Minim Edukasi, Parkinson Kerap Terlambat Ditangani


Walau identik menyerang kelompok lansia, Parkinson sejatinya juga berpotensi dialami oleh mereka yang berada di usia produktif.

2026-09-25T07:34

GERIATRI.CO.ID - Pemahaman dan tingkat kepedulian masyarakat Indonesia terhadap penyakit Parkinson dinilai masih jauh dari kata memadai. Padahal, gangguan neurodegeneratif ini secara perlahan dapat merusak sistem saraf, merampas kemandirian, hingga memangkas kualitas hidup para senior dan penderitanya secara signifikan.

Ketua Dewan Pembina Sahabat Parkinson, Jody Koesmendro, mengungkapkan bahwa keterbatasan informasi kerap berujung pada keterlambatan diagnosis dan penanganan medis.

"Banyak penderita yang tidak menyadari bahwa mereka telah menunjukkan gejala Parkinson. Di sisi lain, pemahaman mengenai penyakit ini juga belum sepenuhnya merata di antara dokter spesialis saraf, sehingga proses terapinya sering kali belum maksimal," ungkap Jody dalam ajang Indonesia Parkinson Ecosystem Forum 2026, Kamis (24/9/2026).

Ancaman ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Mengutip riset dari jurnal ilmiah The BMJ, jumlah kasus Parkinson di seluruh dunia diperkirakan melonjak hingga 112 persen pada 2050 mendatang, dengan angka mencapai lebih dari 25 juta orang. Lonjakan ini menjadi alarm kewaspadaan bersama. Walau identik menyerang kelompok lansia, Parkinson sejatinya juga berpotensi dialami oleh mereka yang berada di usia produktif.

Masyarakat kerap menganggap Parkinson hanya sebatas tremor atau gemetar pada anggota tubuh. Padahal, manifestasi klinis penyakit ini sangat beragam dan berbeda pada tiap individu—mulai dari kekakuan otot kaki yang membatasi gerak tubuh, hingga gangguan pada kualitas suara.

Melihat kondisi tersebut, Sahabat Parkinson berkomitmen untuk hadir sebagai jembatan edukasi, khususnya bagi para pasien dan caregiver (pendamping lansia/pasien) hingga ke wilayah terpelosok.

Tantangan Distribusi Dokter dan Pentingnya Deteksi Dini

Penanganan Parkinson memerlukan kolaborasi interdisiplin ilmu kedokteran yang komprehensif. Ketua Pokja Movement Disorders Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (PERDOSNI), dr. Banon Sukoandari, Sp. N, menjelaskan bahwa Indonesia saat ini memiliki sekitar 2.700 dokter spesialis saraf.

Secara rasio matematis, angka ini terbilang cukup ideal, di mana satu dokter saraf menangani sekitar 114 pasien Parkinson. Namun, masalah utamanya terletak pada ketimpangan distribusi. Sebagian besar dokter spesialis masih terpusat di wilayah Pulau Jawa (terutama Jakarta) dan Sumatra. Oleh sebab itu, pemerataan tenaga medis dan peningkatan kapasitas klinis menjadi agenda mendesak yang harus diselesaikan.

Dari segi pembiayaan medis, kabar baik datang dari BPJS Kesehatan. Claim Advisor BPJS Kesehatan Cabang Jakarta Selatan, dr. Darmayanti Utami, menegaskan bahwa ketersediaan obat-obatan untuk penderita Parkinson sudah ditanggung penuh melalui skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Kendati demikian, tantangan terbesarnya saat ini adalah penguatan kapasitas deteksi dini di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Puskesmas dan klinik mandiri diharapkan mampu mengenali tanda-tanda awal Parkinson lebih cepat, sehingga pasien dapat segera dirujuk dan laju penurunan fungsi sarafnya bisa diperlambat sedini mungkin. (a2s)

***

Foto:  Ilustrasi (pexels.com)

parkinson,gejala parkinson,penyakit lansia,berita lansia

ARTIKEL LAINNYA

Jangan Salahkan Usia, 7 Kebiasaan Ini Bisa Membebani Jantung Lansia

Pralansia Kangen Iwan Fals? Boleh tuh

Bom Waktu Demografi Siap Hancurkan Masa Depan Kita

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026