
GERIATRI.CO.ID - Membangun panti werdha mungkin terlihat sederhana jika hanya dilihat dari sisi bangunan. Namun, di balik tempat tinggal yang nyaman bagi lansia, ada tanggung jawab besar untuk memastikan mereka mendapatkan perawatan, pendampingan, serta kehidupan yang layak setiap hari.
Hal tersebut juga dirasakan Dra. Andi Isma Riskiah Sumintapura, pemilik Panti Werdha Hajjah Hasmah Noor yang telah berdiri sejak 1989. Menurut Andi, tantangan dalam mendirikan dan menjalankan panti werdha bukan sekadar menyediakan tempat tinggal.
Tantangan yang lebih besar justru muncul setelah panti mulai beroperasi, yakni bagaimana memastikan seluruh kebutuhan lansia dapat terpenuhi secara berkelanjutan. “Bukan cuma soal bangun gedungnya saja, tapi soal bikin panti itu bisa jalan dan benar-benar layak buat lansia,” ujarnya.
Beberapa tantangan yang dihadapi saat membangun Panti Werdha Hajjah Andi Hasmah Noor yaitu:
1. Memastikan Dana Operasional Tetap Ada
Salah satu tantangan terbesar adalah persoalan pendanaan. Panti membutuhkan biaya yang terus berjalan untuk memenuhi berbagai kebutuhan lansia, mulai dari makanan, kebutuhan sehari-hari, kesehatan, hingga pemeliharaan fasilitas.
Di Panti Werdha Hajjah Hasmah Noor, biaya operasional dibantu melalui dana donasi. Sementara itu, para lansia yang tinggal di sana tidak dikenakan biaya. Kondisi tersebut membuat keberlanjutan dukungan menjadi hal yang sangat penting.
2. Mencari Pengurus yang Kompeten dan Sabar
Merawat lansia juga membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki keterampilan, tetapi juga kesabaran dan kepedulian.
Setiap lansia memiliki kondisi fisik, kebutuhan, kebiasaan, dan karakter yang berbeda. Karena itu, pengurus panti perlu memahami bagaimana mendampingi lansia dengan cara yang tepat.
Jumlah tenaga yang memadai juga menjadi bagian penting. Semakin banyak lansia yang dirawat, semakin besar pula kebutuhan akan tenaga yang mampu memberikan perhatian dan pendampingan secara optimal.
3. Regulasi dan Perizinan
Panti werdha juga harus berhadapan dengan berbagai persoalan administratif, regulasi, dan perizinan. Pengelola perlu memastikan keberadaan panti sesuai dengan ketentuan yang berlaku sekaligus mampu memberikan layanan yang layak bagi para penghuninya.
Artinya, membangun panti tidak berhenti ketika gedung selesai dibangun. Ada tanggung jawab untuk menjaga agar pengelolaan dan pelayanan tetap berjalan sesuai standar yang dibutuhkan lansia.
4. Mengubah Pandangan tentang Panti Werdha
Panti werdha juga masih menghadapi stigma di tengah masyarakat. Tidak sedikit orang yang memandang panti sebagai tempat “menitipkan” orang tua ketika keluarga sudah tidak ingin atau tidak mampu merawatnya.
Padahal, kenyataannya bisa jauh lebih kompleks. Sebagian lansia mungkin memang tidak lagi memiliki keluarga yang mampu merawat mereka. Ada pula keluarga dengan keterbatasan ekonomi yang membuat kebutuhan perawatan lansia sulit dipenuhi.
Karena itu, panti dapat menjadi salah satu pilihan ketika keluarga benar-benar tidak mampu memberikan perawatan yang dibutuhkan, dengan tetap mengedepankan kepentingan dan kesejahteraan lansia.
5. Menjaga Lansia Tetap Aktif dan Merasa Berarti
Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah menjaga kualitas hidup lansia. Lansia tidak hanya membutuhkan makanan, tempat tidur, dan pemeriksaan kesehatan. Mereka juga membutuhkan aktivitas, interaksi sosial, serta kesempatan untuk tetap melakukan hal-hal yang mereka sukai.
Di Panti Werdha Hajjah Andi Hasmah Noor, misalnya, lansia mengikuti senam, posyandu, pembinaan rohani, latihan angklung, hingga kegiatan keterampilan. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan fisik sekaligus memberikan ruang bagi lansia untuk tetap bersosialisasi dan menjalani hari dengan kegiatan yang bermakna.
Pada akhirnya, mendirikan panti werdha bukan hanya tentang menyediakan bangunan dan kamar bagi lansia. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana memastikan tempat tersebut benar-benar menjadi lingkungan yang aman, sehat, nyaman, dan manusiawi. Ada biaya yang harus dipenuhi, tenaga yang harus disiapkan, aturan yang harus dipatuhi, hingga kebutuhan emosional lansia yang tidak boleh diabaikan. (lia)
***
Foto: Panti Werdha dan Panti Asuhan Yayasan Hajjah Hasmah Noor (instagram)
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri