
GERIATRI.CO.ID - Nyeri merupakan salah satu keluhan yang paling sering dialami oleh lansia, terutama mereka yang hidup dengan penyakit kronis seperti osteoartritis, osteoporosis, diabetes, penyakit saraf, atau kanker. Meski sering dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan, nyeri bukanlah hal yang harus diterima begitu saja.
Menurut World Health Organization (WHO), nyeri yang tidak ditangani dengan baik dapat menurunkan kualitas hidup, membatasi aktivitas sehari-hari, mengganggu tidur, meningkatkan risiko depresi, bahkan menyebabkan lansia kehilangan kemandiriannya.
Karena itu, pengelolaan nyeri menjadi bagian penting dalam perawatan lansia, termasuk dalam layanan geriatri dan perawatan paliatif.
Seiring bertambahnya usia, tubuh memang mengalami berbagai perubahan. Namun, bertambahnya usia tidak secara langsung menyebabkan nyeri. Rasa sakit biasanya muncul akibat penyakit atau kondisi tertentu, misalnya:
Karena penyebabnya beragam, penanganan nyeri perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing lansia.
Menurut International Association for the Study of Pain (IASP), nyeri kronis adalah nyeri yang berlangsung atau berulang selama lebih dari tiga bulan. Pada lansia, kondisi ini dapat berdampak luas, antara lain:
Oleh karena itu, tujuan penanganan nyeri bukan hanya mengurangi rasa sakit, tetapi juga membantu lansia tetap aktif dan mandiri.
Berikut beberapa cara mengurangi nyeri pada lansia:
Mengetahui Penyebab Nyeri
Langkah pertama adalah mencari penyebab nyeri melalui pemeriksaan oleh dokter. Penanganan akan berbeda tergantung penyebabnya. Misalnya, nyeri akibat osteoartritis memerlukan pendekatan yang berbeda dengan nyeri akibat neuropati diabetik.
Tetap Aktif Bergerak
Banyak lansia menghindari bergerak karena takut nyeri bertambah. Padahal, menurut WHO, aktivitas fisik yang disesuaikan dengan kemampuan dapat membantu mengurangi nyeri, menjaga kekuatan otot, meningkatkan kelenturan sendi, dan memperbaiki fungsi tubuh.
Aktivitas yang dapat dipertimbangkan antara lain:
Menjalani Fisioterapi
Fisioterapi dapat membantu mengurangi nyeri sekaligus meningkatkan kemampuan bergerak. Program latihan biasanya disesuaikan dengan kondisi masing-masing lansia, terutama bagi mereka yang mengalami osteoartritis, stroke, atau nyeri punggung kronis.
Menggunakan Obat Secara Tepat
Obat pereda nyeri dapat diberikan bila diperlukan, tetapi penggunaannya harus sesuai anjuran dokter. Lansia lebih rentan mengalami efek samping karena perubahan fungsi ginjal, hati, dan penggunaan beberapa obat sekaligus (polifarmasi).
Karena itu, jangan menambah dosis atau mengonsumsi obat pereda nyeri secara rutin tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Pendekatan Non-obat
WHO dan berbagai organisasi geriatri juga menganjurkan pendekatan nonfarmakologis sebagai bagian dari pengelolaan nyeri, seperti:
Pendekatan ini dapat membantu mengurangi persepsi terhadap nyeri dan meningkatkan kenyamanan.
Keluarga memiliki peran besar dalam membantu lansia mengelola nyeri. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:
Lansia terkadang enggan mengeluhkan rasa sakit karena takut dianggap merepotkan. Oleh karena itu, komunikasi yang terbuka sangat penting agar keluhan dapat diketahui sejak dini.
Segera periksakan lansia apabila:
Dokter akan melakukan penilaian untuk menentukan penyebab dan memilih terapi yang paling sesuai. (lia)
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri