Minuman Manis: Kenikmatan yang Menyimpan Bahaya Mematikan  


Berita Lansia - Minuman manis sering kali menjadi pilihan favorit banyak orang. Namun, di balik kenikmatan itu, minuman berpemanis menyimpan bahaya yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan.

2025-01-23 00:14:54

Geriatri.id - Minuman manis sering kali menjadi pilihan favorit banyak orang. Namun, di balik kenikmatan itu, minuman berpemanis menyimpan bahaya yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan.  

Dilansir dari Science Alert, 18 Januari 2025, konsumsi rutin minuman manis seperti soda, minuman buah, dan punch memiliki konsekuensi serius. 

Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Medicine mengungkapkan, minuman manis bertanggung jawab atas jutaan kasus penyakit dan kematian setiap tahun.  

Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia

Angka yang mengkhawatirkan

Penelitian yang dilakukan para ahli dari Tufts University AS menunjukkan, konsumsi minuman manis berkontribusi pada 1,2 juta kasus penyakit kardiovaskular baru setiap tahun, 2,2 juta kasus diabetes tipe 2 baru setiap tahun, 80.000 kematian akibat diabetes tipe 2 dan 258.000 kematian akibat penyakit kardiovaskular.   

Di Afrika Selatan, sekitar 28% kasus diabetes baru dan 15% kasus penyakit jantung baru dikaitkan langsung dengan konsumsi minuman manis. 

Wilayah lain seperti Amerika Latin dan Karibia juga mencatat jumlah kasus penyakit jantung yang tinggi.

Sementara Afrika sub-Sahara menduduki peringkat atas untuk diabetes tipe 2.  

Dampak fisiologis yang berbahaya

Menurut ahli jantung Adedapo Iluyomade dari Baptist Health Miami Cardiac & Vascular Institute, gula dalam minuman manis diserap tubuh dengan cepat, menyebabkan lonjakan glukosa dan insulin. 

Kondisi ini mendorong penumpukan lemak visceral, resistensi insulin, disfungsi metabolisme, hipertensi dan kolesterol tinggi serta peradangan kronis.   

Efek tersebut meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.  

Fokus pada negara berkembang


Ahli gizi Tufts University, Dariush Mozaffarian, menyoroti negara berkembang menjadi sasaran pemasaran besar-besaran produk minuman manis. 

"Komunitas-komunitas ini sering kali tidak siap menghadapi dampak kesehatan jangka panjang," ujarnya.  

Ketidaksiapan ini, ditambah kurangnya edukasi dan akses ke layanan kesehatan memadai, memperburuk dampak konsumsi minuman manis di wilayah berpenghasilan menengah ke bawah.  

Solusi dan rekomendasi  

Para ahli merekomendasikan pembatasan konsumsi minuman manis hingga kurang dari satu porsi per minggu. 

Diet berbasis makanan utuh seperti Diet Mediterania dianggap dapat membantu mengimbangi dampak negatif gula tambahan.  

Iluyomade menekankan pentingnya intervensi global berbasis bukti untuk mengurangi konsumsi minuman manis, terutama di negara berkembang, guna mencegah lebih banyak korban akibat diabetes dan penyakit jantung.  

Minuman manis mungkin terasa menyenangkan di lidah, tetapi bahayanya tak dapat diabaikan. 

Baca Juga: Tanya Jawab Masalah Kesehatan Jantung

Dengan edukasi dan perubahan pola konsumsi, diharapkan ancaman kesehatan akibat minuman manis dapat ditekan. Saatnya memilih dengan bijak demi kesehatan jangka panjang.***  

*Ilustrasi - Bahaya mengonsumsi minuman manis.(Pixabay)

Video Senior Podcast


ARTIKEL LAINNYA

Lansia Jualan di TikTok dan Instagram: Baik atau Buruk?

Ini Destinasi Wisata yang Nyaman untuk Semua Generasi

"Tim Transportasi" Darah yang Wajib Kita Jaga Keseimbangannya

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026