Mengurangi Nyeri pada Lansia dengan Penyakit Kronis


Karena itu, pengelolaan nyeri menjadi bagian penting dalam perawatan lansia, termasuk dalam layanan geriatri dan perawatan paliatif.

2026-07-07T12:38

GERIATRI.CO.ID - Nyeri merupakan salah satu keluhan yang paling sering dialami oleh lansia, terutama mereka yang hidup dengan penyakit kronis seperti osteoartritis, osteoporosis, diabetes, penyakit saraf, atau kanker. Meski sering dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan, nyeri bukanlah hal yang harus diterima begitu saja.

Menurut World Health Organization (WHO), nyeri yang tidak ditangani dengan baik dapat menurunkan kualitas hidup, membatasi aktivitas sehari-hari, mengganggu tidur, meningkatkan risiko depresi, bahkan menyebabkan lansia kehilangan kemandiriannya. 

Karena itu, pengelolaan nyeri menjadi bagian penting dalam perawatan lansia, termasuk dalam layanan geriatri dan perawatan paliatif.

Seiring bertambahnya usia, tubuh memang mengalami berbagai perubahan. Namun, bertambahnya usia tidak secara langsung menyebabkan nyeri. Rasa sakit biasanya muncul akibat penyakit atau kondisi tertentu, misalnya:

  • Osteoartritis (pengapuran sendi)
  • Osteoporosis yang menyebabkan patah tulang
  • Nyeri saraf akibat diabetes (neuropati diabetik)
  • Penyakit tulang belakang
  • Kanker
  • Penyakit pembuluh darah
  • Nyeri setelah stroke

Karena penyebabnya beragam, penanganan nyeri perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing lansia.

Menurut International Association for the Study of Pain (IASP), nyeri kronis adalah nyeri yang berlangsung atau berulang selama lebih dari tiga bulan. Pada lansia, kondisi ini dapat berdampak luas, antara lain:

  • Mengurangi kemampuan berjalan dan beraktivitas.
  • Meningkatkan risiko jatuh karena gerakan menjadi terbatas.
  • Menyebabkan gangguan tidur.
  • Menurunkan nafsu makan.
  • Memicu kecemasan atau depresi.
  • Menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Oleh karena itu, tujuan penanganan nyeri bukan hanya mengurangi rasa sakit, tetapi juga membantu lansia tetap aktif dan mandiri.

Berikut beberapa cara mengurangi nyeri pada lansia: 

Mengetahui Penyebab Nyeri

Langkah pertama adalah mencari penyebab nyeri melalui pemeriksaan oleh dokter. Penanganan akan berbeda tergantung penyebabnya. Misalnya, nyeri akibat osteoartritis memerlukan pendekatan yang berbeda dengan nyeri akibat neuropati diabetik.

Tetap Aktif Bergerak

Banyak lansia menghindari bergerak karena takut nyeri bertambah. Padahal, menurut WHO, aktivitas fisik yang disesuaikan dengan kemampuan dapat membantu mengurangi nyeri, menjaga kekuatan otot, meningkatkan kelenturan sendi, dan memperbaiki fungsi tubuh.

Aktivitas yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  • berjalan kaki,
  • senam lansia,
  • latihan peregangan,
  • latihan keseimbangan,
  • atau latihan kekuatan ringan sesuai anjuran tenaga kesehatan. 

Menjalani Fisioterapi

Fisioterapi dapat membantu mengurangi nyeri sekaligus meningkatkan kemampuan bergerak. Program latihan biasanya disesuaikan dengan kondisi masing-masing lansia, terutama bagi mereka yang mengalami osteoartritis, stroke, atau nyeri punggung kronis.

Menggunakan Obat Secara Tepat

Obat pereda nyeri dapat diberikan bila diperlukan, tetapi penggunaannya harus sesuai anjuran dokter. Lansia lebih rentan mengalami efek samping karena perubahan fungsi ginjal, hati, dan penggunaan beberapa obat sekaligus (polifarmasi).

Karena itu, jangan menambah dosis atau mengonsumsi obat pereda nyeri secara rutin tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Pendekatan Non-obat

WHO dan berbagai organisasi geriatri juga menganjurkan pendekatan nonfarmakologis sebagai bagian dari pengelolaan nyeri, seperti:

  • kompres hangat atau dingin sesuai penyebab nyeri,
  • teknik relaksasi,
  • latihan pernapasan,
  • aktivitas yang menyenangkan,
  • serta dukungan psikologis dan sosial.

Pendekatan ini dapat membantu mengurangi persepsi terhadap nyeri dan meningkatkan kenyamanan.

Keluarga memiliki peran besar dalam membantu lansia mengelola nyeri. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:

  • memperhatikan perubahan keluhan nyeri,
  • membantu lansia tetap aktif sesuai kemampuan,
  • memastikan obat diminum sesuai anjuran,
  • mengantar kontrol ke fasilitas kesehatan,
  • serta memberikan dukungan emosional.

Lansia terkadang enggan mengeluhkan rasa sakit karena takut dianggap merepotkan. Oleh karena itu, komunikasi yang terbuka sangat penting agar keluhan dapat diketahui sejak dini.

Segera periksakan lansia apabila:

  • nyeri muncul secara tiba-tiba dan sangat berat,
  • nyeri disertai demam atau pembengkakan hebat,
  • nyeri menyebabkan tidak mampu berjalan atau beraktivitas,
  • nyeri tidak membaik setelah pengobatan,
  • atau disertai penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

Dokter akan melakukan penilaian untuk menentukan penyebab dan memilih terapi yang paling sesuai. (lia)

penyakit pada lansia,penyakit lansia,nyeri,stroke,lansia sehat

ARTIKEL LAINNYA

Ingin Tetap Mandiri di Usia Tua? Mulailah Persiapkan Sejak Usia 40-an

Jepang Menua Lebih Cepat dari Dunia: Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia?

Tanda-Tanda Sarkopenia dan Awasi 3 Penyakit Ini

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026