
Geriatri.id - Jepang merupakan negara dengan populasi lansia yang tinggi, menurut Pusat Statistik Kesehatan Nasional pada Desember 2024. Okinawa yang masuk zona biru merupakan rumah bagi beberapa komunitas dengan umur terpanjang dan paling bahagia di dunia.
Namun, menurut laporan dari CNN, banyak orang lanjut usia (lansia) di Jepang mengalami kesulitan. Bahkan penjara wanita terbesar di Jepang kini menjadi rumah bagi banyak lansia.
CNN melaporkan jumlah narapidana berusia 65 tahun atau lebih meningkat hampir empat kali lipat dari pada periode 2003 - 2022.
Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia
Merasa diabaikan secara finansial dan sosial, banyak perempuan lansia mencari komunitas dan dukungan di penjara.
Salah satunya, Akiyo (nama samaran), seorang narapidana berusia 81 tahun yang menjalani hukuman karena mengutil makanan.
“Ada banyak orang baik di penjara ini,” ujar Akiyo kepada CNN.
“Mungkin hidup ini yang paling stabil bagi saya.”
Pendampingan yang ditawarkan penjara menjadi daya tarik bagi para perempuan lansia ini, selain makan teratur, layanan kesehatan gratis dan perawatan lansia.
“Bahkan ada yang bersedia membayar 20.000 atau 30.000 yen (130-190 dolar AS) sebulan (jika mereka bisa) tinggal di sini selamanya,” ungkap Takayoshi Shiranaga, petugas di Penjara Wanita Tochigi di utara Tokyo saat wawancara dengan CNN pada September.
“Ada orang yang datang ke sini karena kedinginan, atau karena lapar,” kata Shiranaga.
Mereka yang jatuh sakit bisa mendapatkan pengobatan gratis selama berada di penjara.
"Tapi begitu keluar, mereka harus membayar sendiri biayanya, sehingga beberapa orang ingin tinggal di sini selama mungkin.”
Melakukan kejahatan untuk bertahan hidup
Sebagian perempuan lansia melakukan kejahatan untuk bertahan hidup.
Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) melaporkan 20% orang berusia di atas 65 tahun di Jepang hidup dalam kemiskinan.
Pencurian adalah kejahatan paling umum di kalangan tahanan lansia.
Pada tahun 2022, lebih dari 80% tahanan wanita lansia dipenjara karena mencuri.
Ketika berusia 60-an, Akiyo dipenjara karena mencuri makanan. Hampir 20 tahun kemudian, ia dipenjara setelah mengutil karena putus asa.
Selain tidak punya uang, Akiyo juga tidak ada dukungan keluarga. Tepat sebelum dia dipenjara, putranya yang berusia 43 tahun mengatakan kepadanya, “Saya harap kamu pergi saja.”
“Saya merasa seperti tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi,” katanya kepada CNN.
“Saya berpikir,'Tidak ada gunanya saya hidup,' dan 'Saya hanya ingin mati.'”
Narapidana lainnya, Yoko (nama samaran), 51 tahun, telah dipenjara lima kali karena tuduhan narkoba dalam 25 tahun terakhir. Ia mengatakan populasi lansia di penjara semakin banyak.
“(Beberapa orang) sengaja melakukan hal-hal buruk dan tertangkap sehingga mereka bisa masuk penjara lagi, jika mereka kehabisan uang,” kata Yoko.
Penjara adalah satu-satunya tempat untuk mendapatkan dukungan
Kurangnya pengasuh, terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan, dan ditinggalkan anggota keluarga - menambah daya tarik bagi para perempuan lansia - terutama bagi para pelaku berulang seperti Akiyo.
Begitu mereka keluar dari penjara, tidak ada dukungan untuk kembali ke masyarakat, kata penjaga penjara lainnya, Megumi, yang hanya menyebutkan nama depannya.
“Bahkan setelah mereka dibebaskan dan kembali ke kehidupan normal, mereka tidak memiliki siapa pun yang menjaga mereka,” katanya kepada CNN.
“Ada juga orang yang ditinggalkan keluarganya setelah berulang kali melakukan kejahatan, mereka tidak punya tempat tinggal.”
Pada tahun 2021, Kementerian Kesejahteraan Jepang mengatakan narapidana lansia yang menerima dukungan setelah keluar dari penjara memiliki kemungkinan lebih kecil melakukan pelanggaran berulang dibanding mereka yang tidak menerima bantuan.
CNN melaporkan Kementerian memperkuat upaya intervensi dini dan pusat komunitas untuk membantu para lansia.
Program ini merupakan tambahan dari program yang diluncurkan Kementerian Kehakiman Jepang.
Program ini memberikan pendidikan tentang hidup mandiri, pemulihan penyalahgunaan narkoba, dan mengarahkan hubungan keluarga.
Jepang juga mempertimbangkan usulan untuk membuat tunjangan perumahan yang lebih mudah diakses para lansia.
Program ini diujikan di 10 kota untuk membantu para lansia yang tidak memiliki kerabat dekat.
Akiyo menyelesaikan hukumannya pada Oktober 2024. Sebulan sebelum pembebasannya, ia mengatakan kepada CNN dirinya “sangat malu dan takut menghadapi putranya.”
“Sendirian adalah hal yang sangat sulit, dan saya merasa malu karena berakhir dalam situasi ini,” tambah Akiyo.
Baca Juga: Tanya Jawab Masalah Kesehatan Jantung
“Saya benar-benar merasa jika saya memiliki kemauan lebih kuat, saya bisa menjalani kehidupan yang berbeda, tapi saya sudah terlalu tua untuk melakukan apa pun sekarang,” tandasnya.***
*Ilustrasi - Banyak lansia di Jepang memilih hidup di penjara.(Pexels)
Video Senior Podcast
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri