang, punya efek samping yang memengaruhi nafsu makan, mengubah rasa di mulut, atau mengganggu penyerapan nutrisi tertentu di usus. Demensia berkontribusi lewat jalur yang berbeda: lansia dengan gangguan memori bisa lupa sudah makan atau belum, lupa cara menyiapkan makanan, atau kehilangan kemampuan mengenali rasa lapar itu sendiri.
Faktor sosial juga berperan besar. Lansia yang mengalami kerapuhan sosial, istilah yang menggambarkan berkurangnya sumber daya sosial dan ekonomi di usia lanjut, terbukti dalam sebuah studi memiliki kemungkinan lebih dari dua kali lipat untuk tidak makan tiga kali penuh dalam sehari, yang pada akhirnya meningkatkan risiko malnutrisi.
Kenapa Deteksinya Sering Terlambat
Malnutrisi pada lansia berkembang bertahap, dan tanda-tandanya mudah disalahartikan sebagai "biasa saja karena sudah tua": badan yang mengecil, pakaian yang jadi longgar, energi yang menurun, atau luka yang lebih lama sembuh. Karena prosesnya pelan dan lansia sendiri sering tidak menyadari atau tidak melaporkan perubahan nafsu makannya, keluarga baru sadar setelah kondisinya cukup parah, biasanya setelah terjadi penurunan berat badan signifikan, infeksi berulang, atau rawat inap.
Ironisnya, justru karena lansia masih terlihat "makan seperti biasa," keluarga sering tidak curiga sama sekali sampai muncul tanda yang lebih jelas seperti kelemahan otot, mudah jatuh, atau daya tahan tubuh yang menurun drastis.
Apa yang Bisa Dilakukan
Penutup
Malnutrisi pada lansia jarang terjadi karena satu sebab tunggal. Biasanya ini hasil tumpukan dari penurunan nafsu makan yang alami, penyakit kronis, efek samping obat, keterbatasan sosial-ekonomi, sampai perubahan indra pengecap, yang semuanya berjalan pelan dan mudah luput dari perhatian selama rutinitas makan masih terlihat normal di permukaan. Justru karena itu, memperhatikan kualitas dan jumlah makanan yang benar-benar masuk, bukan sekadar jadwal makannya, jadi langkah paling penting untuk mendeteksi masalah ini sebelum berkembang lebih jauh.
*****
* Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis langsung. Kalau ada kekhawatiran soal penurunan berat badan, nafsu makan, atau kondisi gizi lansia di keluarga Anda, sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi untuk skrining dan penanganan yang tepat.
Daftar Pustaka
1. Dent, E., Wright, O.R.L., Woo, J., & Hoogendijk, E.O. (2023). Malnutrition in Older Adults. The Lancet, 401(10380), 951-966. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(22)02612-5
2. National Council on Aging (NCOA). 5 Malnutrition Facts You Probably Didn't Know. https://www.ncoa.org/article/5-malnutrition-facts-you-probably-didnt-know/
3. Potential Causes of Malnutrition in Older Adults in Primary Healthcare: A Cross-Sectional Study (DoMAP Model). PMC, National Institutes of Health. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC12702308/
4. Norman, K., Haß, U., & Pirlich, M. (2021). Malnutrition in Older Adults: Recent Advances and Remaining Challenges. Nutrients, 13(8), 2764. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8399049/
5. Social Frailty Is Associated With the Risk of Malnutrition Among Community-Dwelling Older Adults. PMC, National Institutes of Health. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7742136/
6. Landi, F., et al. Anorexia of Aging: Risk Factors, Consequences, and Potential Treatments. Nutrients. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4772033/
7. Malafarina, V., Uriz-Otano, F., Gil-Guerrero, L., & Iniesta, R. (2013). The Anorexia of Ageing: Physiopathology, Prevalence, Associated Comorbidity and Mortality. A Systematic Review. Maturitas, 74(4), 293-302. https://doi.org/10.1016/j.maturitas.2013.01.016
8. Appetite Loss and Anorexia of Aging in Clinical Care: An ICFSR Task Force Report. PMC, National Institutes of Health. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8898654/
9. Illinois Department on Aging. Malnutrition. https://ilaging.illinois.gov
10. WebMD (ditinjau tenaga medis). (2025). What to Know About Malnutrition in Older Adults. https://www.webmd.com
***
Foto: Ilustrasi (pexels.com)
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri